Lamongan (beritajatim.com) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ulil Abshar Abdalla menyoroti tentang pentingnya konstektualisasi kitab kuning yang ditulis para ulama klasik.
Menurutnya, kontekstualisasi kitab kuning karya ulama klasik itu penting dilakukan agar tetap relevan pada masa kini. Gagasan tersebut juga yang akan diusung dalam Halaqah Ulama Nasional yang digelar RMI PBNU di Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, pada 11-13 Juli 2023 besok.
“Dalam kitab-kitab klasik, kita mengenal istilah kafir dzimmi, saat ini kita perlu bertanya apakah kategori seperti ini masih bisa kita pakai, atau kita pahami ulang secara lebih kontekstual,” kata Ketua PBNU yang akrab disapa Gus Ulil tersebut, Senin (10/7/2023).
“Pertanyaan lain yang harus dipikirkan ulang adalah : bagaimana kedudukan minoritas, terutama minoritas agama, dalam negara bangsa ditinjau dari sudut fikih siyasah kita?,” imbuhnya.
Gus Ulil menegaskan, sudah sepantasnya Indonesia sebagai negara mayoritas Islam terbesar di dunia memiliki identitas kuat yang memiliki ciri khas.
Tidak bisa dipungkiri, sambung Gus Ulil, muslim Asia Tenggara di percaturan global sering dianggap muslim kelas dua karena bukan native speaker bahasa Arab. Bahkan, kajian Islam di negara barat pun didominasi oleh Islam yang berkembang di kawasan Timur Tengah.
“Jarang sekali ditemui pusat kajian Islam di kawasan Melayu di sejumlah perguruan tinggi Timur Tengah, bahkan di Al-Azhar pun belum ada” bebernya.
Baca Juga: Kapolres Lamongan Ingatkan Angka Kecelakaan Naik
Sebagai informasi, halaqah ulama nasional merupakan salah satu agenda besar yang digelar di Lamongan. Kegiatan ini akan menjadi tonggak sejarah bagaimana pesantren turut andil dan berperan aktif dalam memikirkan bangsa dan negara dalam menghadapi tatanan dunia baru.
Selain 500 ulama dan pengasuh pesantren terkemuka dari berbagai provinsi di Indonesia, halaqah ini juga diramaikan oleh para pengasuh pesantren, Forum Komunikasi Pendidikan Muadalah (FKPM), Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (Amali), Asosiasi Pendidikan Diniyah Formal (Aspendif), Forum Komunikasi Pendidikan Pesantren Salafiyah (FKPPS), dan Forum Komunikasi Diniyah Takkmiliyah (FKDT).
Di antara tokoh-tokoh penting yang dijadwalkan bakal hadir adalah Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Menkopolhukam Prof. Dr. KH. Mahfudz MD, Syuriah PBNU, KH. Miftahul Ahyar, Nyai. Hj. Sinta Nuriyah Wahid, Nyai Hj. Alissa Wahid dan lainnya.
Selain itu, kegiatan ini juga tampak lebih semarak dengan berbagai tampilan yang disajikan dalam festival kesenian pesantren saat halaqah.[riq/ted]






