Surabaya (beritajatim.com) – Mengenal salah satu buku yang sedang menjadi best seller berjudul Laut Bercerita karya dari Leila S. Chudori. Kerangka dari buku karya Leila S. Chudori berisi atas dua bagian yaitu mengenai sudut pandang seorang mahasiswa aktivis bernama Laut yang menceritakan tentang Laut dan kawan-kawannya menyusun rencana dengan berpindah-pindah dalam pelarian sampai akhirnya mereka tertangkap oleh pasukan rahasia.
Di bagian kedua kedua menceritakan tentang Asmara, adik Laut. Disini, fenomena yang diangkat adalah perasaan keluarga korban penghilangan paksa dari pencarian kerabat mereka entah berada dimana.
Mereka berusaha mencari sebuah harapan mengenai kehidupan kerabatnya apabila dia diseka. Namun, jika memang sudah mati setidaknya ada tempat untuk menguburkan. Disamping itu, ada bahasan tentang perasaan korban selamat hingga para pelaku yang dipenjara.
Leila mampu menciptakan suasana kelam dalam novel namun tetap menyenangkan dibaca. Adanya drama dan tragedi yang nyata dengan unsur nostalgik memberi perasaan pilu hingga melankolis bagi pembaca.
Selain itu, ada dua sudut pandang berbeda secara tidak langsung mengajak pembaca berempati karena dapat memahami posisi berbagai pihak yang berada dalam kasus penghilangan orang paksa itu.
Demi membentuk akurasi pendalaman emosi yang baik bagi pembaca ketika membaca Laut Bercerita. Hal ini dikarenakan penulis melakukan wawancara langsung pada korban dan kerabat yang mengalami tragedi penculikan tahun 1998.
[berita-terkait number=”3″ tag=”buku”]
Selain itu, adanya buku ini menjadi sebuah bentuk bentuk tribute bagi para aktivis yang diculik, berhasil kembali, korban yang tak kembali bahkan keluarga yang masih penasaran untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mereka.
Keunggulan Buku dari Laut Bercerita membuat kita memiliki perspektif baru. Jadi, bukan hanya tentang banyaknya orang yang hilang tapi mengenai pembuktian kasus mereka yang ada kejelasan.
Apalagi dari pemilihan setiap kata yang digunakan pada setiap surat demi surat mampu membuat pembaca ikut merasakan emosi dari pengirim surat.
Sedangkan dari segi bahasa yang digunakan dapat dikatakan mudah dipahami untuk membahas tentang sejarah Indonesia yang tak tertulis di buku sekolah. (PRD/ian)






