Jombang (beritajatim.com) – Selama 1,5 bulan ini DBD (Demam Berdarah Dengue) di Kabupaten Jombang sudah tembus 129 kasus. Rinciannya, pada Oktober sebanyak 100 kasus. Sedang hingga pertengahan November 2025 sudah mencapai 29 kasus.
Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang dr. Hexawan Tjahja Widada, ketika ditanya soal perkembangan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut, Minggu (16/11/2025).
Dokter Hexa, panggilan akrab dr. Hexawan Tjahja Widada, M.KP mengungkapkan, musim penghujan seperti saat ini membuat perkembangan DBD terus merebak. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Para pasien dirawat di Puskesmas, serta rumah sakit swasta dan milik pemerintah.
Di antaranya, Puskesmas Plumbongambang Kecamatan Gudo, kemudian di Rumah Sakit Hasyim As’yari Tebuireng Kecamatan Diwek, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU), RS Pelengkap Jombang , RSK Mojowarno, RSUD Ploso, serta RSUD Jombang.
“Tni data se-Kabupaten Jombang, baik yang dirawat Puskesmas maupun pasien DBD yang dirawat di RS milik pemerintah dan swasta,” ujar dokter Hexa.
Hexa mengatakan, aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Uniknya, hanya nyamuk Aedes aegypti betina yang menyebarkan virus tersebut, sedangkan nyamuk jantan tidak.
Nyamuk aedes aegypti mudah dikenali melalui warna dan bentuknya. Ciri khas nyamuk ini adalah ukurannya yang kecil dan memiliki tubuh berwarna hitam dengan belang putih di sekujur tubuhnya.
Nyamuk ini dapat terbang hingga 1 kilo meter, sehingga penyebaran virus dengue dapat terjadi hingga jarak yang jauh dari tempat nyamuk bersarang. Nyamuk Aedes aegypti memilih bersarang dan bertelur di tempat yang lembap, seperti genangan air yang jernih.

Di dalam rumah, nyamuk ini banyak ditemukan berkembang biak di tempat penampungan air, misalnya bak mandi, vas bunga, talang air, atau tempat minum hewan peliharaan, serta ban bekas di luar rumah.
dr Hexa mengungkapkan, upaya PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) yang dilakukan oleh 34 Puskesmas yang adas di Kabupaten Jombang. Selain itu, imbauan ke masyarakat juga terus dilakukan. Baik sosialisasi secara langsung maupun imbauan PSN melalui media sosial.
“Harapan saya ke masyarakat selalau waspada terhadap lingkungan sekitar, karena DBD itu tidak akan hilang kalau masyarakat tidak ikut bekerja. Karena DBD itu virus, jadi tergantung aktivitas virusnya,” ujar dr Hexa.
Sementara itu Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran membenarkan bahwa di rumah sakit yang ia pimpin pada Minggu pertama Novemeber merawat delapa pasien DBD. Sebagian besar pasien DBD yang dirawat adalah anak-anak, dengan tiga di antaranya sudah stabil, sementara dua lainnya memerlukan pengawasan ketat di ruang High Care Unit (HCU).
Kondisi DBD, kata dokter Pudji, selalu meningkat saat musim hujan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa. “Tiga anak kondisinya sudah stabil, sedangkan dua lainnya perlu pengawasan ketat,” pungkas dr. Pudji. [suf]






