Surabaya (beritajatim.com) – Seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Surabaya, AR (38) ditangkap polisi usai mencabuli 7 siswanya. Aksi bejat itu dilakukan 4 kali mulai bulan Januari-Februari 2023. Dari pengakuannya, pelaku nekat mencabuli siswa karena kecanduan seks.
Psikolog Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, Dra Mierrina menyebut bahwa kecanduan seksual adalah bentuk perilaku maladaptif yang tidak terkendali. Sehingga, membawa konsekuensi negatif pada individu.
“Dalam hal ini merupakan suatu gangguan psikologis yang mengarah pada ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilaku seksualnya,” ujar Mierrina kepada beritajatim.com, Kamis (2/3/2023).
BACA JUGA:
Polrestabes Surabaya Tangkap Oknum Guru Cabul di MI Tambaksari
Mierrina mengatakan, kecanduan seksual merupakan perilaku seksual yang sudah berlebihan. Jika dibiarkan, hal itu akan berdampak pada kondisi distress berat dan putus asa bagi individu yang juga memungkinkan untuk melakukan tindakan merugikan individu lain.
“Di antaranya adalah melakukan pencabulan atau pelecehan seksual kepada individu lain yang lebih lemah dari dirinya,” kata Praktisi Psikologi Siloam Hospital Surabaya tersebut.
Mierrina juga menyoroti banyaknya anak-anak yang menjadi korban pencabulan. Menurutnya, kasus pelecehan seksual banyak menyasar individu yang dipersepsikan oleh pelaku sebagai individu yang lebih lemah, salah satunya anak-anak.
BACA JUGA:
Guru Surabaya Kecanduan Film Porno, 7 Siswa Jadi Korbannya
“Anak-anak biasanya lebih mudah terperdaya oleh bujukan manis atau iming-iming dari pelaku, dalam hal ini anak-anak dianggap sebagai mahluk yang belum memiliki kekuatan, tidak berdaya, dan memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang lain serta orang dewasa yang ada di sekitarnya,” jelas Mierrina.
Secara kemampuan kognitif, lanjut Mierrina, anak usia dini masih pada tahapan berpikir di tingkat simbolik dan belum menggunakan operasi kognitif. Sehingga, anak masih belum sepenuhnya bisa menggunakan logika atau mengubah, menggabungkan atau memisahkan ide, atau pikiran.
“Karenanya di saat anak mendapatkan iming-iming tertentu, anak akan menerjemahkan bahwa hal itu adalah simbol kebaikan tanpa berpikir ada unsur bahaya di balik itu,” tandasnya. [ipl/suf]






