Jember (beritajatim.com) – Muhammad Fawait, politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dari Kabupaten Jember, menjadi kandidat peraih suara terbanyak untuk pemilihan calon legislator DPRD Jawa Timur tahun ini.
Berdasarkan hasil rekapitulasi internal Gerindra, Fawait memperoleh lebih dari 205 ribu suara untuk Daerah Pemilihan Jember dan Lumajang. “Saya kaget juga memperoleh suara segitu banyak. Saya kira suara saya tinggal separuh karena sebagian basis pemilih sudah saya arahkan untuk mendukung Bu Hermin, yang juga Ketua Srikandi Laskar Sholawat Nusantara,” katanya, Senin (19/2/2024).
Saat Pemilu 2019, Fawait meraup dukungan 228 ribu suara. ‘Tapi saat itu saya tidak ‘membawa’ caleg lain. Kali ini saya juga membantu Bu Hermin menjadi caleh DPRD Jatim. Insyaallah Bu Hermin juga terpilih. Bu Hermin ini orang baru, kalau kuliah fresh graduate-lah,” katanya.
Fawait menyambangi sebagian basis pemilihnya dan meminta mereka untuk memilih Hermin. “Tapi tetap saja ada yang memilih saya. Saya merasa terharu,” katanya.
Fawait merasa terbantu oleh loyalitas pemilih perempuan paruh baya yang disebut emak-emak. “Kami sejak awal jadi anggota DPRD Jatim selalu turun setiap kali reses maupun di luar masa reses menyapa emak-emak, ngomong dari hati ke hati. Apapun yang diusulkan masyarakat Jember dan Lumajang kami selalu perjuangkan semaksimal mungkin,” katanya.
Keberhasilan meraup suara besar ini, menurut Fawait, menunjukkan bahwa politik uang tak selamanya ampuh dalam pemilu. “Kalau orang banyak berpendapat bahwa money politics itu berpengaruh pada hasil perolehan pemilu legislatif, tidak sepenuhnya benar,” katanya.
“Anda bisa cek apakah saya melakukan money politics? Tidak. Saya selalu menyapa, mengaji bareng, ketawa-ketawa bareng, apel salawat, mendengarkan apa yang dibutuhkan emak-emak dan berusaha memperjuangkannya. Perkara berhasil atau tidak, itu urusan kesekian. Yang penting kami berusaha memperjuangkan aspirasi yang disampaikan,” kata Fawait.
Fawait menyebut kunci loyalitas adalah keberhasilan menjaga amanat pemilih dan tidak berjarak dengan masyarakat. “Mau mereka dikasih uang siapapun, insyaallah tidak berpengaruh, karena kekuatan hati kami dan konstituen terjaga,” katanya.
Fawait berjanji tetap konsisten menyapa konstituen setelah terplih lagi. Ia juga akan mulai menggarap penanganan tengkes (stunting) di Jember. “Stunting ini bencana jangka panjang. Bayangkan kalau makin banyak anak Jember kena stunting, maka 10-20 tahun mendatang, generasi penerus ini tidak akan bagus kualitasnya. Ini karena stunting lebih buruk daripada gizi buruk. Ini gizi buruk berkelanjutan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak,” katanya.
“Bagaimana kita membangun Jember lebih baik 10-20 tahun lagi, kalau anak-anak Jember saat ini mengalami stunting. Pasti terkait kecerdasan dan sebagainya akan tertinggal,” kata Fawait.
Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Airlangga Surabaya ini juga akan memberikan perhatian terhadap penanganan penyakit HIV/AIDS dan TBC. “Angka kasus di Jember salah satu yang terbesar di Jawa Timur. Ini jadi cambuk agar bagaimana HIV/AIDS dan TBC ini menjadi masalah kita bersama dan sama-sama mencari solusi,” katanya.
“Artinya masih banyak pekerjaan rumah di Jember yang harus kita pecahkan bersama. Mudah-mudahan di periode ketiga saya ini bisa membantu masyarakat Jember untuk mengatasi stunting dan mengatasi masalah kesehatan lainnya. Di Lumajang pun, kami tak akan meninggalkan dan akan terus memperjuangkan,” kata Fawait. [wir]






