Jombang (beritajatim.com) – Kader IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang Imam Suhrowardi (24) meninggal dunia saat menghadiri Resepsi Satu Abad NU di GOR Sidoarjo Jawa Timur, Selasa (7/2/2023). Korban berangkat ke dari Jombang ke Sidoarjo pada Senin (6/2/2023).
Ketua MWC NU (Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama) Kecamatan Mojowarno Habib Ghofir membenarkan kabar duka tersebut. Almarhum merupakan warga Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno. Imam Suhrowardi berangkat berangkat dari rumah menuju Sidoarjo bersama Teguh, warga Desa Gondek Kecamatan Mojowarno.
Iman dan Teguh berboncengan menggunakan sepeda motor. Mereka sampai di Sidoarjo pada Selasa pukul 22.10 WIB. Namun almarhum tidak langsung ke GOR Sidoarjo. Mereka menginap di rumah Siti Mahmudah di Desa Ketegan Kecamatan Tanggulngin Sidoarjo. Siti merupakan kerabat dari Teguh.
[berita-terkait number=”3″ tag=”satu-abad-nu”]
Selanjutnya pada Selasa (7/2/2023) sekitar pukul 04.00 WIB, Imam dan Teguh berangkat ke GOR Sidoarjo untuk menghadiri Resepsi Satu Abad NU. Sampai di lokasi belum ada keganjilan. Namun sekitar 1,5 jam kemudian Imam mengeluh kurang enak badan. Dia kemudian mengajak Teguh untuk kembali ke rumah kerabatnya.
Teguh menuruti. Keduanya balik kanan menuju Tanggulangin. Setelah itu sekitar pukul 11.30 WIB, Imam melaksanakan salat zuhur di musala dengan rumah kerabat Teguh. Nah, saat rekaat terakhir, Imam jatuh lemas. Teguh yang sebagai makmum pun bingung. Dia meminta tolong warga.
Imam lalu dilarikan ke Klinik Umum dan Bersalin Bunda Desa Ketegan Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo. “Pada pukul 12.30 WIB Imam Surowadi dinyatakan meninggal dunia oleh pihak Klinik Umum Bersalin Bunda Sidoarjo. Keluarga mendapat kabar pada siang itu juga,” kata Ghofir.
Dari Sidoarjo jenazah kader IPNU ini diberangkatkan ke Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno. Menjelang magrib jenazah Imam sampai di rumah duka. Kedatangan almarhum disambut isak tangis keluarga. Termasuk Mustain (57), ayahanda korban. Mustain tak bisa membendung kesedihannya.

“Saat berangkat ke Sidoarjo dia meminjam kopyah saya. Mungkin itu firasat. Ternyata itu pamitan yang terakhir kali. Sosoknya sangat baik,” kata Mustain sembari menunjukkan foto sang anak.
Selepas salat magrib jenazah Imam dibawa ke peristirahatan terakhir di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Desa Gedangan. Hingga malam ini petakziah terus berdatangan di rumah Mustain. Mereka datang untuk menyampaikan duka cita mendalam.
Seperti diketahui, kelahiran NU pada tahun 1926. Ada tiga kiai yang menjadi pendiri organisasi tersebut, yakni Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dari pesantren Tebuireng, KH Abdul Wahab Chasbullah dari pesantren Tambakberas, serta KH Bisri Syansuri dari pesantren Denanyar Kabupaten Jombang.
Sebelum mendirikan NU, KH Wahab Chasbullah merintis embrio organisasi itu. Di antaranya, Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran) pada tahun 1918.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pesantren-tebuireng”]
Selanjutnya, dilakukan koordinasi dengan para kiai, akhirnya disepakati membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (kalender Hijriah), bertepatan dengan 31 Januari 1926 (masehi). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar. Nah, pada tahun ini (kalender hijriah), usia NU 100 tahun atau 1 abad.
Lambang NU sendiri memiliki latar warna hijau dengan gambar bola dunia, ikatan tali, tulisan arab, dan 9 bintang. Sosok yaang membuat lambang atau logo NU yakni Kiai Ridwan Abdullah. Sedangkan pencetus nama Nahdlatul Ulama (NU) adalah Kiai Mas Alwi Abdul Aziz. [suf]






