Surabaya (beritajatim.com) – Umumnya pasangan yang sudah menikah ingin diberikan kepercayaan untuk hamil dan melahirkan anak yang lucu dan menggemaskan, baik dalam waktu dekat ataupun tidak. Bahkan, ada istilah banyak anak banyak rejeki.
Hingga banyak istri yang menunggu hingga belasan atau bahkan puluhan tahun untuk dapat hamil. Berbagai cara pun telah diupayakan pula dengan do’a yang senantiasa dipanjatkan. Namun, hal berbeda pada kebanyakan wanita, Gita Savitri Devi memilih untuk tidak memiliki anak.
Penulis sekaligus konten kreator ini mengungkapkan dalam Instagram story-nya bahwa ia dan suami sepakat untuk tidak memiliki anak. Menurutnya, keputusan tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap egois. Justru sebaliknya.
Pilihan untuk memiliki seorang anak pasti memerlu perencanaan yang matang. Gita khawatir jika ia tidak dapat mempertanggungjawabkannya, hal itu justru hanya akan membuat anaknya terluka.
“Most likely my imaginary kid would be medocre, living mediocre life seperti milyaran manusia di dunia ini. So, better not. Kasian dia… Dunia udah kaco dan hidup makin lama makin susah. Setting the kid up for failure,” tulisnya.
Gita sadar betul mengenai keputusannya yang memang tidak umum dilakukan, terlebih di Indonesia. Ia pun tahu jika hal tersebut akan menimbulkan kontroversi di masyarakat.
“Kita bahas satu aja aspek dari children yah. Narasi “egois” sering banget dilontarkan, Emangnya beneran egois? Buat gue enggak. Malah sebaliknya…
Menurut qw, orang yang memutuskan tidak punya anak itu sangat pemberani dan berpikir panjang. Dia berani untuk memkonfrontasi & mempertanyakan lagi realitas di sosialnya bahwa CUSTOM-nya manusia ya punya anak. Laki/perempuan harus punya anak. Gue sebagai perempuan dari kecil SELALU dikasi tau bahwa “nanti kalo kau udah punya anak”. Selalu. Jatohnya kayak disirep. Baru umur 20an lah gue sadar bahwa “eh…tunggu dulu. Do-as a woman-have a choice???? Apparently I do!!!”. Damn.. Rasanya kaya dapat eureka moment keluar dari cult!!
Dia berani utk tanya ke diri sendiri “Ini beneran keinginan yang muncul secara sadar atau karena gue dibesarkan di dunia yang tidak memperlihatkan gue alternative lain soal procreating??”
Dia berani hanya ke diri sendiri “is it worth it??”. Being parent is HARD WORK. What your parents did to you when you were a child LASTS. The good, the bad… They all MOULDED into the person you are today. Dia berani menerima kenyataan bahwa “wow the I loooveee so much with all my heart to live in.”
Malah kalo buat gw… Egois adalah kalo lo pengen punya anak karena lo mau “mini you”. Lo punya anak dan naro certain expectation ke anak lo. Kalo anak lo tidak tumbuh sesuai keinginan lo, lo gak terima (missal: pindah agama, punya sexuality yg ga sesuai sama prinsip lo, punya disability etc),” jelasnya.
Warganet pun turut memberikan tanggapan mengenai pernyataan Gita tersebut.
“Bener sih ini, takut nnti dia nyesel karena punya orang tua kaya aku,” cuit @wimkompiri
“Menikah &punya anak itu pilihan & komitmen. Orang lain ga berhak memaksakan, harus dari orangnya dulu yg siap/enggak. Karena yg struggle mereka sendiri, society ga bantu apa2 Cuma bisa ngejudge,” komen @fillebenie_
“Menurutku, justru wanita yang berani punya anak DAN berdedikasi ngurus anak itulah yg sangat pemberani. Dan buat yang gamau punya anak, it tottaly make sense. Krn emang punya anak itu HARD WORK. Kita ga bisa egois, punya anak tp gamau ngurus, anak jd sengsara. Jadi, apapun keputusannya, punya anak atau tidak itu adalah hak. Gada masalah. Punya alasan masing-masing. Woman also could be an amazing human without having a kid. This is my humble opinion, peace!” ujar @distyoktavia [fyi/bjo]






