Malang (beritajatim.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg menjadi Rp18.000 per tabung. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Gubernur Jatim dan telah disosialisasikan sejak awal Januari 2025.
Meski bertujuan untuk menyesuaikan harga dengan distribusi dan subsidi yang lebih merata, kebijakan ini menuai berbagai reaksi, terutama dari pelaku UMKM.
Kenaikan HET LPG 3 kg berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, termasuk pengelola kantin kampus. Yuning, pengelola kantin di Universitas Negeri Malang (UM), mengaku menghadapi dilema besar.
“Elpiji jelas jadi kebutuhan utama untuk masak. Kalau naik, mungkin kami harus menghitung ulang harga makanan di sini. Tapi sejauh ini kami belum menaikkan harga, apalagi sekarang mahasiswa masih libur, jadi yang ke kampus masih sedikit,” ujar Yuning, Senin (14/1/2025).
Ia menambahkan, kebijakan ini dapat menekan keuntungan. Terutama ketika daya beli mahasiswa belum pulih sepenuhnya seperti liburan kampus.
Senada dengan Yuning, pedagang di kantin CL Universitas Brawijaya (UB) juga merasa terpukul. Salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa kebijakan ini bisa berdampak pada daya beli mahasiswa jika tanpa pertimbangan matang.
“Kami khawatir kalau harga makanan ikut naik, pembeli malah berkurang. Mahasiswa kan biasanya cari makanan yang murah,” ungkapnya.
Ketua DPC Hiswana Migas Malang, Ahmad Basori, menyatakan bahwa kenaikan harga ini telah disosialisasikan oleh Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Jatim, Dr. Mhd. Afftabuddin RZ., S.Pt., M.Si., pada 7 Januari 2025 di Surabaya. Sosialisasi ini melibatkan perwakilan dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur dan akan dilanjutkan hingga ke tingkat kelurahan dan desa.
“Masyarakat harus memahami bahwa penyesuaian harga ini bertujuan untuk mendukung distribusi dan ketersediaan LPG yang lebih merata,” ujar Basori.
Pelaku UMKM berharap pemerintah memberikan solusi untuk meringankan dampak kebijakan ini. Subsidi tambahan atau insentif usaha dinilai bisa membantu mereka bertahan di tengah kenaikan biaya produksi.
Kenaikan HET LPG 3 kg ini menjadi tantangan berat bagi pelaku UMKM yang kini harus memutar otak untuk tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi. [dan/aje]






