Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, fenomena menarik muncul di kalangan anak muda: semakin banyak dari mereka yang tidak bisa membaca jam analog. Padahal, jam dinding berbentuk bundar dengan jarum panjang dan pendek itu telah lama menjadi simbol waktu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Perubahan ini dipengaruhi oleh gaya hidup modern yang serba digital. Kini, hampir semua perangkat seperti smartphone, laptop, hingga jam tangan pintar sudah dilengkapi penunjuk waktu digital yang lebih praktis dan mudah dibaca.
“Anak-anak muda sekarang lebih sering melihat jam di layar ponsel daripada di jam dinding. Mereka tidak terbiasa lagi membaca posisi jarum jam,” ujar seorang guru sekolah dasar di Surabaya.
Desain Jam Analog yang Semakin Diabaikan
Selain faktor teknologi, desain jam analog juga turut memengaruhi menurunnya kemampuan membaca waktu. Jam analog biasanya berbentuk bundar atau persegi dan ditempel di dinding. Angka yang tertera pun terbatas — beberapa hanya menampilkan angka 12, 3, 6, dan 9, sedangkan sisanya diganti dengan simbol atau dibiarkan kosong.
Akibatnya, banyak anak muda kesulitan menentukan jam dan menit secara tepat. Mereka lebih memilih jam digital yang menampilkan waktu dalam format 24 jam secara jelas.
Jam digital dianggap lebih akurat dan efisien, terutama bagi generasi yang tumbuh dalam era kecepatan dan ketepatan. Tidak heran jika kini jam analog perlahan tergeser dari pergelangan tangan maupun ruangan rumah modern.
Antara Tradisi dan Teknologi
Meski begitu, jam analog belum sepenuhnya ditinggalkan. Di sekolah, kantor, rumah, dan berbagai ruang publik, jam dinding analog masih menjadi elemen penting. Bahkan dalam dunia pendidikan, kemampuan membaca jam analog tetap diajarkan sebagai keterampilan dasar.
Ke depan, tantangan bagi dunia pendidikan adalah bagaimana menyeimbangkan penggunaan jam analog dan digital. Teknologi memang tidak bisa dihindari, namun keterampilan tradisional seperti membaca jam analog perlu terus diwariskan.
Fenomena berkurangnya kemampuan anak muda dalam membaca jam analog bukan sekadar perubahan kebiasaan, tetapi juga cermin pergeseran budaya akibat modernisasi. Pada akhirnya, baik jam analog maupun digital sama-sama mengingatkan bahwa waktu adalah hal yang berharga dan tidak boleh disia-siakan. [naz/ian]






