Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Dugaan Kekerasan Seksual di SPI, Pengacara: Beli Bisa, Kenapa Harus ke Siswa

Recky Bernadus Surupandy

Surabaya (beritajatim.com) – JE, Pendiri Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Batu menyanggah habis-habisan dugaan kekerasan seksual yang ditudingkan kepadanya. Melalui kuasa hukumnya Recky Bernadus Surupandy, menyatakan bahwa pihaknya terus membuktikan bahwa apa yang ditudingkan pihak-pihak terkait pada kliennya adalah tidak benar. Recky juga tak segan akan melakukan upaya hukum pidana pada pihak-pihak yang memberikan statemen tak benar.

Hal yang disoal oleh Recky adalah terkait jumlah korban yang disebut-sebut mencapai puluhan orang. Namun faktanya yang melaporkan ke Polda Jatim hanya satu orang yakni SDS berusia 28 Tahun dan Lulus dari SPI pada Tahun 2011.

 

“SDS (ini) satu-satunya pelapor dalam kasus dugaan Tindak Pidana Persetubuhan dan atau Pencabulan terhadap anak sebagaimana Laporan Polisi Nomor: LPB/326/V/RES.1.24/2021/UM/SPKT Polda Jatim tanggal 29 Mei 2021, “ungkap Recky kepada wartawan, Selasa (22/6/2021).

Untuk terlapor sendiri, lanjut Recky, pihaknya meyakini tidak melakukan apa yang dituduhkan pelapor. Sebab, terlapor mempunyai hubungan yang harmonis dan kedudukan status sosialnya sangat terhormat. “Kalau ngomong kasarannya mau seperti itu, beli kan bisa kenapa harus ke siswa,” ujarnya.

Dijelaskan Recky, SDS tercatat sebagai murid dari Sekolah SPI terhitung sejak tahun 2008 hingga lulus sekolah tahun 2011. Kemudian, setelah lulus sekolah 2011, SDS memiliki keinginan untuk tetap bisa tinggal di Sekolah SPI. Tujuannya bisa berkontribusi sebagai alumni yang disebut sebagai Young Enterpreneur Society atau YES. Yakni dapat mengembangkan bakat keterampilan sesuai dengan minat bidangnya di bidang seni. “Termasuk show, pertunjukan serta mendampingi adik-adik kelasnya yang masih bersekolah,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Recky juga mengungkap beberapa fakta mengenai SDS antara lain soal proses awal diterimanya SDS untuk tinggal di lingkungan Sekolah SPI terhitung sejak tahun 2011 hingga pelapor izin undur diri pada Januari 2021 dengan alasan mau menikah.

Pada saat itu, kata Recky, pelapor dalam keadaan baik-baik saja dan dapat mengembangkan bakat keterampilannya secara maksimal. Bahkan, SDS dan beberapa alumni lainnya mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya itu.

“Dalam kontribusinya mengembangkan bakat keterampilan sesuai dengan minat di bidang seni show/pertunjukan, SDS serta beberapa saksi menerima pendapatan dari Yayasan Sekolah SPI,” bebernya.

Recky kemudian menyoal pernyataan dari pelapor yang mengklaim mengalami kekerasan seksual sejak 2009. “Mengapa tidak dari semula saja (2009) melaporkan kejadian itu?” kata dia.

Sebelum 29 Mei 2021, sambung Recky, hubungan pelapor dan terlapor dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan, selama tinggal di SPI dan mengembangkan keterampilan disana tidak menunjukkan gelagat aneh sampai akhirnya pelapor pamit keluar dengan alasan menikah.

Untuk itu, Recky berharap perlu adanya pemeriksaan psikologis pada SDS, hingga soal aspek legalitas ormas/Lsm yang mendampingi pelapor (Komnas PA). “JE berharap terhadap pelapor dapat dilakukan pemeriksaan psikologis secara menyeluruh dari Rumah sakit agar dapat diketahui secara medis kondisi kejiwaannya,” kata Recky.

Kejadian dugaan tindak pidana persetubuhan yang dilaporkan oleh SDS dituduhkan kepada JE mulai tahun 2009, sedangkan alat bukti visum et repertum dilakukan tahun 2021. “Tentunya hubungan kausalitas antara perbuatan dan alat bukti haruslah dapat dibuktikan terlebih dahulu,” kata dia.

Tim kuasa hukum JE, menurut Recky, saat ini juga tengah mendalami latar belakang organisasi masyarakat (Ormas) yang menjadi pendamping dalam perkara ini, termasuk aspek legalitas Ormas tersebut agar dapat dipastikan aspek kewenangan dan tupoksinya.

“Kami ingin menegaskan sekali lagi, segala pernyataan dari pihak-pihak tertentu yang telah tertulis di media, yang menuduh klien kami dalam perkara dugaan telah terjadi tindak pidana kekerasan seksual, tindak pidana kekerasan fisik dan tindak pidana eksploitasi ekonomi di Sekolah SPI adalah pernyataan yang tidak benar,” ujar Recky. [uci/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar