Mojokerto (beritajatim.com) – Indeks Fluktuasi Harga (IFH) Kabupaten Mojokerto pada November 2025 tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya pergerakan harga komoditas yang relatif meningkat dibanding bulan sebelumnya, meski dalam skala yang masih terkendali.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi menjelaskan, bahwa hanya terdapat satu kelompok komoditas yang memberikan andil kenaikan harga, yakni kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil penurunan harga di bulan yang sama.
“Sembilan kelompok lainnya terpantau stagnan. Tidak ada andil terhadap kenaikan maupun penurunan harga,” ungkapnya, Senin (8/12/2025).
Kelompok yang stagnan tersebut meliputi pakaian dan alas kaki, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kesehatan, transportasi, informasi dan komunikasi, rekreasi dan budaya, pendidikan serta penyediaan makanan dan minuman/restoran.
Bappeda Kabupaten Mojokerto juga mencatat bahwa laju IFH kumulatif Januari–November 2025 mencapai 1,89 persen. Sementara laju IFH year-on-year (YoY) November 2024–November 2025 berada pada angka 2,28 persen.
“Secara kumulatif maupun YoY, kondisi stabilitas harga di Kabupaten Mojokerto masih dalam kategori baik. Pergerakannya terjaga dan tidak menunjukkan gejolak signifikan,” katanya.
Bambang mengungkapkan bahwa komoditas yang mendorong kenaikan IFH November didominasi oleh emas perhiasan, disusul bawang merah, minyak goreng, cabai merah, tempe, tomat, telur ayam ras, kacang panjang, wortel, dan sawi hijau. Menurutnya, kenaikan harga emas dipengaruhi dinamika global.
“Harga emas dunia naik cukup tajam akibat tingginya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat turut memperkuat tekanan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memperbesar dampak kenaikan harga internasional ke pasar domestik, termasuk Mojokerto. Kondisi tersebut menyebabkan harga emas perhiasan di tingkat konsumen meningkat signifikan.
Di sisi lain, komoditas yang memberi kontribusi terbesar terhadap penurunan IFH adalah beras. Penurunan ini dipicu melimpahnya pasokan dari masa panen serta intervensi pemerintah daerah melalui program Pasar Murah.
“Pasar Murah yang kami gelar memungkinkan masyarakat memperoleh beras dengan harga lebih rendah. Secara otomatis, pedagang menyesuaikan harga di pasaran agar tetap kompetitif,” ujarnya.
Selain itu, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Badan Urusan Logistik (BULOG) ikut memperkuat stok dan menekan harga di tingkat konsumen. Kombinasi berbagai upaya tersebut berhasil menciptakan tekanan penurunan harga pada komoditas beras selama November.
Bambang menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Mojokerto akan terus menjaga stabilitas harga melalui koordinasi lintas sektor, termasuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Ia juga menambahkan bahwa pemantauan IFH bulanan menjadi instrumen penting untuk memastikan kebijakan pengendalian harga dapat tepat sasaran.
“Kami memastikan langkah mitigasi dan intervensi tetap berjalan agar masyarakat terlindungi dari gejolak harga yang tidak diinginkan,” tegasnya. [tin/aje]






