Gaya Hidup

Komunitas di Mojokerto Berkolaborasi, Sumbangkan Darah untuk Negeri

Aksi donor darah yang digelar sejumlah komunitas di UPTD PMI Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Sejumlah komunitas di Indonesia Timur berkolaborasi memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan menggelar aksi donor darah. Kegiatan dengan tema ‘Bakti Pemuda, Setetes Darah untuk Negeri’ ini digelar serentak di Indonesia mulai tanggal 20 Oktober hingga 27 Oktober 2020 mendatang.

Di Kabupaten Mojokerto sendiri, ada sembilan titik lokasi donor darah. Untuk komunitas Pemuda Karang Taruna digelar di sejumlah desa di antaranya di Balai Desa Balongmojo Kecamatan Sooko pada tanggal 20 Oktober lalu. Di Balai Desa Sumber Karang Kecamatan Dlanggu pada 21 Oktober.

Tanggal 22 Oktober di Padepokan Budaya PPWM, tanggal 23 Oktober di Balai Desa Sajen Kecamatan Pacet, tanggal 24 Oktober di Balai Dusun Ngembeh Kecamatan Bangsal, tanggal 25 Oktober di Balai Desa Pulorejo Kecamatan Dawarblandong, tanggal 26 Oktober di Balai Desa Suru Kecamatan Dawarblandong.

Tanggal 27 di Balai Desa Ngoro Kecamatan Ngoro. Sementara untuk komunitas otomotif dan suporter digelar di Unit Pelayanan Teknis Daerah Palang Merah Indonesia (UPTD PMI) Kabupaten Mojokerto tanggal 25 Oktober 2020. Hingga tanggal 25 Oktober 2020 terkumpul 131 kantong darah.

Salah satu pendonor, Habib Mashuda (43) mengatakan, donor darah kali ini merupakan donor darah yang ke 25 sehingga ia mendapatkan sertifikat dari UPTD PMI Kabupaten Mojokerto. “Ini yang ke 25, saya rutin tiap tiga bulan sekali donor ke sini,” ungkapnya, Minggu (25/10/2020).

Masih kata warga Madura ini, awal mula ia rutin menyumbangkan darahnya lantaran golongan darah yang dimilikinya selalu kosong. Untuk mengisi kekosongan stok darah karena golongan darah B seperti golongan darahnya selalu kosong. Ini yang membuat ia kemudian rutin mengikuti donor darah.

“Golongan darah B itu susah, saya mengisi kekosongan. Karena paling jarang ada sehingga akhirnya jadi kebiasaan. Saya mendapatkan manfaatnya dari sini, karena tiap bulan kita kan cek kesehatan sebelum donor darah sehingga akan tahu kondisi kesehatan kita,” katanya.

Karena jika salah satu syarat untuk bisa menjadi pendonor tidak dimiliki, maka tidak akan bisa menjadi pendonor. Misal hemoglobin (HB) rendah maka dilarang untuk menjadi pendonor. Ia pun mengaku pernah ditolak menjadi pendonor lantaran HB terlalu tinggi.

“Otomatis HB rendah tidak boleh, saya pernah ditolak karena HB tinggi. Itu karena kebanyakan kopi, kurang minum air. Karena rutin tiga bulan sekali, jika tidak donor malah nggak enak. Mirip perempuan kalau datang bulan, badan rasanya nggak enak, berat, kepala bagian belakang berat dan efek gatal,” ujarnya.

Meski tujuan menjadi pendonor darah mulia, namun ia mengaku tidak bisa memaksa teman-temannya di komunitas otomatis yang diikutinya untuk ikut menjadi pendonor. Meski ia juga sering mengingatkan jika menjadi pendonor apalagi rutin bagus untuk kesehatan.

“Tidak bisa dipaksa, kalau sudah tahu manfaatnya tanpa disuruh pasti berangkat. Hanya mengingatkan saja jika donor bagus tapi kebanyakan orang itu takut jarum. Dulu sebelum rutin donor darah saya langganan ke RS, sakit macam-macam. Usia di angka 4 harus rutin karena resiko kolesterol dan jantung,” tuturnya.

Kasi Penanggulangan Bencana UPTD PMI Kabupaten Mojokerto, Didik Soedarsono dari rangkaian kegiatan kolaborasi komunitas di Kabupaten Mojokerto tersebut, terkumpul 131 kantong darah. “Dari hari Selasa sampai hari ini, sudah terkumpul 131 kantong darah,” jelasnya.

Di tanggal 20 Oktober terkumpul 14 kantong darah, tanggal 21 Oktober sebanyak 28 kantong darah, tanggal 22 Oktober ada 15 kantong darah, tanggal 23 Oktober sebanyak 22 kantong darah, tanggal 24 Oktober ada 23 kantong darah dan tanggal 25 Oktober sebanyak 29 kantong darah.

“Saat pandemi, stok darat tidak sampai 100 kantong untuk semua golongan tiap harinya. Dengan adanya kolaborasi komunitas menggelar aksi donor darah ini, PMI mengucapkan terima kasih. Jemput bola di masa pandemi masih ada, seperti pabrik sudah terjadwal maupun tempat keramaian,” tambahnya.

Namun jumlah pendonor saat pandemi, lanjut Didik, tidak seperti sebelum pandemi Covid-19. Karena tidak boleh mengerahkan massa sehingga meski jadwal jemput bola ke pabrik maupun tempat keramaian, hasilnya tidak banyak seperti saat sebelum pandemi.

“Untuk kebutuhan rata-rata per hari 10 kantong. Diutamakan yang betul-betul membutuhkan atau Cito yakni yang membutuhkan penanganan cepat. Seperti terjadi pendarahan saat kecelakaan atau bersalin. Sehingga kami mengucapkan terima kasih ada komunitas yang datang menjadi pendonor darah,” tegasnya.

Sementara itu, Panitia Acara, Stefanus mengatakan, kegiatan donor darah dengan tema ‘Bakti Pemuda, Setetes Darah untuk Negeri’ tersebut digelar mulai tanggal 20 Oktober lalu untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. “Ada 40 komunitas yang mengikuti kegiatan ini dengan total yang terkumpul ada 131 kantong darah,” urainya.

Pihaknya berharap, ke depannya lebih banyak lagi komunitas pemuda yang terlibat untuk menyumbangkan darahnya. Rencananya, kegiatan serupa akan rutin digelar di event-event tertentu dengan menggerakkan pemuda yang ada di Indonesia agar lebih banyak lagi menjadi pendonor darah. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar