Surabaya (beritajatim.com) — DPC Partai Gerindra Surabaya menggelar diskusi bersama Cipayung Plus Surabaya. Pertemuan tersebut membahas program strategis nasional hingga persoalan pembangunan di Kota Surabaya.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh legislatif dari Fraksi Gerindra di antaranya Cahyo Harjo Prakoso, Azhar Kahfi, dan Bahtiyar Rifa’i. Selain itu, hadir pula pimpinan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Surabaya seperti HMI, GMKI, IMM, PMII, GMNI, KMHDI dan PMKRI.
“Prinsipnya kami ingin menyampaikan bahwa sebagai bagian dari pemerintah kami sangat membuka ruang diskusi, masukan, gagasan, bahkan kontradiksi pemikiran demi menjaga semangat bersama mengawal kemajuan bangsa,” ujar Ketua DPC Gerindra Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso, Minggu (26/4/2026).
Diskusi berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh pertukaran gagasan. Berbagai isu yang dibahas mencakup program strategis Presiden Prabowo Subianto seperti MBG dan KDMP, serta tantangan pembangunan di tingkat kota.
“Diskusi berlangsung gayeng dan serius, banyak masukan yang kami terima mulai dari program nasional hingga persoalan Kota Surabaya,” kata Anggota Komisi E DPRD Jatim ini.
Dalam diskusi, mahasiswa menyampaikan berbagai gagasan terkait pembangunan daerah. Mereka mendorong sinergi antara mahasiswa dan legislatif agar kebijakan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil peran aktif dalam mengawal arah pembangunan di Surabaya dan Jawa Timur,” ujar Moch Elok Hakan Multazam dari HMI.
Pandangan serupa disampaikan perwakilan GMKI yang menilai kolaborasi lintas sektor perlu diperkuat. Dialog antara mahasiswa dan legislatif dinilai menjadi ruang penting dalam membangun kemitraan yang sehat.
“Sinergi antara mahasiswa dan legislatif merupakan langkah konkret dalam menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat, dan dialog seperti ini harus terus dijaga,” kata Amos Tampubolon.
Perwakilan organisasi lain juga mengkritisi pentingnya sektor kepemudaan dan pendidikan sebagai fondasi pembangunan. Mahasiswa menegaskan kesiapan menjadi mitra kritis yang tetap menjaga independensi gerakan.
“Mahasiswa siap menjadi mitra kritis yang konstruktif, sekaligus menjaga independensi dalam mengawal kebijakan publik,” ujar Matluk dari PMII.
Cipayung Surabaya juga menekankan peran sebagai jembatan aspirasi masyarakat, khususnya generasi muda. Aspirasi tersebut diharapkan dapat terserap dalam proses perumusan kebijakan publik.
“Kami ingin Cipayung menjadi jembatan aspirasi masyarakat agar suara generasi muda benar-benar masuk dalam kebijakan publik,” kata Alfito Rafif dari GMNI.
Di sisi lain, legislatif menyambut baik inisiatif tersebut dan membuka ruang kolaborasi lebih luas. Sinergi ini dinilai penting untuk memperkuat kebijakan di sektor pendidikan, kesejahteraan sosial, dan pembangunan kepemudaan.
“Ini juga ingin kami sampaikan ke masyarakat bahwa teman-teman Cipayung sudah bergerak, dan kami sebagai bagian pemerintah turut mendengar,” ujar Cahyo.
Cahyo menambahkan bahwa ruang dialog harus terus dirawat dalam berbagai bentuk. Menurutnya, komunikasi tidak harus selalu formal selama substansi tetap terjaga.
“Ruang-ruang berdialektika bisa di forum akademis, konstitusional, maupun warung kopi,” pungkasnya. [asg/but]






