Mojokerto (beritajatim.com) – Harga gabah tingkat petani di Kabupaten Mojokerto anjlok jelang panen raya. Harga Kering Panen (HKP) hanya Rp5.300 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp6.500 per kg.
Harga gabah yang anjlok saat ini membuat petani resah lantaran terancam merugi. Kondisi itu berbanding terbalik dengan harga beras di pasaran yang masih melambung.
Pantauan sinergismart Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mojokerto, beras IR 64 medium rata-rata masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Harga beras IR 64 capai Rp11.965 per kg dengan harga tertinggi Rp14.500 per kg dan terendah Rp10.900 per kg.
Begitu juga dengan IR 64 premium, harganya rata-rata tembus Rp 14.243 per kg dengan tren turun. Hal ini membuat petani tak bisa menikmati hasil panen pertama di 2024 ini.
Salah satu petani asal Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Adi Dwi Wahyu Purwanto mengatakan, memasuki masa panen padi, para petani dibuat resah dengan harga gabah anjlok. Harga gabah di tingkat petani terus mengalami penurunan jelang panen raya.
“Saat ini gabah di jual Rp5.300 per kg. Sebelum Ramadhan padahal masih Rp6.500 per kg, sekarang mau Hari Raya malah turun Rp5.300 per kg. Harga beras masih mahal,” ungkapnya, Sabtu (30/3/2024).
Harga gabah anjlok namun beras masih mahal. Selain itu, lanjut Adi, para petani juga dipusingkan dengan kebutuhan pupuk masa tanam kedua. Murahnya harga gabah kering giling di tingkat petani, membuatnya juga merugi.
“Kondisi ini diperparah dengan cuaca ekstrem belakangan ini yang berpengaruh pada kondisi padi. Dalam masa panen ini, tidak maksimal dikarenakan banyak padi roboh yang diakibatkan intensitas hujan dan angin. Selain itu, juga hama wereng masih menghantui para petani,” katanya.
Adi menjelaskan, para petani juga dibuat pusing dengan hama wereng masih menghantui. Dengan luasan sawah 1,5 hektar, produktivitas padi yang dipanen hanya bisa mencapai 5 ton gabah. Hasil panen tidak sebanding dengan biaya tanam dan perawatan.
“Belum lagi harga tenaga kerja juga mahal, tapi harga jual rendah. Harusnya minimal harga gabah Rp6.500 per kg, itu pun untungnya tidak banyak. Para petani berharap pemerintah segera turun tangan dan membuat standar harga gabah lebih tinggi,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Pimpinan Cabang Bulog Surabaya Selatan, Rusli mengatakan, pihaknya hingga kini belum ada penugasan penyerapan gabah petani. Menurutnya, harga kering panen Rp5.300 per kg sudah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
“HPP gabah kering panen Rp5.000 per kg, HPP gabah kering panen di tingkat penggilingan Rp5.100 per kg dan Gabah Kering Giling (GKG) Rp6.300 per kilogram,” tegasnya. [tin/beq]






