Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa waktu lalu, istilah childfree sedang marak diperbincangkan. Yakni mengenai keputusan seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak dengan berbagai alasan. Tidak sedikit pula orang yang menyuarakan hal tersebut, dengan dasar setiap orang punya hal untuk memiliki atau tidak memiliki anak. Salah satunya adalah influencer Gita Savitri dan sang suami Paul Andre.
Sebagai informasi, tanggal 1 Agustus diperingati sebagai Hari Childfree Sedunia, ini diprakasai dari sebuah event buatan Organisasi Nasional untuk Non-Orang Tua pada tahun 70-an. Event tersebut merupakan ajang untuk memilih pasangan yang tidak memiliki anak setiap tahunnya. Pemenang akan berparade di 5th Avenue New York. Barulah 4 tahun kemudian Hari Childfree Day diadakan untuk mengenang event tersebut.
Fenomena ini sendiri sebenarnya masih tabu di Indonesia, mengingat kultur dan adat yang berbeda. Meski begitu, sebenarnya apasih yang menjadi alasan seseorang untuk memutuskan childfree? Berikut ulasannya.
· Tidak siap mental
Memiliki anak adalah sebuah tagging jawab yang besar, selain membutuhkan kesiapan secara ekonomi, kesiapan mental adalah hal yang sangat penting. Beberapa orang yang memutuskan untuk childfree biasanya merasa belum memiliki kesiapan mental, secara psikologi pun mereka masih labil.
Kondisi mental orang tua akan berpengaruh pada pola asuh buah hati. Jika orang tua belum bisa mengontrol emosi diri sendiri, maka bisa jadi sang anak akan memiliki permasalahan yang sama dan tidak bisa mengendalikannya.
· Trauma
Masih berhubungan dengan tidak kesiapan secara psikologis, nyatanya kondisi mental seseorang bisa dipengaruhi dari pengalaman traumatis di masa lalu. Misalnya saja hubungan yang tidak baik dengan orang tua, atau bahkan mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya sendiri.
Peristiwa tersebut tentu saja tidak mudah untuk dilupakan, memiliki anak pun menjadi keputusan yang dihindari. Mereka takut menjadi orang tua yang gagal dan melakukan hal yang sama pada anak mereka.
· Ingin menghabiskan waktu dengan pasangan
Jika diperhatikan, kebanyakan pasangan setelah menikah ingin langsung memiliki keturunan. Diharapkan kehadiran anak bisa meramaikan suasana kehidupan rumah tangga mereka. Namun jangan heran karenya nyatanya ada yang sebaliknya.
Lantaran prinsip yang berbeda, beberapa pasangan memilih untuk childfree lantaran ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan pasangan. Mereka ingin fokus kepada kehidupan rumah tangga berdua, memberi cinta dan perhatian hanya untuk pasangan tanpa perlu dibagi untuk anak. Mereka tidak khawatir akan merasa kesepian karena mereka akan lebih mengeksplorasi hal-hal yang bisa mencapai cita-cita berdua.
· Umur dan fisik
Persoalan satu ini banyak dialami bagi wanita atau pria yang usianya sudah tak lagi muda, umumnya di 40 tahun ke atas. Meski bukan berarti tidak mungkin, wanita di usia 40-an kualitas sel telurnya menurun tajam. Sehingga kesempatan untuk hamil pun kecil.
[berita-terkait number=”3″ tag=”anak”]
Begitu pula dengan mereka yang memiliki penyakit turunan atau fisik yang tidak mumpuni untuk memiliki anak. Daripada menghadapi resiko yang berat, mereka memutuskan untuk childfree.
· Faktor lingkungan dan sosial
Umumnya, seseorang yang memutuskan untuk childfree juga dipengaruhi dari faktor lingkungan dan sosial. Mereka memandang dunia dengan luas dan pikiran terbuka, melihat persoalan-persoalan baik secara sosial ataupun alam. Mengingat jumlah anak terlantar yang tidak terhitung, dan bumi yang sudah mulai renta, mereka tidak ingin menambah satu jiwa lagi di dunia ini.
Alih-alih melahirkan seorang anak, biasanya mereka memilih untuk mengadopsi anak-anak terlantar. Dengan begitu mereka bisa membantu anak-anak tersebut serta mengurangi populasi manusia di bumi.
Baik childfree atau tidak itu adalah keputusan masing-masing orang, dan jika sudah memiliki pasangan maka keputusan tersebut harus diambil berdua. Setiap individu mempunyai hak atas dirinya dan kehidupannya sendiri. (mnd/ian)






