Surabaya (beritajatim.com) – Tangis tak bisa dibendung saat Hafizah berdiri di tengah ruangan. Suaranya bergetar, matanya memerah. Ia bercerita tentang ayahnya yang setiap hari mencuci kontainer, berjuang hidup dari upah tak menentu.
“Sehari paling dapat dua puluh ribu. Saya juga punya adik di rumah,” ucapnya pelan.
Di hadapannya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, terdiam. Wajahnya muram, matanya berkaca. Kunjungan yang semula seremonial, berubah menjadi emosional.
Tak hanya Hafizah. Revan Putra, siswa lain, juga mengisahkan getir yang serupa. Ayahnya seorang kurir, tanpa kepastian penghasilan. “Dulu saya hampir tak bisa sekolah karena tidak ada biaya,” katanya.
Kini, keduanya duduk di bangku sekolah. Sekolah Rakyat Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan menengah gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo untuk anak-anak dari keluarga tak mampu.
Di Unesa, para siswa tinggal di asrama. Di sinilah mereka akan belajar, tinggal, dan mulai percaya bahwa masa depan bukan hanya milik mereka yang berada.

Kepada para siswa, Gus Ipul menyampaikan bahwa pemerintah akan membagikan laptop dan seragam gratis. “Saat ini masih proses pengadaan. Insya Allah satu-dua bulan lagi sudah bisa dibagikan,” ujarnya.
Namun, bukan hanya bantuan yang mereka terima hari itu, melainkan janji yang membuka secercah harapan. “Belajar yang rajin,” pesan Gus Ipul, lirih. “Setelah lulus di sini, kalian bisa lanjut kuliah di Unesa. Ada beasiswa dari Pak Rektor,” tuturnya.
Rektor Unesa, Nurhasan atau Cak Hasan, yang mendampingi kunjungan, menegaskan bahwa beasiswa terbuka bagi seluruh lulusan Sekolah Rakyat. Ia menolak melihat program ini berhenti di bangku SMA.
“Sekolah Rakyat ini bukan hanya membuka akses ke sekolah, tapi juga ke bangku kuliah, dunia kerja, bahkan wirausaha dan industri,” jelasnya.
Unesa sendiri menjadi salah satu dari 100 titik pelaksanaan Sekolah Rakyat di Indonesia. Pada akhir Juli ini, 37 titik baru akan menyusul.
Cak Hasan berharap program ini mampu menjadi jembatan keluar dari lingkaran kemiskinan yang menjerat banyak keluarga. “Anak-anak ini adalah harapan. Mereka bisa menjadi pionir perubahan, dan mengangkat derajat orang tua mereka,” tegasnya.
Di akhir kunjungan, haru masih terasa. Tapi dari ruang sederhana di Unesa Lidah Wetan, harapan itu tumbuh. Hafizah dan Revan tak sekadar mendapat bangku sekolah. Mereka diberi arah, pijakan, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Karena hari itu, mereka menemukan satu hal yang belum pernah benar-benar mereka miliki. Harapan itu bernama Sekolah Rakyat. [ipl/but]






