Bojonegoro (beritajatim.com) – Harga tembakau rajang kering di Bojonegoro tiba-tiba merosot tajam setelah beberapa kali terjadi hujan deras pada pertengahan Agustus lalu. Padahal, sebelumnya harga tembakau sempat berada di titik yang cukup menggembirakan bagi petani.
Sepekan terakhir, harga tembakau rajang kering masih bisa menembus Rp45 ribu per kilogram. Namun, pasca hujan deras yang turun dua hari berturut-turut pada 19–20 Agustus, harga langsung jatuh ke level Rp35 ribu per kilogram.
Penurunan harga ini disebabkan kualitas tembakau yang memburuk akibat kelembapan udara terlalu tinggi. Daun tembakau yang seharusnya cerah justru berubah menjadi hitam kecoklatan, membuat pabrikan enggan membeli dalam jumlah besar.
Beberapa pabrik bahkan sempat menghentikan pengambilan tembakau rajang kering.
“Petikan daun pertama laku Rp40 ribu per kilo. Lalu petikan kedua dan ketiga sempat lebih bagus, sampai Rp45 ribu. Tapi setelah hujan kemarin langsung turun jadi Rp35 ribu,” keluh Solikhun, petani asal Desa Simorejo, Kecamatan Kanor, Selasa (26/8/2025).
Selain harga yang merosot, para petani juga terpukul karena banyak tanaman tembakau mati akibat lahan sawah tergenang. “Dua hari hujan bikin sawah banjir, sekitar 30 persen tembakau di desa kami mati. Tahun ini memang susah, sejak awal sering hujan jadi tanamannya tidak kuat,” tambahnya.
Fenomena kemarau basah yang terjadi tahun ini membuat musim tanam tembakau penuh ketidakpastian. Hujan yang masih turun di tengah musim kering memicu kelembapan tinggi, sehingga memengaruhi proses pengeringan daun tembakau. Kondisi inilah yang akhirnya menjatuhkan harga di pasaran. [lus/aje]






