Bangkalan (beritajatim.com) – Kasus campak kembali jadi sorotan di Kabupaten Bangkalan. Dinas Kesehatan setempat mencatat, sejak Januari hingga Juli 2025, terdapat 46 kasus campak dengan satu pasien di antaranya meninggal dunia.
Meski seluruh pasien kini sudah tertangani, fakta bahwa puluhan anak masih terjangkit menunjukkan adanya celah serius dalam perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya pada cakupan imunisasi dasar.
Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Nur Hotibah, menyebut kasus campak berat sebagian besar dialami anak-anak yang belum pernah mendapat imunisasi.
“Apabila pasien yang sudah dapat imunisasi terkena campak, maka gejala tidak akan seberat pasien yang belum imunisasi,” jelasnya, Senin (25/08/2025).
Dia menambahkan, Bangkalan termasuk wilayah dengan tantangan besar dalam hal cakupan imunisasi. Faktor jarak ke layanan kesehatan, minimnya kesadaran orang tua, hingga pengaruh informasi keliru di masyarakat kerap menjadi penghambat.
Kondisi ini berisiko memunculkan kembali penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi, salah satunya campak.
“Anak-anak bisa mendapatkan imunisasi dasar lengkap di posyandu, dan para orang tua harus aktif membawa anak-anak untuk imunisasi,” tambahnya.
Dia mengaku, pihaknya sudah gencar melakukan sosialisasi melalui posyandu maupun media sosial. Edukasi yang diberikan mencakup pengenalan gejala campak, langkah penanganan awal, hingga pentingnya imunisasi lengkap untuk anak.
Namun demikian, upaya ini harus ditopang oleh kesadaran kolektif masyarakat. Tanpa partisipasi aktif orang tua, program imunisasi tak akan maksimal.
Kematian satu pasien akibat campak di Bangkalan diharapkan menjadi peringatan. Sebab, campak tidak hanya menimbulkan ruam, tapi juga bisa berujung komplikasi serius seperti radang paru-paru hingga radang otak.
“Kuncinya adalah pencegahan. Jangan menunggu anak sakit, baru menyesal karena tidak diimunisasi,” pungkasnya. [sar/but]






