Lamongan (beritajatim.com) – Sujadi (41), warga asal Desa Dumpiagung, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan sukses mengembangkan usaha budidaya bunga Bugenvil. Awalnya, ia hanya belajar otodidak dari video di Youtube.
Seiring berjalannya waktu, Sujadi kini sukses dan berhasil meraup banyak cuan dari usaha jualan bunga bugenvil atau bunga kertas miliknya. Usahanya itu dia mulai sejak tahun 2021 lalu, tepatnya saat pemerintah masih menerapkan kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).
“Saya memulai budidaya bunga Bugenvil ini, terutama Bugenvil impor, sejak tahun 2021, saat masa PPKM dulu itu,” ujar Sujadi, Minggu (25/6/2023).
Sujadi mengungkapkan, keputusannya untuk budidaya Bugenvil ini didasari atas hobinya yang senang merawat tanaman. Dia kemudian berupaya mengembangkan bakatnya dengan cara belajar secara otodidak dari video-video tutorial budidaya Bugenvil di Youtube.
“Bunga kertas atau Bugenvil ini cukup populer di kalangan pecinta tanaman hias. Karena saya memang hobi merawat tanaman, saya kemudian mengambil inisiatif dengan belajar melalui Youtube terkait budidaya tanaman hias Bugenvil ini,” terangnya.
Dijelaskan Sujadi, ketertarikannya terhadap Bugenvil ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, bunga tersebut selain memiliki pohon yang kecil, juga mudah tumbuh dengan rimbun di mana saja, termasuk di tempat yang gersang sekalipun.
Tak cukup itu, sambung Sujadi, bunga Bugenvil juga memiliki daya tarik tersendiri, khususnya di bagian seludang bunganya yang menyajikan beragam corak dan warna yang indah. Sehingga masyarakat pun banyak yang menggandrunginya.
“Banyak masyarakat yang tertarik untuk menanam dan membudidayakan bunga ini. Makanya saya merasa tertantang untuk ikut membudidayakan bunga ini dengan belajar melalui Youtube,” tandasnya.
Baca Juga: Petunjuk Desa Sima dan Sejarah Kerajaan di Lamongan
Bagi Sujadi, menanam Bugenvil tidak ada ruginya. Kalau pun bunga Bugenvilnya belum laku, maka tetap akan tumbuh dan membesar. Artinya, semakin besar pohon Bugenvil, semakin tinggi pula harganya. Apalagi jika telaten untuk melakukan sambung pucuk atau stek.
“Menanam itu kan tidak ada ruginya, karena kalau belum laku, pohonnya kalau tetap kita rawat juga akan tumbuh dan harganya juga akan mengikuti,” ungkapnya.
Berkat kegigihannya, Sujadi kini mampu meraup banyak cuan. Tak main-main, sebut Sujadi, uang puluhan juta rupiah per bulan bisa ia kantongi dari bisnis rintisan budidaya Bugenvil tersebut.
“Alhamdulillah. Sebenarnya dulu karena PPKM dan aktivitas dibatasi lalu saya iseng dengan merintis budidaya Bugenvil. Ternyata lambat laun bisnis ini menguntungkan, akhirnya keterusan hingga sekarang ini,” bebernya.
Lebih lanjut, Sujadi menuturkan, usahanya berkembang pesat. Lahan budidaya miliknya itu telah mampu menjual puluhan jenis Bugenvil impor, mulai dari jenis purple, pink, varigata hingga Bugenvil jenis Singapore varigata.

Mengenai harga, tambah Sujadi, Bugenvil ini harganya cukup beragam. Bugenvil yang telah tersambung dan sudah berbunga, dijual seharga Rp 35 ribu untuk yang ukuran kecil. Sedangkan untuk ukuran besar, harganya mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 1,5 juta.
“Harganya bermacam-macam mas. Kalau Bugenvil original, biasanya kami jual mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribu. Rata-rata dalam sebulan, kami mampu menjual hingga ratusan bunga, dengan omset yang juga lumayan,” paparnya.
Baca Juga: Nama Lamongan dan Kembangbahu Sejak Era Singhasari
Kemudian untuk para pelanggan yang biasa mengambil Bugenvil di tempatnya, tutur Sujadi, berasal dari berbagai daerah, mulai dari Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Tuban, Bojonegoro dan Pulau Madura serta Kalimantan.
“Pelanggan yang dari Lamongan juga banyak. Biasanya mereka beli untuk menambah koleksi bunga atau untuk menghiasi rumahnya agar semakin tampak cantik dan nyaman,” tambahnya.
Sementara itu, Vina, salah satu pelanggan dari Lamongan mengaku sengaja membeli bunga Bugenvil di tempat Sujadi karena Bugenvil yang dijual sangat beragam dan memiliki banyak pilihan yang menarik. Bahkan, harganya pun cukup terjangkau.
“Selain itu, saya sengaja membeli di sini karena selain harganya murah juga untuk mendukung program pemerintah, Lamongan Green and Clean yang dicanangkan oleh Pemkab,” akunya.[riq/ted]






