Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Minta Izin Autopsi Santri Gontor Korban Penganiayaan, Polisi ke Palembang

Salah satu pintu masuk ke pondok pesantren darussalam Gontor (PMDG)

Ponorogo (beritajatim.com) – Sejak viral pada Minggu (4/9) malam terkait dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian kepada salah satu santri di Pondok Gontor, Satreskrim Polres Ponorogo terus melakukan pemeriksaan maraton terhadap saksi-saksi. Hingga saat ini, setidaknya ada 12 orang yang sudah dimintai keterangannya oleh penyidik di Mapolres Ponorogo.

“Sudah ada 12 saksi yang sudah kita periksa. Sampai hari ini juga masih kita lakukan pemeriksaan lagi,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo, Rabu (7/9/2022).

Guna mengusut tuntas tindak pidana dugaan penganiayaan santri ini, Kapolres membentuk tim khusus. Tim khusus ini sudah dibentuk dari awal-awal kejadian itu viral di berbagai media di Indonesia. Tim khusus ini dibagi beberapa tim, untuk melancarkan pengusutan kasus tersebut.

“Kita juga dibantu komunikasi oleh Polda. Dengan ini bisa bekerja dengan ceoat, terkoordinir dan berkolaborasi dengan baik,” katanya.

Tim-tim ini mempunyai tahapan untuk bagi tugas. Ada yang berangkat ke Palembang di Sumatera Selatan (Sumsel), ada juga yang melakukan lidik. Yang pasti 20 orang di jajaran satreskrim Polres Ponorogo, dibagi beberapa tim.

Di Palembang, petugas kepolisian ingin meminta izin terhadap ibu korban. Permintaan izin ini, tentunya untuk melakukan autopsi di tubuh korban. Selain itu, juga akan dilakukan pengambilan berita acara atau kelengkapan berkas lainnya.

“Ada yang ke Palembang, untuk meminta izin dilakukan autopsi kepada korban,” katanya.

Diceritakan sebelumnya, olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan di Pondok Gontor kemarin (6/9), Satreskrim Polres Ponorogo juga mengamankan sejumlah barang bukti. Barang bukti yang diamankan itu, tentunya terkait dengan dugaan penganiayaan yang berujung pada kematian salah satu santri di pondok tersebut. Barang bukti tersebut meliputi pentungan, air mineral, minyak kayu putih, hingga becak. Tidak dijelaskan secara jelas barang bukti pentungan itu digunakan untuk apa.

Dari keterangan sejumlah saksi, polisi menduga penganiayaan kepada santri oleh rekannya tersebut dipicu kesalahpahaman. Yakni terkait kekurangan perlengkapan alat, yang dipinjam saat perkemahan Kamis-Jumat (Perkajum).

“Barang bukti yang diamankan, ada pentungan, air mineral, minyak kayu putih dan becak,” kata AKBP Catur.

Berdasarkan keterangan saksi dari beberapa tenaga kesehatan dan prarekonstruksi yang dilakukan kemarin, Catur menyebut bahwa korban usai dianiaya sempat dilarikan ke IGD rumah sakit yang berada di lingkungan pondok.

Namun, saksi menyebut bahwa korban sudah dalam keadaan meninggal dunia saat dibawa ke IGD rumah sakit. Korban santri asal Palembang itu, sudah meninggal di TKP.

“Dari prarekonstruksi itu, korban sempat dibawa ke IGD rumah sakit di lingkungan pondok, namun ternyata sudah dalam keadaan meninggal,” katanya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev