Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Suryani Dyah Astuti mengembangkan Aenose, alat berbasis artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi kesegaran daging secara cepat dan akurat.
Inovasi ini dirancang sebagai solusi praktis bagi masyarakat dalam memastikan kualitas bahan pangan tanpa merusak sampel.
Suryani mengatakan, Aenose berangkat dari pengembangan teknologi electronic nose atau e-nose yang meniru cara kerja indra penciuman manusia. Ketertarikan tersebut muncul setelah melihat keberhasilan e-nose buatan UGM yang digunakan untuk deteksi dini Covid-19.
Dari situ, konsep serupa diterapkan untuk kebutuhan pangan, khususnya mendeteksi kesegaran daging.
“Kami tertarik mengaplikasikan E-Nose atau Electronic Nose ini, yaitu Artificial Nose yang meniru cara hidung manusia bekerja, untuk digunakan dalam deteksi dini bahan pangan,” ungkapnya, dikutip Senin (15/12/2025).
Setelah melakukan benchmarking dengan penemu e-nose UGM, Prof. Kuwat Triyana, Suryani bersama mahasiswa pascasarjana Unair mengembangkan sistem tersebut menjadi Aenose.
Alat ini menggunakan sensor TGS dan MQ yang dikembangkan khusus untuk membaca senyawa bau hasil metabolisme daging dan aktivitas bakteri.
Menurut Suryani, Aenose mampu mengklasifikasikan daging segar dan tidak segar dengan tingkat akurasi sekitar 90 persen. Prosesnya cepat, bersifat portable, dan non-destruktif.
Bau yang terdeteksi sensor diubah menjadi sinyal listrik, lalu dianalisis menggunakan kecerdasan buatan untuk menentukan tingkat kesegaran daging.
“Sensor ini mampu mengklasifikasikan daging yang tidak segar maupun daging yang segar dengan akurasi yang sangat tinggi, yaitu 90 persen,” jelas Suryani.
Ia menjelaskan, berbeda dengan penciuman manusia yang subjektif dan dipengaruhi kondisi kesehatan, Aenose bekerja dengan sistem sensor larik yang lebih stabil dan konsisten. Hal ini membuat hasil deteksi lebih objektif dan dapat diandalkan.
Dalam pengembangannya, Suryani mengakui masih ada tantangan, terutama terkait ketersediaan sensor dan komponen elektronik yang sebagian besar masih impor. Tim peneliti harus mencari alternatif komponen dengan kualitas setara agar alat tetap optimal.
Meski begitu, upaya hilirisasi terus dilakukan. Saat ini, pengembangan Aenose telah menggandeng mitra industri, PT Sarandi Karya Nugraha, yang bergerak di bidang alat kesehatan. Kolaborasi ini ditujukan agar inovasi tersebut bisa diproduksi dan dimanfaatkan secara lebih luas.
Selain Aenose, Suryani juga mengembangkan sejumlah inovasi lain, seperti Skinolaser untuk mempercepat penyembuhan luka pasca operasi yang kini memasuki tahap uji klinik, serta laser perikanan untuk mendukung budidaya ikan.
Ia berharap dosen muda dan mahasiswa berani berinovasi dan konsisten mengembangkan riset dari persoalan nyata di sekitar.
Menurutnya, dasar teknis yang kuat dan kemauan untuk terus belajar, termasuk berkolaborasi dengan industri, menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberi dampak nyata bagi masyarakat. [ipl/aje]






