Malang (beritajatim.com) – Di tengah menjamurnya merek kopi nasiona yang menawarkan konsep modern, sebuah kedai kopi di Malang, Gartenhaus Co-Working Space, tetap teguh pada identitas uniknya. Mengusung konsep hutan kota, kedai kopi ini bukan hanya menjadi favorit warga lokal dan mahasiswa, tetapi juga menarik perhatian turis mancanegara dari berbagai belahan Eropa, seperti Jerman dan Prancis.
Para turis terlihat betah menikmati kopi di Gartenhaus, yang menawarkan suasana nyaman layaknya sebuah oase hijau di tengah hiruk pikuk kota Malang. “It’s a comfy zone,” ujar seorang turis asal Jerman, mengapresiasi kenyamanan tempat tersebut.
Robby Uryfans, Founder dan Pengelola Gartenhaus Co-Working Space, menjelaskan bahwa salah satu daya tarik utama kedai kopi ini adalah konsepnya yang antitesis terhadap tren industri yang banyak diusung kedai kopi lain. “Dari dulu saya menyebutnya kita ngopi-ngopi di kebun di tengah kota,” ungkap Robby.
Tak hanya suasana, Gartenhaus juga dikenal dengan menu andalannya, Kopi Cube. Minuman unik ini menyajikan kopi beku berbentuk es batu yang kemudian disiram dengan susu, menciptakan pengalaman minum kopi yang berbeda dan tak terlupakan. Harga minuman di Gartenhaus bervariasi dari Rp15.000 hingga Rp25.000, sementara makanan mulai dari Rp30.000.
Nama Gartenhaus sendiri memiliki sejarah unik. Robby menjelaskan bahwa nama tersebut diambil dari bahasa Jerman, merujuk pada rumah kebun. “Dulu di sini ada orang Jerman yang mengontrak rumah ini. Dia menamainya, jadi rumah kebun, rumah tapi banyak kebunnya,” kenang Robby.
Nama Gartenhaus kemudian disesuaikan dengan konsep tempat yang memang didominasi oleh tanaman hijau, menciptakan suasana asri juga menenangkan. Tak ayal jika tempat ini jarang sepi peminat sejak awal buka beroperasi sampai akan tutup.
Beroperasi sejak tahun 2016, Gartenhaus secara konsisten buka setiap hari Selasa-Minggu, pukul 10.00-23.00 WIB. Robby mengakui bahwa awalnya target pasar utama mereka adalah mahasiswa di sekitar area tersebut.
“Pelan-pelan dari teman-temanku dulu, mahasiswa juga, pelan-pelan dari Instagram,” jelasnya mengenai strategi branding awal yang juga dibantu oleh media lokal yang mereview tempatnya di awal tahun 2016.
Perjalanan bisnis Gartenhaus tidak selalu mulus. Saat pandemi COVID-19 melanda, mereka sempat tutup selama sebulan dan mengalami periode buka-tutup yang tidak menentu karena kebijakan pembatasan. “Main petak umpet gitu lah sama Satpol PP,” kenang Robby sambil tertawa.

Namun, saat ini, penjualan mereka sudah stabil kembali. Bahkan cenderung meningkat menjelang akhir tahun, terutama di musim kemarau.
Meskipun Robby mengaku tidak tahu persis bagaimana para turis mancanegara bisa menemukan Gartenhaus, ia menduga bahwa nama Gartenhaus.yang berbahasa Jerman mungkin menjadi salah satu faktor penarik, terutama bagi turis Eropa. Ia sering melihat pengunjung dari Belanda, Jerman, dan Prancis. Menu favorit mereka biasanya sosis, pancake, dan donat.
Menghadapi Persaingan Brand Nasional
Maraknya brand kopi nasional seperti Fore, Calf, Kopi Kenangan, dan beberapa brand lain di Malang tentu memberikan dampak pada bisnis lokal seperti Gartenhaus. Namun, Robby optimistis.
Robby percaya bahwa setiap brand memiliki pasarnya sendiri, dan Gartenhaus fokus pada mempertahankan kualitas rasa serta menjaga harga agar tetap bersaing. Gartenhaus mengambil biji kopi dari luar karena tidak termasuk dalam kategori specialty coffee. Strategi ini memungkinkan mereka untuk lebih fleksibel dalam menyediakan berbagai pilihan kopi dengan harga yang terjangkau.
“Kami sadar pasti ada pengaruhnya, tapi kan pasar mereka juga berbeda. Kami fokus mempertahankan kualitas rasa dan harga. Di Malang ini memang tricky soal harga, jadi kami berusaha menjaga harga tetap bersaing, tidak terlalu tinggi, di bawah brand nasional itu, tentu juga berbeda dengan warung kopi. Kami ingin pelanggan merasa mendapatkan nilai lebih dari apa yang dibayarkan,” kata Robby menutup dengan senyum. [dan/aje]






