Ringkasan Berita:
- BPBD Jatim menggelar simulasi evakuasi tsunami di Lumajang dan Trenggalek pada HKB 2026.
- Kegiatan melibatkan masyarakat lintas kelompok, termasuk anak-anak hingga penyandang disabilitas.
- Warga Tegalrejo mampu mencapai zona aman dalam waktu 13–18 menit.
- Simulasi bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa dan tsunami.
Surabaya (beritajatim.com) – Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 dimanfaatkan BPBD Jawa Timur dengan menggelar simulasi evakuasi mandiri tsunami di Kabupaten Lumajang dan Trenggalek, Minggu (26/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa Timur.
Di Lumajang, simulasi dipusatkan di kawasan pesisir Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari. Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama SIAP SIAGA, BMKG Malang, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jatim, serta BPBD setempat.
Sementara itu, di Trenggalek, simulasi evakuasi mandiri dilaksanakan di Pantai Ngadipuro, Desa Craken, Kecamatan Munjungan, bekerja sama dengan BPBD setempat.
Sehari sebelum simulasi, masyarakat telah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari pemuda, lansia, anak-anak hingga penyandang disabilitas. Di Lumajang, kegiatan sosialisasi berlangsung di Balai Desa Tegalrejo dengan menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan dari BPBD Jatim, BMKG Malang, hingga FPRB Jatim.
Mewakili Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Sekretaris BPBD Jatim Andhika Nurrahmad Sudigda menegaskan, simulasi ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi tradisi rutin masyarakat, agar tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi dan tsunami. Karena bencana bisa terjadi kapan saja,” ujarnya.
Kepala Stasiun BMKG Malang, Ricko Kardoso, menambahkan bahwa wilayah Tegalrejo termasuk kawasan yang berpotensi terdampak langsung tsunami karena berhadapan dengan zona megathrust. Oleh karena itu, kesiapan masyarakat menjadi kunci utama dalam mitigasi risiko bencana.
“Simulasi ini penting sebagai indikator kesiapan masyarakat jika tsunami benar-benar terjadi,” tegasnya.
Warga setempat pun merasakan manfaat langsung dari pelatihan tersebut. Kepala Dusun Tegalbanteng, Yohadi Susanto Muso, mengaku pelatihan ini membantu masyarakat memahami langkah evakuasi hingga mencapai titik aman di kawasan kaki Gunung Kursi.
Selain simulasi, BPBD Jatim bersama warga juga melakukan pengecatan jalur evakuasi menuju zona aman atau Blue Zone di kaki Gunung Kursi. Jalur ini menjadi panduan utama bagi masyarakat saat melakukan evakuasi dari kawasan pesisir Pantai Bulu.
Berdasarkan evaluasi tim pelaksana, waktu tempuh warga dari titik awal hingga zona aman berkisar antara 13 hingga 18 menit. Durasi tersebut dinilai masih dalam kategori aman sebelum potensi gelombang tsunami mencapai daratan.
Kepala Deputi Konjen Australia di Surabaya, Christine Bui, yang turut menyaksikan simulasi, mengapresiasi semangat masyarakat dalam mengikuti proses evakuasi. Ia menilai antusiasme tersebut mencerminkan keseriusan warga dalam merespons ancaman bencana.
Apresiasi serupa juga disampaikan Tim Pencegahan BPBD Jatim, yang menilai keberhasilan utama simulasi terletak pada meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai jalur evakuasi dan titik aman.
Selain simulasi di Lumajang dan Trenggalek, rangkaian HKB 2026 di Jawa Timur juga diisi dengan berbagai kegiatan lain, seperti pelatihan kesiapsiagaan bersama Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim di Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, edukasi kebencanaan di Jombang, serta simulasi serentak di sejumlah sekolah bekerja sama dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jatim. [tok/beq]






