Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Singgah Literasi menyedot anak-anak di sekitar RT 8 Desa Lumbangsari, Bululawang, Kabupaten Malang. Mereka berkumpul bersama sembari membaca buku. Rumah Singgah ini baru berjalan sekitar dua minggu, diinisiasi oleh pemuda desa bernama Putri Fauzi Ismaila.
Putri awalnya terinspirasi dari gerakan Sabtu Membaca di Taman Slamet Kota Malang. “Saya termotivasi dengan komunitas Sabtu Membaca yang dinaungi oleh Cak Pendek dan Mas Ahmad Mustaqim. Saya sempat hadir ke acara Sabtu Membaca lalu ditawari untuk menjadi volunteer safari literasi,” ujar Putri, Minggu (3/7/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”literasi”]
Dari menjadi volunteer di safari literasi itu, Putri lalu mengajukan desanya, khususnya di RT 8 untuk diadakan acara safari literasi. Namun karena Safari Literasi sifatnya tidak permanen, Putri lalu membuat wadah bernama Rumah Singgah Lumbangsari.
“Untuk suplai buku sendiri awalnya kami mendapatkannya dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Lumbangsari. Setelah proker KKN selesai, kemudian tidak ada yang menjalankan, akhirnya saya berpikir lebih baik dipindahkan agar bisa dibaca oleh anak-anak di sekitar saya,” ujarnya.
Selain itu, Putri semakin terdorong mendirikan wadah literasi di RT 8, karena pertanyaan dari anak-anak di sekitar. “Awalnya anak-anak yang ingin membaca kami pinjami atau membaca di tempat tidak. Waktu itu, saya hanya sendiri yang mengelola. Saya juga mengajari mereka mata pelajaran matematika. Untuk anak TK atau PAUD mereka kadang minta diajari cara menebali angka, dan huruf menggunting huruf. Lalu dari mereka banyak yang bertanya, mbak kapan ada acara seperti Minggu kemarin lagi,” tutur Putri menjelaskan.
Rumah Singgah untuk sementara menyasar anak-anak di sekitar RT 8. Anak-anak diajak untuk penggemar buku bacaan, kegiatan mendongeng, mengolah kreativitas, dan menulis. “Anak-anak kami ajak untuk dekat dengan buku. Khusus untuk yang meminjam buku, mereka saya beri pinjam gratis, dengan catatan harus dikembalikan,” terang mahasiswa semester 2 Universitas Merdeka Malang itu.
Dia sempat ingin bekerja sama dengan karang taruna di desa. Akan tetapi, ada beberapa kendala yang membuat kerja sama ini belum bisa berjalan. “Awalnya saya sempat akan bekerja sama dengan karang taruna desa. Namun, karena sumber daya manusia yang kurang mendukung, akhirnya saya berinisiatif sendiri,” ungkapnya.
Acara bermain dan belajar bersama pada Minggu (3/7/2022) hanya sebagai awal untuk jejak literasi yang panjang. “Acara hari ini sebenarnya hanya permulaan. Saya berharap rumah singgah literasi ini bisa lebih berkembang dengan bantuan para volunteer. Baik tadi yang sudah ikut berpartisipasi, maupun nanti yang ingin bergabung,” sambungnya.
Putri berharap ke depan dapat menjalin kerjasama baik dengan karang taruna desa dan pihak kelurahan. “Sementara tempat rumah singgah di rumah nenek saya. Namun tidak menutup kemungkinan, tempat ini akan berubah seiring dukungan dari berbagai pihak. Saya berharap juga sosialisasi dari warga setempat, dan sumbangsih ide dari kawan-kawan penggerak literasi,” tutup Putri. [dan/suf]







