Ringkasan Berita:
- IHSG terkoreksi tajam 8,69 persen sepanjang perdagangan 2-5 Juni 2026.
- Rebalancing FTSE Russell, inflasi di atas ekspektasi, dan rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS menjadi pemicu utama tekanan pasar.
- Investor asing mencatat net foreign sell Rp7,4 triliun di pasar reguler dalam sepekan.
- IPOT merekomendasikan saham TINS, CUAN, KETR, serta ETF XIHD untuk dicermati pada perdagangan 8-12 Juni 2026.
Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sebesar 8,69 persen sepanjang periode perdagangan 2-5 Juni 2026. Pelemahan tersebut terjadi di tengah akumulasi tekanan dari berbagai sentimen domestik maupun global yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia.
Sentimen negatif utama berasal dari keputusan rebalancing indeks FTSE Russell yang mengeluarkan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, GOTO, dan NCKL tanpa adanya penambahan saham baru. Kondisi tersebut memicu forced selling yang terkonsentrasi dan mempercepat arus keluar dana asing.
Data menunjukkan investor asing mencatat net foreign sell sebesar Rp7,4 triliun di pasar reguler selama sepekan perdagangan.
Tekanan pasar semakin berat setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan atau lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat yang memperkuat kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan domestik.
“Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi oleh aliran dana domestik, menjadikan pekan ini sebagai salah satu yang paling berat bagi IHSG dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah.
Dari sisi global, pasar saham Amerika Serikat juga mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Nasdaq Composite memimpin pelemahan dengan turun 4,18 persen ke level 25.709, menjadi koreksi harian terdalam sejak gejolak tarif pada April 2025.
Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 2,64 persen dan Dow Jones turun 1,35 persen.
Tekanan terutama datang dari sektor semikonduktor setelah Broadcom gagal menaikkan proyeksi bisnis cip kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut memicu aksi ambil untung pada sejumlah saham teknologi besar, termasuk Marvell yang turun 16 persen, Micron 13 persen, serta Intel dan AMD yang masing-masing melemah sekitar 11 persen.
Menurut Hari, sentimen pasar juga tertekan oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan Non Farm Payrolls (NFP) Mei mencapai 172.000, jauh di atas konsensus pasar sebesar 80.000.
“Sentimen semakin tertekan oleh rilis NFP Mei yang jauh melampaui ekspektasi, mendorong yield UST 10 tahun menembus 4,5 persen dan probabilitas kenaikan Fed Funds Rate akhir tahun melonjak ke 72,7 persen, menjadikannya angin kepala bagi growth stocks,” jelasnya.
Ia menambahkan sebagian aksi jual saham teknologi juga dikaitkan dengan persiapan investor menghadapi penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) SpaceX yang dijadwalkan melantai di Nasdaq pada 12 Juni 2026.
Menurutnya, IPO tersebut berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal dengan target valuasi mencapai 1,75 triliun dolar AS dan potensi penghimpunan dana sebesar 75 miliar dolar AS.
Memasuki perdagangan 8-12 Juni 2026, pasar global akan mencermati sejumlah data penting seperti inflasi Amerika Serikat (CPI) Mei yang dirilis 10 Juni, data Producer Price Index (PPI) pada 11 Juni, serta laporan keuangan Oracle dan Adobe.
Di dalam negeri, investor akan menunggu rilis data cadangan devisa Mei 2026, indeks kepercayaan konsumen, serta data penjualan ritel yang dinilai menjadi indikator penting kondisi daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.
Hari menilai tekanan terhadap IHSG masih cukup besar karena kombinasi inflasi yang tinggi, pelemahan rupiah, serta arus keluar dana asing yang secara kumulatif mencapai Rp60,8 triliun sepanjang tahun berjalan.
“Secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat memasuki pekan 8–12 Juni 2026. Momentum bearish saat ini masih dominan dengan struktur tren menurun yang belum menunjukkan sinyal reversal yang valid,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, IPOT menyarankan investor mengutamakan strategi defensif dengan menjaga likuiditas dan mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi kecil maupun menengah yang memiliki tingkat likuiditas rendah.
Bagi investor jangka menengah, saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan consumer staples dinilai mulai menarik karena valuasinya telah turun ke level yang relatif atraktif secara historis.
Untuk perdagangan pekan 8-12 Juni 2026, IPOT merekomendasikan tiga saham dan satu produk ETF yang dinilai memiliki peluang menarik.
Saham pertama adalah PT Timah Tbk (TINS) dengan harga masuk di level Rp3.150, target harga Rp3.340, serta batas risiko (stop loss) di Rp3.050.
Saham kedua adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan harga masuk Rp675, target harga Rp715, dan stop loss Rp655.
Rekomendasi ketiga adalah PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) dengan harga masuk Rp560, target harga Rp600, serta stop loss Rp540.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan produk reksa dana berbentuk Exchange Traded Fund (ETF) Premier ETF IDX High Dividend 20 atau XIHD.
Produk tersebut dinilai menarik karena mayoritas portofolionya diisi saham-saham berdividen yang berpotensi mendapatkan sentimen positif di tengah musim pembagian dividen emiten pada tahun ini. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, ETF berbasis saham dividen juga dinilai dapat menjadi alternatif investasi yang lebih defensif sekaligus tetap menawarkan peluang imbal hasil. [beq]







