Jakarta (beritajatim.com) – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim S Djojohadikusumo, menyatakan optimisme terhadap target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dapat mencapai 8% pada tahun 2026.
Bahkan, menurutnya, Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berpotensi melampaui angka tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Hashim dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 dengan tema Riding the Wave of 8% Economic Expansion Rabu 26 Februari 2025 di Jakarta.
Acara tersebut membahas prospek, tantangan, serta strategi implementasi kebijakan ekonomi makro yang mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hashim yang juga adik kandung Presiden Prabowo menegaskan bahwa pencapaian target ekonomi ini didukung oleh berbagai program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang telah menjadi cita-cita Presiden Prabowo sejak 18 tahun lalu.
Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp171 triliun untuk MBG, yang berpotensi terus bertambah.
Program ini diharapkan mampu menggerakkan perekonomian daerah, termasuk peternak, petani, koperasi, UMKM, serta BUMDes dengan melibatkan 30 ribu dapur umum.
“Ini real ekonomi,” jelas Hasyim.
Hasyim menambahkan real economy berarti apa? nanti diperlukan 82 juta butir telur tiap
hari, perlu sayur-sayuran perlu daging ayam perlu, susu perlu banyak hal untuk menjadi input untuk jadi menu dari makanan bergizi gratis ini.
“Coba dipikirkan itu berapa perunggasan yang diperlukan untuk menghasilkan dan ini banyak akan nanti di supply dipasok oleh emak-emak di desa-desa, tujuan Pak Prabowo adalah ratusan triliun rupiah itu akan nanti dibelanjakan di pedesaan, termasuk koperasi, BUMDes serta UMKM” tegas Hasyim.
Selain itu, program pembangunan 3 juta rumah per tahun atau 15 juta selama 5 tahun juga diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Program ini mencakup lebih dari 185 sektor industri terkait, termasuk semen, baja, dan peralatan rumah tangga serta mebel.
“Program pembangunan 3 juta rumah per tahun ini mengadaptasi pengalaman dari beberapa negara seperti China, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan,” ujar Hashim. Menurutnya, sektor perumahan di negara-negara tersebut menjadi pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi.
Investasi dan Pendanaan Pembangunan
Hashim juga mengungkapkan bahwa program perumahan ini akan menarik investasi besar dari berbagai negara, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, China, dan Eropa. Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan sumber pendanaan domestik, seperti dana dari BPJS, Bank Indonesia, dan lembaga keuangan lainnya yang belum sepenuhnya terserap dalam ekonomi riil.
Bank Indonesia sendiri dikabarkan siap menyediakan dana sebesar Rp130 triliun untuk mendukung sektor perumahan. Sementara itu, pemerintah akan mengalokasikan tambahan investasi senilai 20 miliar dolar AS untuk mendorong pembangunan infrastruktur terkait.
Efek Multiplikasi terhadap Industri Nasional
Hashim menekankan bahwa sektor perumahan memiliki dampak luas terhadap industri nasional. Dengan target pembangunan 3 juta rumah per tahun, konsumsi semen diprediksi meningkat sebesar 15 juta ton per tahun. Saat ini, industri semen nasional hanya beroperasi pada 50% kapasitas, sehingga program ini dapat menghidupkan kembali sektor tersebut.
Selain semen, industri besi dan baja diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan hingga 3 juta ton per tahun. Sektor lainnya, seperti furnitur, peralatan elektronik, dan bahan bangunan juga akan mengalami lonjakan permintaan yang signifikan.
“Multiplier effect dari program ini sangat besar. Sebanyak 185 sektor usaha akan mendapat dampak positif, termasuk pemasok listrik, pipa air, dan industri perabot rumah tangga,” jelas Hashim.
Target Pertumbuhan Ekonomi 2026
Berdasarkan proyeksi terkini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai 5,3%. Namun, dengan tambahan kontribusi dari program Makan Bergizi Gratis dan sektor perumahan, pertumbuhan ekonomi bisa bertambah hingga 4%, menjadikan total pertumbuhan mencapai 9,3%.
Meski demikian, Hashim menegaskan bahwa target realistis yang ingin dicapai adalah 8%, mengingat berbagai faktor eksternal yang masih perlu diperhitungkan.
Di luar sektor perumahan, pemerintah juga akan menggenjot proyek hilirisasi industri, pembangunan smelter, serta kawasan pangan (food estate) guna meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian industri nasional.
“Kita semakin optimis dengan prospek ekonomi Indonesia. Program ini berbasis pada konsumsi domestik, sehingga tidak terdampak kebijakan tarif dari negara lain. Ini adalah momentum bagi kita untuk membangun ekonomi yang lebih kuat dan mandiri,” kata Hashim.
Untuk mendukung ini tentunya syaratnya adalah semua elit politik harus bersatu jangan sampai tercerai berai yang mengakibatkan rusaknya tatanan sosial dan ekonomi.
“Pimpinan nasional kita harus utuh jangan pecah-pecah ya pimpinan nasional kita harus utuh saya senang kita semua utuh jangan gesek-gesekan. Jika ada yang turun ke jalan Indonesia gelap diajak bicara sama adik-adik mahasiswa karena mereka banyak turun ke jalan karena salah pengertian. Tidak ada pemotongan penghapusan beasiswa tidak ada itu semua program beasiswa tetap utuh dan tetap berlanjut tidak ada pengurangan tapi ada pihak-pihak yang tidak suka Indonesia Makmur,” pungkas Hasyim.
Dengan strategi yang matang dan sinergi antara pemerintah serta sektor swasta, target pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2026 diyakini dapat tercapai, membawa Indonesia ke era baru pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (ted)






