Surabaya (beritajatim.com) — Gerakan peduli lingkungan di Kota Pahlawan kembali menggeliat. Kali ini, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Surabaya, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Surabaya, dan Karang Taruna Surabaya bersatu tangan dalam aksi nyata mengurangi sampah popok sekali pakai yang menumpuk di sungai dan TPA.
Bekerja sama dengan produsen popok kain ramah lingkungan BUMBI, mereka menggelar program berbagi popok kain pakai ulang kepada warga yang memiliki balita di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, pada Jumat (31/1/2025).
Langkah ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program Pemerintah Kota Surabaya yang digagas oleh Wali Kota untuk menekan volume sampah rumah tangga non-organik, terutama sampah popok yang menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran sungai.
Ketua HIPMI Surabaya, Benny Setiawan Santosa, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud nyata sinergi antara dunia usaha dan masyarakat dalam menjaga kebersihan kota.
“Kami ingin menjadi bagian dari solusi. Tidak cukup hanya bicara soal lingkungan kami ingin bergerak nyata membantu mengurangi sampah di Surabaya,” ujar Benny.
Pemilihan Wonorejo bukan tanpa alasan. Kawasan ini berdekatan dengan aliran sungai yang kerap menjadi titik penumpukan popok bekas pakai. HIPMI berharap penggunaan popok kain di wilayah ini bisa menjadi contoh intervensi kecil yang berdampak besar.
“Kami ingin membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari satu kebiasaan sederhana mengganti popok sekali pakai dengan popok kain,” tambahnya.
Fakta Mengejutkan: Satu Popok Bisa Terurai 500 Tahun
Data menunjukkan, satu balita bisa menggunakan 7–10 popok sekali pakai per hari, atau sekitar 300 popok per bulan. Jika dikalikan dengan jumlah balita di satu kecamatan, jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu popok setiap bulan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, popok sekali pakai membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai dan dapat menghasilkan mikroplastik yang mencemari tanah, sungai, dan air PDAM.
CEO BUMBI, Celia Siura, mengingatkan bahwa limbah popok kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai.
“Air Sungai Brantas, yang menjadi sumber utama PDAM, kini tercemar mikroplastik. Jika dibiarkan, ini bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga membahayakan kesehatan manusia,” jelas Celia.
Menurut Celia, di Jawa Timur saja, sekitar 1,5 juta atau 300 ton popok per hari berakhir di aliran Sungai Brantas. Sekitar 50 persennya adalah popok sekali pakai. Ironisnya, sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa membuang popok ke sungai bisa mencegah anak “suleten” atau terlambat bicara.
“Padahal, kebiasaan itu justru mencemari sungai dan membahayakan masa depan anak-anak kita sendiri,” tegasnya.
Selain ramah lingkungan, popok kain pakai ulang juga jauh lebih hemat. Orang tua bisa menghemat hingga Rp5,4 juta per tahun, karena popok dapat dicuci dan digunakan kembali.
“Dengan memakai popok kain, keluarga bukan hanya membantu bumi, tapi juga menghemat pengeluaran,” tambah Celia.
Secara medis, popok kain juga lebih sehat karena membuat kulit bayi sensitif terhadap rasa lembap, sehingga anak dapat belajar buang air lebih cepat.
Ketua Karang Taruna Surabaya, Febrian Kiswanto, menegaskan pentingnya kesadaran lingkungan sejak dini.
“Kita tidak hanya menjaga kebersihan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk anak dan cucu kita. Jika lingkungan tidak dijaga, kita mewariskan kota yang kotor dan tidak sehat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif KADIN Surabaya, Adam Syarif, menilai kegiatan ini sejalan dengan visi KADIN dalam mengintegrasikan isu ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
“Inisiatif seperti ini memberi dampak nyata bagi masyarakat dan bumi. Apalagi BUMBI juga bagian dari KADIN, jadi kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi yang positif,” ungkapnya.[rea]






