Surabaya (beritajatim.com) – Tim mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengolah limbah plastik sekali pakai menjadi produk tas bernilai ekonomi.
Lewat inovasi bertajuk Revoplast, plastik kresek dan trash bag yang selama ini berakhir di tempat pembuangan akhir disulap menjadi tote bag, handbag, hingga slingbag yang fungsional.
Produk tersebut dipamerkan dalam Student Impact Venture Showcase 2025 di Kampus II Unesa Lidah Wetan, Rabu (10/12/2025), sebagai bagian dari Program Bootcamp Kewirausahaan 2025. Revoplast digagas mahasiswa lintas Program Studi S1 Ekonomi dan S1 Manajemen angkatan 2023.
Ketua tim Revoplast, Fajar Yulianto, mengatakan ide ini berangkat dari keresahan melihat limbah plastik yang terus menumpuk dan sulit terurai.
“Kami ingin mengubah limbah yang dianggap tidak bernilai menjadi produk yang bermanfaat dan punya nilai ekonomi,” ujarnya, Minggu (14/12/2025).
Plastik pascakonsumsi dikumpulkan, dibersihkan, lalu dipilah berdasarkan warna. Bahan tersebut kemudian dipres hingga membentuk lembaran tebal dengan motif alami dari perpaduan warna plastik. Lembaran itu diolah menjadi berbagai jenis tas dengan karakter visual yang berbeda-beda.
Menurut Fajar, tidak ada dua produk yang benar-benar sama. Motif yang terbentuk secara alami justru menjadi nilai tambah. “Kami ingin menunjukkan kalau sampah plastik bisa jadi produk yang keren dan layak jual,” katanya.
Proses produksi masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, mulai dari pengaturan suhu mesin press hingga ketebalan bahan yang tidak selalu seragam.
Kondisi tersebut kerap memengaruhi hasil motif dan desain tas. Meski begitu, tim terus melakukan penyesuaian agar kualitas produk tetap terjaga.
Selain tahan air dan memiliki desain unik, Revoplast dipasarkan dengan harga terjangkau. Seluruh produk menggunakan 100 persen plastik pascakonsumsi.
Fajar menyebut, setiap tas yang diproduksi ikut mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik.
Ke depan, tim mahasiswa Unesa ini menyiapkan pengembangan produk lain seperti pouch, tas laptop, dan aksesori fashion. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan desainer lokal dan memperkuat pemasaran melalui e-commerce serta sistem reseller.
Di sisi keberlanjutan, Revoplast merancang program take-back product agar produk lama bisa didaur ulang kembali.
Melalui Revoplast, mahasiswa Unesa berupaya menunjukkan bahwa pengelolaan limbah plastik tidak selalu berhenti pada daur ulang konvensional, tetapi bisa dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan. [ipl/suf]






