Jombang (beritajatim.com) – Puncak peringatan haul ke-136 KH Asy’ari di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, berlangsung dengan penuh khidmat, Sabtu (4/4/2026) malam.
Warga nahdliyin yang hadir di acara ini turut mendoakan KH Asy’ari, seorang tokoh ulama yang dikenal sebagai ayahanda Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam kesempatan tersebut, KH Marzuqi Mustamar menyampaikan pesan penting mengenai peran haul dalam merawat tradisi yang telah diwariskan oleh para tokoh yang diperingati. “Haul harus mampu menjaga berbagai keteladanan dari tokoh yang diperingati. Termasuk merawat berbagai tradisi yang sudah dicontohkan,” tegasnya.
Acara yang dihadiri oleh lebih dari seribu warga ini juga diwarnai dengan kehadiran berbagai tokoh penting, termasuk Ketua MWCNU Diwek KH Hamdi Soleh, Rais Syuriah KH Nur Hadi (Mbah Bolong), dan Asisten 1 Pemkab Jombang, Purwanto, yang hadir mewakili Bupati Jombang.
“Meski Abah Bupati tidak bisa hadir, tapi beliau mengutus kami untuk hadir langsung ke sini,” ungkap Purwanto saat memberikan sambutan.
Rangkaian acara haul dimulai dengan pembacaan shalawat oleh Group As-Syafaat Ngoro, dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil. KH Abdul Gholib, perwakilan dzuriyah KH Asy’ari, mengungkapkan bahwa acara ini tidak hanya mendoakan KH Asy’ari, tetapi juga untuk mendoakan generasi penerus.
Selain pengajian umum, rangkaian haul kali ini juga mencakup kegiatan lain seperti jalan sehat, khatmil Qur’an, dan seni hadrah, yang semakin mempererat silaturahmi antar warga. Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Pemkab Jombang, dengan harapan agar masyarakat Jombang dapat meneladani sosok KH Asy’ari dalam kehidupan sehari-hari.
Selama acara, KH Marzuqi Mustamar juga menyampaikan tausiyah yang mengoreksi beberapa amaliyah yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran NU dan pendapat mu’tabar. “Terutama tidak sesuai dengan keputusan NU dan pendapat mu’tabar,” ujarnya.
Ia memberikan contoh terkait tata cara bersuci dan salat, seperti salat yang dilakukan duduk oleh imam sementara makmum berdiri, yang menurutnya tidak sah.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Sutarwan, tokoh NU Desa Keras. Acara haul ke-136 KH Asy’ari ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa besarnya, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merenungkan nilai-nilai keagamaan yang diwariskan dan dapat diteruskan oleh generasi muda. [suf]






