Tulungagung (beritajatim.com) – Mengawali buka giling, PG Modjopanggung Tulungagung menggelar tradisi adat manten tebu. Tradisi ini sudah digelar sejak era kolonial Belanda dan kini menjadi warisan leluhur untuk menandai prosesi buka giling.
Tradisi manten tebu, ini diwujudkan dengan sepasang boneka pengantin jawa. Dimana proses pembuatan boneka manten tersebut, memerlukan ritual khusus yang dilakukan secara turun-temurun.
Pembuat boneka manten, harus melakukan puasa selama empat hari sebelum merangkai boneka, dan pada saat membuat dia tidak boleh tidur hingga boneka selesai dibuat. Sepasang boneka ini diarak menuju lokasi penggilingan tebu.
Prosesi arak-arakan dimulai dari luar pabrik menuju tempat tinggal GM PG Mojopanggung. Setelah itu arak-arakan yang diiringi dengan kembar mayang, ragam sesaji dan tebu yang sudah dihias dibawa menuju ke lokasi penggilingan tebu. Boneka bersama aneka sesaji dan tebu lalu dimasukkne ke mesin giling.
GM PG Mojopanggung, Sugianto mengatakan tradisi ini sudah digelar sejak zaman dulu sebagai tanda pembuka musim giling. Tradisi tersebut memiliki makna filosofis kekeluargaan dan simbol harapan hasil produksi tahun ini membawa berkah untuk petani dan keluarga PG Mojopanggung. “Tradisi ini memiliki makna kekeluargaan, layaknya manten pada umumnya melibatkan banyak pihak dalam prosesnya,” ujarnya, Jumat (09/05/2024).
Tradisi ini juga merupakan simbol sinergi antara petani tebu dan pabrik. Tahun ini PG Mojopanggung ditargetkan menggiling 381 ribu ton tebu. Mereka juga mentargetkan produksi gula pasir tahun ini mencapai 29 ribu ton gula. Nilai randemen PG Mojopanggung tahun lalu juga menduduki rangking pertama dengan angka 8,53 persen.
“Saat itu didukung dengan kemarau panjang sehingga rendemen cukup tinggi, tapi kalau target tahun ini rendemen mencapai 7,8 persen karena kita melihat masih ada hujan saat ini,” tuturnya.
Mereka juga optimis target tersebut dapat terpenuhi. Pada musim giling tahun ini mereka akan mendatangkan tebu dari berbagai kota seperti Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Kediri dan Malang. Pihak PG Mojopanggung juga bertekad untuk bisa bersaing dengan PG swasta yang memiliki mesin canggih. “Kita akan membuktikan dengan mesin yang ada bisa bersaing dengan PG swasta ataupun yang baru berdiri,” pungkasnya. [nm/kun]






