Jombang (beritajatim.com) – Pak Cip tak pernah mengenal roasting ala barista. Namun tangannya tetap terampil ketika meracik kopi, mengangkat teko berisi air mendidih dari atas kompor, kemudian menuangkannya dalam deretan gelas.
Racikan kopi dalam gelas itupun larut bersamaan dengan putaran sendok yang mengaduknya. Selanjutnya, aroma harum kopi menyapa hidung para pelanggan yang sudah antre. Aroma kopi itu juga terbawa udara masuk ke ruang-ruang kuliah di kampus Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang, Jawa Timur.
[berita-terkait number=”3″ tag=”undar-jombang”]
Dengan cekatan, Pak Cip mengantar deretan kopi dalam gelas itu ke hadapan para pelangganya. Itulah yang dilakukan pria bernama asli Mustajib (57) setiap hari. Dia membuka pagi dengan harumnya aroma kopi. Aktifitas rutin itu dilakoninya selama 22 tahun. “Saya mulai jualan kopi di Undar pada tahun 1999,” kata Pak Cip memulai kisahnya.
Namun perjalanan panjang itu harus menepi sejenak. Warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Megaluh, Jombang, ini menutup tempat jualannya selama 10 hari kedepan. Hal itu menyusul adanya kebijakan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat. Proses perkuliahan dilakukan secara daring atau online. Kampus diliburkan.
Perguruan tinggi yang berada di Jl KH Abdurrahman Wahid Jombang itu juga menerapkan WFH (Work From Home) bagi karyawannya. Itu sebagai bentuk dukungan Undar terhadap PPKM Darurat yang dicanangkan pemerintah guna meminimalisir penyebaran Covid-19.
Surat edaran yang diantar staf kampus itu diterimanya pada Sabtu (10/7/2021). Pak Cip kemudian membacanya. Memahami kata per kata, lalu mengangguk. “Mulai besok (Minggu, 11 Juli 2021) libur sampai tanggal 20 Juli 2021. Kalau ingin minum kopi, main ke rumah saya,” kata Pak Cip ketika berada tempatnya jualan, depan Fakultas Hukum Undar.
Kopi Online

Pak Cip seperti mendapat firasat sebelum menerima sepucuk surat edaran dari staf Undar itu. Betapa tidak, sejak pagi, di meja tempatnya menyeduh kopi terlihat serbuk kopi yang dikemas dalam plastik bening. Jumlahnya empatnya bungkus. Masing-masing seberat 250 gram. Ketika hari beranjak siang, Pak Cip menempeli kemasan tersebut dengan stiker bertuliskan ‘Kopi Bunderan’. Lengkap dengan kalimat-kalimat bernada promotif di bawahnya.
Setiap bungkus, warga Desa Sidomulyo ini mematoknya dengan harga Rp20 ribu. Dia menawarkan kepada pelanggannya, selama libur 10 hari bisa membeli kopi tersebut untuk dinikmati di rumah masing-masing. “Bisa pesan lewat nomer WA (WhatsApp) saya. Nanti barangnya dikirim. Agar tetap bisa ngopi selama saya libur,” katanya.
Penamaan kopi bunderan sendiri memilik sejarah panjang bagi Mustajib. Nama itu diambil ketika dirinya pertama kali berjualan di Undar. Di kampus itu terdapat semacam food court (tempat makan) yang bentuknya bundar, mirip gazebo raksasa. Lokasinya di depan asrama putri.
Nah, di sekeliling bundaran tersebut terdapat lapak-lapak pedagang. Mulai nasi pecel, nasi soto, aneka es, mie ayam, rujak buah, hingga bakso. Termasuk Pak Cip dengan kopi andalannya berada di lokasi tersebut. Banyak mahasiswa yang cocok dengan racikan kopi Pak Cip. Seiring laju waktu, lapak Pak Cip lebih lekat dengan sebutan kopi bunderan.
Di bunderan itulah yang mempertemukan mahasiswa Undar dari berbagai fakultas. Juga mempertemukan para aktivis yang ada di kampus tersebut. Makanya tidak heran diskusi berbagai tema mengalir di lapak kopi tersebut. Mulai sastra, politik, agama, mata kuliah, kemanusiaan, hingga sekadar guyonan. Pendek kata, Bundaran Undar menjadi lokasi perjumpaan fisik dan pikiran. Termasuk juga perjumpaan mahasiswa yang sedang pacaran.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kopi”]
Namun gazebo raksasa tersebut akhirnya rapuh dimakan usia. Atapnya rontok. Para pedagang kemudian berpindah lokasi. Pihak kampus membangun food court baru di belakang Fakultas Psikologi. Namun tidak semua pedagang boyongan. Ada juga pedagang yang memilih tidak lagi berjualan di kampus yang didirikan KH Mustain Romly itu. Pedagang yang tetap berjualan adalah Pak Cip dengan label kopi bunderan.
“Semenjak bunderan tak lagi digunakan. Saya pindah hingga empat kali. Dekat asrama Kiai Arwani, kemudian belakang Fakultas Psikologi, terakhir di tempat yang sekarang ini (depan Fakultas Hukum),” kata Mustajib yang oleh mahasiswa generasi milenial disapa Mbah Cip.
Kopi Wifi

Mahasiswa datang dan pergi silih berganti. Dari satu angkatan ke angkatan selanjutnya. Dari generasi 1990-an ke generasi milenial. Namun Pak Cip tetap setia dengan racikan kopinya. Tetap setia membuka pagi dengan harum aroma kopi. Juga tetap setia meracik kopi dengan mengandalkan kepekaan rasa.
Hanya atmosfir yang membedakannya. Kini selain menikmati secangkir kopi, pelanggan Pak Cip juga disuguhi wifi gratis. Mereka bisa berselancar di dunia maya sembari menikmati pahitnya kopi. Dampaknya, kopi bunderan bukan lagi menjadi ruang perjumpaan fisik dan pikiran. Tapi menjadi tempat kongkow tak bertuan.
Pelanggan kopi berderet. Duduk di kursi-kursi yang disiapkan. Mereka khusuk menyeruput kopi sembari jiwa dan pikirannya melayang-layang lewat telepon pintar (smart phone). Praktis, kedai kopi tak lebih sekadar tempat membuang waktu. Antara pengunjung satu dengan lainnya duduk berdekatan. Namun mereka tidak terlibat obrolan. Lagi-lagi, semua asyik dengan gawai di tangan. Itu juga terjadi di kedai kopi Pak Cip. Gempuran teknologi membuatnya tak berdaya.
Meski begitu, pelanggan Pak Cip era 1990-an dan 2000-an juga kerap menyambangi lapak tersebut. Sekadar menikmati secangkir kopi kemudian pergi. Sekadar menyeruput kopi sembari menghimpun kenangan masa lalu. Atau sekadar membuka pagi dengan harum aroma kopi. [suf]






