Malang (beritajatim.com) – Muhammad Al Fayyadl atau Gus Fayyadl meluncurkan buku terbaru berjudul Derridean. Acara yang diadakan oleh penerbit Edisi Mori tersebut berlangsung di kafe Ekologie Malang pada Sabtu (4/3/2023) malam.
Launching dan book signing tersebut dihadiri langsung penulis, Muhammad Al Fayyadl. Selain itu ada kata sambutan dari Prof Dr Djoko Saryono, M.Pd (guru besar Universitas Negeri Malang) dan pengulas R.H Authonul Muther (editor buku Derridean).
Prof Djoko, pada sambutannya memandang bahwa buku terbaru Gus Fayyadl tersebut memperkaya dan menyambungkan kembali diskursus tentang Jacques Derrida. Menurutnya buku ini memberikan pemandangan horizon pemikiran Derrida yang luas.
“Namun, pemikiran Derrida itu tidak bisa disketskan dalam pertemuan singkat. Saya ingin mengatakan bahwa dibanding penulis lain , tulisan ini lebih luas, di sisi lain secara aspektual dan spesifik Derrida hanya menjadi cuilan tulisan orang lain,” ujar Guru Besar bidang sastra tersebut.
Menurut Djoko, dari buku tersebut dapat diketahui tiga hal. Pertama, Derrida tidak bisa dibatasi sebagai orang yang mencetuskan dekonstruksi saja. Kedua, Derrida tidak bisa dibatasi tidak bisa sebagai pencetus gramatologi. Ketiga, Derrida tidak bisa dibaca memikirkan filsafat tanpa mendialogkan pemikiran baru.
[berita-terkait number=”4″ tag=”nu”]
“Melalui buku ini, pembaca dikocok dan dihadapkan pada padang sabana pemikiran Derrida yang sangat luas. Itu pemetaan dari Gus Fayyadl secara mozaik dengan karya Derrida yang sangat banyak. Buku ini berisi padang sabana pemikiran Derrida yang luas dan tidak terbatas pada dekonstruksi saja,” pungkas Prof Djoko.
Editor buku, Erha Authonul Muther (Ririd) memandang jika buku terbaru Gus dari Pondok Pesantren Nurul Jadid itu banyak bernuansa filsafat politik. Bagi Ririd, penulis memiliki sumbangsih besar kepada kaum yang terpinggirkan.
“Alain Bodiau menjuluki beliau (Gus Fayyadl) sebagai pemikir dan pejuang, tidak hanya duduk dengan teks tapi juga turun memeluk rakyat yang tertindas. Gus Fayyadl tidak hanya berfilsafat, juga bertindak mereka yang lemah,” kata Ririd.
Sementara itu, penulis buku Derridean menceritakan proses kreatifnya dalam menulis. Pria yang sebelumnya menerbitkan buku berjudul Derrida itu mengaku sudah mulai menulis sejak usia 14 tahun.
“Saat ini ada dua paradoks dalam rute pengalaman pemikiran yang pernah saya alami. Paradoks pertama terlalu sedikit menulis, pada saat yang lain terlalu banyak hal untuk ditulis. Paradoks yang kedua, saya merasa terlalu banyak yang ingin dibaca, tapi terlalu sedikit yang benar-benar menarik untuk dibaca,” kata Gus Fayyadl.
Dia menguar dua lema kepada para peserta yang hadir tentang membaca dan menulis. “Sudahkah kita membaca ? Sudahkan kita menulis? Kita bisa melakukan investigasi kebudayaan terhadap cara kita hidup, menerbitkan buku, berdiskusi, dan berkomunikasi,” sambungnya.

Pria alumni Universite Paris atau Universitas Vincennes di Saint-Denis itu memberikan dua tips untuk mahasiswa yang tertarik pada filsafat. “Pertama, jika anda membaca seorang filosof, janganlah baca karya filsuf tersebut, tapi bacalah tulisan yang dibaca filsuf tersebut,” ujar Fayyadl.
“Kedua membaca filsuf atau penulis, bukanlah membaca apa yang dia tulis. Tapi membaca apa yang dibaca, melalui apa yang dia tulis . Sehingga kita menemukan jejak apa yang dia baca dari yang dia tulis, dan jejak apa yang dia tulis apa yang dibaca,” sambungnya.
Menurutnya, tidak ada yang namanya originality of author, penulis adalah penjahit dari pemikiran-pemikiran sebelumnya. Dari cara itu, penulis mencoba menghasilkan istinbath.
“Derrida tidak menulis untuk mengeluarkan opininya, dia membajak pikiran orang lain untuk diolah jadi tulisan sendiri. Penulis sudah mati kata Roland Barthes, saya tidak setuju dengan dia. He is Dying (Dia Sekarat) penulis memanggil kita agar membaca tulisannya,” katanya.
Dekonstruksi, menurut Fayyadl, adalah cara kerja (suatu operasi), meletakkan suatu teks di dalam operasi tertentu. “Hal yang menarik dari dekonstruksi, sehebat apapun konstruksi dia akan terdekonstruksi. Ketika kita berpikir tentang sesuatu, maka apa yang dipikirkan akan langsung mengonstruksi objeknya,” ungkapnya.
Hal menarik dan penting dari Derrida, bukan apa yang dia bicarakan, tapi apa yang dia pikirkan. Derrida mengajak pembaca dan penelaahannya berpikir apa yang dia bicarakan.

“Derrida berfilsafat ala kura kura atau paradoks Achilles tentang kura kura yang berkompetisi dengan hewan yang lebih cepat. Kura kura itukan lambat dan cermat meneliti cara jalannya sendiri, dan filsafat tidak bisa dipaksa untuk memberi jawaban instan. Filsafat yang serius tidak berangkat dari aktivitas membaca atau menulis yang main-main,”
Pada akhir penyampaian Gus Fayyadl memandang jika Derrida punya kontra pada modernitas. “Modernisme menuntut kita untuk tunduk pada tirani waktu. Maka, membaca dan menulis adalah upaya untuk membebaskannya,” pungkasnya. [dan/but]






