Surabaya (beritajatim.com) – Nama Gita Savitri tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen. Pasalnya, Youtuber cantik tersebut memilih untuk childfree. Lalu apakah pro kontra dari keputusan tersebut?
Childfree adalah istilah yang digunakan untuk pasangan yang tidak ingin memiliki anak. Mengutip Wikipedia, Selasa (17/8/2021) istilah childfree popular pada akhir abad ke-20.
Keputusan untuk tidak memiliki anak tersebut dinilai pro kontra karena mendapatkan komentar dari berbagai kalangan. Berikut ini beberapa pendapat mengenai childfree yang berhasil kami rangkum.
Menurut Psikolog
Melansir Currypsychology, Dr. Shannon Curry, seorang psikologi klinis dan direktur Curry Psychology Group di Orange County, California mengatakan bahwa tekanan sosial yang dialami seorang wanita untuk menikah dan memiliki anak sangatlah besar.
“Umumnya pandangan orang sekitar cenderung mengatakan bahwa jika Anda tidak memiliki anak, maka Anda akan kehilangan pengalaman hidup sebagai seorang ibu yang utuh,” ungkapnya.
Curry juga menambahkan, bahwa persepsi akan kesulitan di usia tua karena tidak ingin memiliki anak hanya sebuah mitos belaka. Menurutnya tidak membesarkan anak juga tidak berarti Anda orang tua yang egois. “Faktanya, tidak ada bukti yang mendukung keyakinan yang maknanya sangat luas ini,” pungkasnya.
Menurut pandangan Islam
Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, KH. Mahbub Maafi mengatakan pasangan yang mengikuti tren childfree hukum pernikahannya sah, namun syarat nikahnya tidak terpenuhi. Pendapat ini sejalan dengan pesan Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan untuk menikahi wanita yang subur. “Manusia disuruh untuk berketurunan apabila mereka menikah,” terangnya.
Kiai Mahbub juga mengatakan ketika sepasang suami istri telah merencanakan enggan untuk memiliki keturunan padahal secara biologis mereka mampu, maka pasangan tersebut telah menabrak syarat utama dari pernikahan. Selain itu bagi Muslimah, hamil dan melahirlan merupakan kodrat yang harus dijalani sebagai seorang wanita.
Menurut Kesehatan
Mengutip Time, studi yang diterbitkan oleh American Journal of Human Biology pada 2006 menyatakan sebanyak 116 ibu yang melahirkan pada tahun 1886 hingga 2002 kehilangan 95 minggu masa kehidupan mereka akibat melahirkan seorang anak. Hipertensi, diabetes, serta penyakit lainnya terkait kehamilan menjadi alasan pemicu rentang hidup yang pendek. Selain itu kebutuhan gizi dan nutrisi selama kehamilan dan menyusui membuat para ibu enggan untuk memenuhinya. [rsf/bjo]






