Surabaya (beritajatim.com) – Harga cabai rawit di Pasar Tradisional Surabaya melonjak tajam sejak hari Selasa (17/2) malam, sekarang sudah mencapai Rp125 ribu per kilogram.
Maysaroh (56), Pedagang Cabai di Pasar Tradisional Pucang Anom Surabaya mengungkapkan bahwa harga cabai rawit tersebut lebih mahal dibanding harga daging ayam dan daging sapi per kilogram. Harga daging sapi kualitas terbaik hanya berkisar Rp110 ribu per kilogram.
“Cabai rawit kalau harganya normal hanya Rp60-Rp70 ribu per kilogram. Sekarang Rp125 ribu, lebih mahal dari daging ayam per kilogram Rp38 ribu dan daging sapi kualitas terbaik Rp110 ribu per kilogram,” ujar Maysaroh ditemui, Jumat (20/2/2026).
Maysaroh juga mengatakan bahwa selain cabai rawit, harga-harga bahan pokok lainya di minggu pertama bulan suci ramadan 1447 Hijriah (H) ini terpantau normal.
“Lain-lainnya masih normal, sayur normal. Hanya ada sedikit beda itu di bawang merah, harga bawang merah naik Rp5 ribu, dari harga normal Rp40 ribu sekarang menjadi Rp45 ribu,” jelasnya.
Menurut Maysaroh, kenaikan harga cabai rawit dan perubahan harganya sejak dulu memang sukar diprediksi. Kadang malam ini turun, kemudian di pagi dini hari tiba-tiba naik.
“Ya kalau katanya tengkulak yang nyetok itu, harga baik gara-gara stoknya kurang, gak ada stok banyak,” ucap Maysaroh.
Kenaikan harga cabai rawit ini juga disampaikan oleh Bandar Cabai di Pasar Tradisional Keputran Surabaya, Sarjuni (30). Ia mengatakan bahwa kenaikan harga cabai rawit yang menyentuh dua kali lipat harga normal hari ini, dipengaruhi karena kondisi petani cabai yang tidak melakukan aktivitas panen saat awal bulan puasa ramadan dan kesibukannya mengikuti adat tradisi di tempatnya untuk menyambut bulan suci.
“Ya penyebabnya, karena petani cabai jarang ada yang panen saat hari pertama atau awal-awal bulan puasa ramadan. Ya kami bersyukur meskipun harganya mahal, saat ini masih banyak permintaan dari pembeli,” pungkas Sarjuni. (rma/ted)






