Pasuruan (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Pasuruan merayakan hari jadinya yang ke-340 dengan penuh khidmat melalui rangkaian kirab budaya yang memikat perhatian masyarakat. Acara dimulai dengan iring-iringan dari depan Kantor Wali Kota hingga berakhir di Taman Harmoni sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah panjang daerah.
Momen istimewa dalam peringatan tahun ini ditandai dengan pembacaan pataka yang mengingatkan kembali pada sosok pahlawan besar, Untung Surapati. Semangat perjuangan beliau di masa lalu dijadikan fondasi utama dalam membangun visi masa depan kota yang lebih berdaulat dan mandiri.
Filosofi Keberanian dalam Suro Wiro Aji Busono
Pemerintah Kota Pasuruan secara resmi mendeklarasikan busana khas daerah yang diberi nama “Suro Wiro Aji Busono” dalam rangkaian acara tersebut. Kehadiran baju khas ini bukan sekadar urusan fesyen, melainkan manifestasi dari nilai kewibawaan dan martabat masyarakat Pasuruan.
Nama busana ini merujuk pada keberanian (Suro/Wiro) serta martabat tinggi (Aji) yang melekat pada identitas sejarah lokal. Melalui baju ini, warga diajak untuk kembali mencintai akar budaya dan bangga akan asal-usul tanah kelahirannya di tengah modernisasi dunia.
“Busana ini adalah bahasa tanpa kata yang berbicara tentang kebanggaan akan asal-usul dan cinta pada tanah kelahiran,” ujar Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, Minggu (8/2/2026).
Penggunaan busana khas ini juga selaras dengan falsafah Jawa ‘Ajining rogo soko busono’ yang berarti kehormatan seseorang tecermin dari caranya berpakaian. Pemerintah berharap pakaian ini menjadi simbol harmoni yang menyatukan tradisi leluhur dengan semangat inovasi generasi masa kini.
Tema Guyub Rukun Membangun Kota Anugerah
Selain peluncuran busana, peringatan tahun ini mengusung tema besar yakni “Guyub Rukun Bareng-Bareng Mbangun Pasuruan Kutho Anugrah”. Tema tersebut dipilih untuk memperkuat ikatan gotong royong antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga seluruh lapisan masyarakat.
Semangat kebersamaan ini diharapkan dapat memutus sekat perbedaan demi mewujudkan cita-cita kota yang mandiri secara ekonomi dan indah secara lingkungan. Fokus pembangunan ke depan akan menitikberatkan pada kolaborasi aktif guna melahirkan pelayanan publik yang lebih responsif dan berkualitas.
“Guyub rukun menggambarkan suasana harmonis, saling menghormati, dan saling mendukung di tengah keberagaman,” tambah Mas Adi.
Peringatan ini juga menjadi saksi sejarah dengan ditetapkannya nama baru bagi ruang publik, yakni Taman Harmoni dan Gedung Groedo. Nama-nama tersebut diambil dari tokoh dan filosofi lokal agar masyarakat selalu ingat pada karakter kepemimpinan yang pernah membawa kemakmuran bagi Pasuruan.
Taman Harmoni diharapkan menjadi pusat kebudayaan lingkungan yang memberikan ketenangan psikologis bagi setiap warga yang berkunjung. Sementara Gedung Groedo yang terinspirasi dari Raden Groedo diharapkan menjadi tempat lahirnya kebijakan-kebijakan yang menyejahterakan rakyat.
“Pemberian nama ini merupakan ikhtiar untuk menghadirkan nilai-nilai luhur daerah dalam ruang kehidupan bersama,” pungkasnya.
Melalui peringatan ke-340 ini, Kota Pasuruan menegaskan komitmennya untuk tetap berpijak pada nilai kearifan lokal dalam setiap derap pembangunannya. Persatuan yang kuat diharapkan mampu membawa Kota Pasuruan menjadi daerah yang semakin maju, berdaya saing, dan penuh anugerah. [ada/suf]






