Ringkasan Berita:
- Anita Nur Laili sempat putus sekolah selama setahun karena keterbatasan ekonomi keluarga.
- Program Sekolah Rakyat membuka kembali peluangnya melanjutkan pendidikan secara gratis.
- Seluruh kebutuhan siswa, mulai seragam hingga laptop, ditanggung pemerintah.
- Program Sekolah Rakyat ditargetkan memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan berasrama.
Blitar (beritajatim.com) – Langkah kaki harus melewati gang sempit di kawasan RT 02/RW 13 Jalan Jawa, Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar, untuk sampai ke rumah sederhana milik Anita Nur Laili. Di dinding pintu masuk rumah itu masih menempel stiker bertuliskan Keluarga Kurang Mampu Penerima Bantuan Sosial Beras Sejahtera Daerah (Rastrada).
Di ruang tamu yang tak begitu luas, tumpukan pakaian pelanggan tersusun rapi di atas meja. Lipatan demi lipatan itu menjadi saksi perjuangan sang ibu yang setiap hari bekerja sebagai buruh setrika kiloan demi menghidupi keluarganya.
Di rumah sederhana itulah Anita tinggal bersama keluarganya. Lulusan SMPN 8 Kota Blitar tahun 2025 itu terpaksa mengubur impiannya mengenakan seragam putih abu-abu. Selama setahun terakhir, ia memilih bekerja menjaga stan es teh di kawasan Taman Kebon Rojo dengan upah Rp800 ribu per bulan yang seluruhnya diserahkan kepada orang tuanya.
Kini, harapan itu kembali tumbuh setelah ia mengetahui adanya program Sekolah Rakyat.
“Sempat berhenti sekolah belum lanjut ke SMA karena terbentur ekonomi keluarga. Sedih, tapi tetap sabar, semoga tahun depan bisa melanjutkan kalau ada rezeki. Alhamdulillah, sekarang ada Sekolah Rakyat,” ujar Anita saat ditemui di rumahnya, Rabu (1/7/2026).
Bagi Anita, Sekolah Rakyat bukan sekadar kesempatan kembali belajar, tetapi jalan untuk mengubah masa depan keluarganya. Ia mengaku mantap melanjutkan pendidikan karena seluruh biaya ditanggung pemerintah.
“Karena tentunya gratis, selain itu orang tua nantinya juga masih akan dapat bantuan. Alhamdulillah, saya terbiasa berusaha disiplin, dengan bangun pagi, ibadah, hingga bantu-bantu ibu,” katanya.
Di samping Anita, sang ibu, Uswatun Chasanah, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Sejak Anita masih duduk di bangku taman kanak-kanak, ia bekerja sebagai buruh setrika dengan upah sekitar Rp2.500 per kilogram pakaian. Jika sedang ramai pelanggan, penghasilannya hanya sekitar Rp50 ribu per hari.
Sementara sang suami bekerja sebagai buruh tani yang menggarap sawah milik orang lain.
Perempuan yang memiliki tiga anak itu masih mengingat betul momen ketika harus meminta putrinya menunda sekolah karena keterbatasan biaya.
“Sebagai ibu, rasanya trenyuh. Dulu memang pengen ke pondok atau sekolah swasta, tapi saya cari informasi memang butuh biaya banyak dan saya enggak mampu. Akhirnya saya tuturi, ‘Tahun depan kalau ada rezeki, sekolah ya’,” kenangnya.
Kini, kesedihan itu berubah menjadi rasa syukur.
“Dengan Sekolah Rakyat ini saya sangat-sangat terbantu sekali, saya pengen pendidikan anak tetap lanjut. Saya benar-benar bersyukur, terlebih semuanya dikasih ke anak. Untuk anakku Anita, ndhuk mugo-mugo dadi anak sing kasil (semoga menjadi anak yang berhasil),” ucap Uswatun.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Sananwetan, Irma Ayu Widayanti, menjelaskan seluruh kebutuhan siswa selama tinggal di asrama akan dipenuhi pemerintah.
“Fasilitas yang didapat anak paket seragam lengkap enam macam, sepatu tiga pasang, tas, buku, laptop, hingga pakaian harian difasilitasi. Bahkan keperluan pribadi seperti sabun mandi, alat cuci, dan alat salat semua komplet,” paparnya.
Menurut Irma, Sekolah Rakyat juga menerapkan pendekatan pendidikan berbasis potensi individu. Setiap siswa akan menjalani pemeriksaan kesehatan serta pemetaan bakat melalui DNA Talent agar proses pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Kita ada cek kesehatan dan cek DNA talent untuk melihat potensi anak di numerik atau linguistik agar diarahkan sesuai bakatnya. Pendidikan karakter yang dibentuk sangat mencegah bullying. Ketika anak fokus belajar di sekolah, keluarga di rumah juga diberi bantuan ekonomi atau rehab rumah,” jelasnya.
Program Sekolah Rakyat merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Program ini menjamin seluruh biaya pendidikan mulai jenjang SD, SMP hingga SMA, sekaligus memberikan dukungan ekonomi kepada keluarga siswa.
Di Kota Blitar, pelaksanaan program tersebut terus dipercepat. Kepala Dinas Sosial Kota Blitar, Eka Atikah, mengatakan proses penjaringan calon siswa dilakukan menggunakan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional.
“Dari Kemensos semula ada data 6.303 anak di desil 1 dan 2. Setelah dilakukan pemadanan dengan Dinas Pendidikan, ketemu 1.700 anak usia 7-21 tahun yang sedang dijangkau oleh pendamping PKH,” ujarnya.
Pada tahap awal, Sekolah Rakyat Kota Blitar akan menerima sekitar 270 siswa.
“Target awal 270 anak di angkatan pertama. Di sana mereka dilatih disiplin sehari-hari dan membangun kepercayaan diri. Pendekatannya lebih personal, bakat minat digali agar mereka nyaman dan mampu keluar dari lingkaran kemiskinan,” imbuh Eka.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka kemiskinan Kota Blitar pada 2025 berada di level 6,6 persen atau sekitar 9.690 jiwa. Meski lebih rendah dibanding rata-rata Jawa Timur maupun nasional, ribuan warga masih hidup di bawah garis kemiskinan sehingga rentan mengalami putus sekolah akibat keterbatasan biaya.
Karena itu, Pemerintah Kota Blitar menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Sekolah Rakyat.
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menegaskan pendidikan merupakan hak dasar setiap anak yang harus dijamin negara.
“Ini program luar biasa yang menyentuh langsung masyarakat miskin ekstrem agar putra-putrinya tetap wajib mengenyam pendidikan. Pendidikan adalah layanan dasar dan hak anak,” tegasnya.
Mas Ibin, sapaan akrabnya, menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah daerah melakukan jemput bola ke setiap kelurahan agar tidak ada anak dari keluarga miskin yang tertinggal.
“Kami jemput bola langsung dengan kunjungan ke tiap kelurahan karena ini peluang bagi warga desil 1 dan 2 yang harus dimanfaatkan. Sangat sayang jika dilewatkan karena sekolah ini gratis dengan fasilitas sangat lengkap, dan tidak hanya anaknya yang difasilitasi, tapi ekonomi keluarganya juga dibantu,” tuturnya.
Saat ini, pembangunan Sekolah Rakyat di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, terus dikebut menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. Sejumlah ruang kelas telah memasuki tahap penyelesaian akhir, lengkap dengan bangku belajar yang mulai tertata rapi.
Dalam hitungan pekan, bangunan itu akan menjadi tempat Anita kembali mengenakan seragam sekolah setelah satu tahun bekerja demi membantu orang tuanya. Dari ruang kelas itulah, mimpi seorang anak buruh setrika untuk mengubah masa depan keluarganya kembali menemukan jalannya. [owi/beq]






