Probolinggo (beritajatim.com) – Para petani cabai di Kota Probolinggo tengah mengalami kesulitan akibat anjloknya harga jual cabai di pasaran. Panen raya yang seharusnya menjadi berkah justru menjadi petaka bagi mereka karena harga cabai yang sangat rendah, bahkan di bawah harga pokok produksi.
Hasan Prasojo, salah satu petani cabai di Kota Probolinggo, mengungkapkan keprihatinannya. “Harga cabai besar saat ini hanya sekitar Rp7.000 per kilogram, sementara biaya produksi per pohon bisa mencapai Rp14.000,” ujarnya.
Selain harga yang rendah, produktivitas tanaman cabai juga menurun. Jika sebelumnya satu pohon bisa menghasilkan 1 kilogram cabai, saat ini hanya mampu menghasilkan 500 gram. Kondisi ini diperparah oleh cuaca yang terlalu panas dan persaingan yang ketat di pasar.
Untuk mengatasi permasalahan ini, para petani mencoba berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menerapkan metode penanaman baru menggunakan sistem tetes. Namun, metode ini membutuhkan biaya tambahan untuk membeli alat dan pupuk.
Para petani berharap pemerintah dapat memberikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Salah satunya adalah dengan memfasilitasi akses petani ke pasar yang lebih luas, seperti pabrik pengolahan makanan atau distributor besar.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu kami memasarkan hasil panen dengan harga yang lebih baik,” ujar Hasan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anjloknya harga cabai antaranya yakni melimpahnya pasokan cabai di pasaran menyebabkan harga jual turun. Cuaca panas yang berkepanjangan mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas cabai.
Lalu banyaknya petani cabai membuat persaingan semakin ketat. Dan yang terakhir yakni kondisi ekonomi yang kurang baik menyebabkan daya beli masyarakat menurun. (ada/ian)






