Ngawi (beritajatim.com) – Kenaikan harga bahan baku kedelai dan minyak goreng membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Ngawi menghadapi tekanan berat.
Selain harga yang terus meningkat, minyak goreng kemasan juga sulit diperoleh di pasaran, sehingga para perajin terpaksa menaikkan harga jual produk sekaligus memangkas kapasitas produksi untuk menekan kerugian.
Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Muhadi Suko Utomo (54), perajin kedelai goreng asal Desa Beran, Kecamatan Ngawi. Sejak sekitar tiga bulan terakhir, usahanya mengalami lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga sejumlah bahan baku utama, mulai dari kedelai, minyak goreng, hingga plastik kemasan.
Kondisi tersebut memaksanya mengurangi aktivitas produksi secara signifikan. Jika sebelumnya proses menggoreng kedelai dilakukan selama 20 hari dalam sebulan dengan melibatkan tiga orang karyawan, kini kegiatan produksi hanya berlangsung delapan hari setiap bulan.
Penurunan jam kerja itu berdampak langsung pada jumlah produksi. Dari semula mampu menghasilkan sekitar delapan kuintal kedelai goreng per hari, kini produksinya hanya mencapai empat kuintal per hari atau turun hingga 50 persen.
Muhadi menjelaskan, harga kedelai yang sebelumnya Rp8.500 per kilogram kini naik menjadi Rp10.500 per kilogram. Di saat bersamaan, harga plastik pembungkus melonjak dari Rp28 ribu menjadi Rp55 ribu per kilogram. Sementara minyak goreng curah yang kini menjadi pilihan utama juga mengalami kenaikan harga dari Rp16 ribu menjadi Rp19.300 per kilogram.
Kelangkaan minyak goreng kemasan di pasaran semakin memperberat kondisi usaha. Demi menjaga keberlangsungan produksi, Muhadi akhirnya beralih menggunakan minyak goreng curah meski harganya juga mengalami kenaikan.
Salah seorang karyawannya, Mustaqim, mengaku perubahan tersebut dilakukan karena minyak goreng kemasan semakin sulit diperoleh.
“Dulu pakai minyak goreng kemasan, kini beralih ke curah karena kemasan mahal dan barangnya langka,” ujarnya.
Kenaikan biaya produksi membuat Muhadi tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual produknya. Harga kedelai goreng kemasan lima kilogram kini dijual Rp82 ribu, naik Rp5 ribu dibanding sebelumnya yang dipasarkan seharga Rp77 ribu per kemasan.
Meski demikian, kenaikan harga tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menutup lonjakan biaya produksi yang harus ditanggung setiap hari.
Muhadi mengatakan kondisi saat ini menjadi tantangan besar bagi pelaku UMKM yang menggantungkan usahanya pada bahan baku kedelai dan minyak goreng.
“Susah sekarang, minyak goreng langka, harganya naik. Kita terpaksa naikkan harga dan kurangi jam kerja,” kata Muhadi.
Produk kedelai goreng miliknya tidak hanya dipasarkan di wilayah Ngawi, tetapi juga didistribusikan ke sejumlah daerah seperti Madiun, Ponorogo, hingga beberapa kota di Jawa Tengah. Dengan berkurangnya kapasitas produksi, pasokan ke sejumlah daerah tersebut berpotensi ikut menurun apabila kondisi harga bahan baku belum kembali stabil.
Tekanan terhadap sektor UMKM ini dikhawatirkan tidak hanya memengaruhi pendapatan pelaku usaha, tetapi juga berimbas pada tenaga kerja yang bergantung pada aktivitas produksi. Pengurangan hari kerja menjadi langkah yang diambil untuk mempertahankan keberlangsungan usaha tanpa harus menghentikan produksi sepenuhnya.
Muhadi berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku, terutama kedelai dan minyak goreng.
Menurutnya, kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan utama yang menentukan keberlangsungan usaha para perajin kedelai goreng.
Apabila harga kembali stabil dan pasokan minyak goreng membaik, pelaku UMKM optimistis dapat meningkatkan kapasitas produksi serta mengembalikan jam kerja karyawan seperti semula. [fiq/ted]






