Surabaya (beritajatim.com) – Ketua DPP PDI Perjuangan, MH. Said Abdullah merespons pertanyaan media atas pilihan politik Golkar dan PAN yang berlabuh menjadi bagian dari Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR). Dua partai itu merapat ke Prabowo Subianto.
“Pertama, kami dari PDI Perjuangan sangat menghormati pilihan dan kedaulatan masing-masing partai. Tentu saja hal ini mencerminkan tumbuhnya demokrasi dengan baik. Kedua, dengan kerja sama politik yang saat ini sudah yang sudah terjalin antara PDI Perjuangan, PPP, Hanura dan Perindo, tentu kami akan makin menguatkan basis dukungan ini untuk dukungan kepada Ganjar Pranowo sebagai bakal calon presiden 2024,” tegas Said melalui pernyataan tertulisnya, Minggu (13/8/2033).
Sebagai bahan cerminan, menurut Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim ini, pada Pilpres 2014, pasangan Jokowi dan Jusuf Kalla hanya diusung oleh PDI Perjuangan, PKB, NasDem, Hanura dan PKPI. Walau saat itu dari sisi jumlah dukungan partai di pilpres kalah jauh, namun dengan soliditas dan kerja politik yang kuat di akar rumput terbukti pasangan Jokowi-JK justru mampu memenangkan Pilpres dengan perolehan suara 53,15 persen, sementara Prabowo-Hatta 46,88 persen.
Baca Juga: Wabup Blitar Ancaman Mundur dari Jabatan, Buntut Dugaan Kasus Pungli
“Karena itu, dalam keyakinan politik kami, kerja cerdas, dan kepedulian tinggi ke akar rumput, kami yakin bisa merebut dukungan rakyat pada Pilpres 2024 lebih besar. Itulah yang akan terus kami pedomani sebagai jalan politik untuk memenangkan Ganjar Pranowo,” tukasnya.
Ketiga, lanjut dia, PDI Perjuangan memiliki sejarah panjang sebagai partai yang dididik dan dibesarkan dengan terbiasa dikeroyok secara politik. Di masa orde baru, PDIP mengalami hal itu, dan di masa Jokowi-JK, begitu pula saat ini.
“Oleh sebab itu bagi segenap kader PDI Perjuangan perlu kami ingatkan, kita pernah mengalami pahit getirnya sejarah, justru dari pengalaman panjang itulah kita harus memperkuat mental juang. Kita harus bisa setegak tegaknya melalui jalan terjal politik, dan dengan begitulah mental juang kita terbentuk. Kita tidak boleh terlena manisnya kekuasaan, dan melupakan jati diri sebagai partai sandal jepit, sebagai partai yang disokong oleh barisan pemberani yang terbiasa ‘nggetih’,” jelasnya.
Dengan berkaca pada jati diri itulah, pihaknya optimistis bisa berjalan dan melangkah bersama dengan semangat juang memenangkan Pemilu 2024.
Baca Juga: Usai Bertemu Puan, Golkar Malah Dukung Prabowo sebagai Bakal Capres 2024
Keempat, PDIP masih punya kawan seiring, sejalan dalam berpolitik memenangkan Ganjar Pranowo. Ada PPP yang memiliki kekuatan barisan kiai dan santri yang teguh dalam jalan dakwah politik. Kemudian, kawan seiring dengan Partai Perindo yang memiliki jaringan kekuatan media, serta Partai Hanura yang punya kekuatan pendukung yang patut diperhitungkan, khususnya di luar Jawa.
Atas modal politik yang saling melengkapi ini, maka PDI Perjuangan dengan kekuatan politik yang ada merasa besar hati atas konfigurasi politik ini. Karena konfigurasi politik dengan latar belakang yang beragam dan saling melengkapi telah menjadi modal dasar politik yang penting untuk memenangkan Ganjar Pranowo.
Kelima, Ganjar Pranowo diyakini sebagai figur yang prospek magnet elektoral sangat besar hingga masa coblosan 14 Februari 2024 nanti. Ganjar Pranowo memiliki banyak keunggulan komparatif, rekam jejaknya yang baik selama memimpin Jawa Tengah, komitmennya yang tinggi terhadap pemerintahan yang bebas korupsi, dan bebas konflik kepentingan, serta iman politiknya yang tebal dalam menjalankan jalan politik kebangsaan yang menjaga toleransi, keragaman budaya, suku dan agama, serta pribadinya yang santun, dan rendah hati.
“Potensi inilah yang akan terus kami sampaikan ke rakyat, bahwa sesungguhnya mereka memiliki sosok calon presiden yang memiliki keunggulan kualitatif yang bisa menjawab tantangan masa depan bangsa dan negara kita,” pungkasnya. (tok/ian)






