Jember (beritajatim.com) – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut kawasan Tapal Kuda Jawa Timur sebagai masa depan ekonomi nasional.
“Tapal Kuda adalah the future of national economy of Indonesia,” kata Perry, dalam pidatonya saat mengukuhkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha, di Gedung Serba Guna Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Senin (5/1/2026).
Perry meminta seluruh kepala daerah di Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso bekerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Jember “Bagaimana kita bersama BI memajukan ekonomi di Tapal Kuda untuk ekonomi nasional dan juga untuk ekonomi rakyat,” katanya.
Menurut Perry, Bank Indonesia telah melihat potensi Tapal Kuda dengan meresmikan depo kas utama wilayah timur di Gresik yang mendistribusikan uang di seluruh wilayah timur.
Perry menyebut lima peran pokok Bank Indonesia yang bisa didorong semaksimal mungkin untuk kemajuan ekonomi wilayah Tapal Kuda. “Satu, bagaimana harga-harga terkendali. Namanya perut harus diisi. Kalau perut diisi, mestinya harga-harga terjangku. Alhamdulillah wilayah Jember inflasinya lebih rendah daripada nasional,” katanya.
Perry mengajak semua kepala daerah di Tapal Kuda untuk menstabilkan harga. “Terutama di daerah-daerah seperti ini adalah harga pangan yang suka naik turun,” katanya.
Peran Bank Indonesia berikutnya, menurut Perry, adalah memajukan pertumbuhan ekonomi di wilayah Tata Kuda. “Alhamdulillah wilayah Jember ini pertumbuhan ekonominya juga di atas nasional. Ini berhubungan dengan kami membangun depo kas utama untuk wilayah timur, karena peredaran uang mengikuti ekonomi dan wilayah ini akan mengendalikan juga untuk wilayah timur (Indonesia),” katanya.
Wilayah Tapal Kuda merupakan sentra pertanian yang tidak hanya memenuhi kebutuhan Jawa Timur, namun juga wilayah timur Indonesia. “Sehingga kenapa wilayah pertanian ini kita sebut hilirisasi pertanian untuk ketahanan pangan. Bagaimana misalnya di sini pisangnya yang manis-manis, bisa diproses menjadi keripik pisang, singkong dan edamamenya diekspor ke Jepang,” kata Perry.
Perry menegaskan, komtmen Bank Indonesia membantu produksi sektor pertanian dengan metode green farming. “Tapi lebih dari itu adalah hilirisasi diproses produksi lebih lanjut, dan bisa diekspor ke wilayah timur Indonesia, dan apalagi ke luar negeri. Itu adalah sumber pertumbuhan ekonomi di Tapal Kuda,” katanya.
Sumber pertumbuhan ekonomi kedua di Tapal Kuda adalah manufaktur. “Karena di wilayah Tapal Kuda banyak juga kawasan ekonomi khusus. Dari Surabaya sampai ke Gresik, ke timur, ke Lumajang, banyak kawasan ekonomi yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi untuk manufaktur,” kata Perry.
Oleh sebab itu, menurut Perry, Bank Indonesia membantu mempromosikan investasi manufaktur itu. “Bagaimana mengisi kawasan-kawasan industri, kawasan ekonomi khusus itu, tidak hanya dengan perusahaan manufaktur dari Indonesia tapi jaga di luar negeri,” katanya.
Berikutnya, lanjut Perry, adalah pengembangan usaha mikro kecil menengah. “UMKM binaan Bank Indonesia selalu go nasional, go global,” katanya.
Peran ketiga Bank Indonesia, kata Perry. adalah melakukan percepatan digital. Dia sudah berpesan kepada Bank Indonesia Perwakilan Jember untuk mendigitalkan wilayah Tapal Kuda dan memperluas penggunaan QRIS. Bank Indonesia sudah bersepakat dengan Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Dalam Negeri untuk memperluas penggunaan QRIS maupun meningkatkan pendapatan asli daerah.
“Anak-anak muda diajari start up. Tahun ini kami akan memilih 800 tim. Kami akan didik untuk start up, fin-tech segala macam, dua bulan penuh dengan biaya penuh Bank Indionesia, untuk bagaimana mendesain bisnis model start up,” kata Perry.
“Macam-macam. Mau untuk jualan UMKM boleh, jualan makanan boleh. Untuk transaksi keuangan pemerintah daerah juga boleh. Dua bulan kami akan didik dan dua bulan kemudian kami akan undang investor kalau mau mau membiayai hasil karyanya, dan insyaallah sekitar 80 (kelompok) menjadi juara nasional yang sudah bisa langsung berbisnis digitalisasi,” kata Perry.
Perry menyebut peredaran uang di wilayah kerja Bank Indonesia Jember masih besar. “Dan lebih banyak outflow. Lebih banyak keluar. Kita harus memastikan terutama, di bulan Februari memasuki Ramadan, kita pastikan uang kita layak edar. dan juga memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Namun di sisi yang lain, Bank Indonesia berkepentingan program digitalisasi keuangan berhasil sehingga tingkat peredaran uang kertas lebih rendah.
“Jadi di daerah sangat penting tidak hanya meningkatkan PAD, tapi juga memberikan lapangan kerja bagi anak-anak muda, yang semakin lama kebutuhan uangnya bisa digantikan dengan QRIS,” kata Perry.
Terakhir, lanjut Perry, adalah pengembangan ekonomi kerakyatan. “Di wilayah Situbondo, kami juga mengembangkan tidak hanya UMKM, ketahanan pangan, tapi juga ekonomi, keuangan syariah,” katanya.
Perry sempat berkunjung ke Pondok Pesantren Sidogiri yang merupakan mitra Bank Indonesia. “Pondok-pondok pesantren sekarang adalah sumber pertumbuhan ekonomi dan keuangan,” katanya. Dia berharap pemerintah daerah di Tapal Kuda dan Bank Indonesia bisa bekerja sama dengan baik. [wir]






