Seperti tanpa angin tanpa hujan, PDI Perjuangan tiba-tiba mengumumkan calon presiden yang bakal diusung dalam Pilpres 2024. Ini di luar kebiasaan PDI Perjuangan. Biasanya partai besutan Megawati Soekarno Putri itu mengumumkan calon presiden di kisaran 6 bulan terakhir jelang coblosan. Sedangkan situasi sekarang, coblosan masih kurang setahun lebih. Ada apa?
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan perihal sebab-sebab PDI Perjuangan memilih berada di luar kebiasaan dalam mengumumkan calon presiden. Memang tentu ada sebabnya. Dan sebab-sebab itu menarik untuk ditelisik. Tetapi biarlah.
Ada hal lain yang juga menarik untuk dibahas. Perihal sosok Ganjar Pranowo dengan sosok Puan Maharani. Pada saat sekarang, keduanya adalah kader istimewa di PDI Perjuangan.
Ganjar lebih dikenal sebagai kader dengan prestasi bagus. Lelaki berperawakan gagah dan ganteng ini dinilai sukses dalam 2 kali memimpin Jawa Tengah. Sebuah provinsi dengan penduduk terbesar ketiga di Indonesia.
Sedangkan Puan, dia lebih dikenal sebagai kader dari trah Soekarno. Lebih-lebih, Puan adalah putri dari Ketua Umum Megawati. Puan saat ini menjabat sebagai Ketua DPR RI. Pernah pula Puan menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia antara 2014 hingga 2019.
Ganjar dan Puan tidak sekali dua kali dipertentangkan oleh publik politik Indonesia. Dinilai sebagai rival. Dua kader PDI Perjuangan yang berebut mendapatkan tiket calon presiden dari PDI Perjuangan.
Rivalitas yang kerap kali, oleh publik, dikaitkan dengan beberapa peristiwa di internal partai. Misalnya ketika PDI Perjuangan menggelar acara pengarahan kader untuk penguatan soliditas partai menuju Pemilu 2024 yang digelar di Semarang, Sabtu, 22 Mei 2021. Pengarahan disampaikan oleh Puan Maharani. Semua kader PDI Perjuangan yang menjadi kepala daerah di Jateng diundang, kecuali Ganjar. Padahal Ganjar jelas-jelas kader PDI Perjuangan yang sekaligus Gubernur Jawa Tengah.
Bahkan ketika itu, Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto terang-terangan mengakui sengaja tidak mengundang Ganjar karena dianggap terlalu berambisi maju pada Pilpres 2024 sehingga meninggalkan norma kepartaian.
“Wis kemajon (sudah kelewatan), yen kowe pinter, ojo keminter (bila kamu pintar, jangan sok pintar),” kata Bambang, Minggu, 23 Mei 2021.
Publik politik Indonesia pun seketika geger. Beragam spekulasi disodorkan. Semisal ditengarai terjadi keretakan di internal PDI Perjuangan, diprediksi Ganjar bakal keluar dari partai, diduga Megawati akan memaksakan Puan untuk menjadi calon presiden, serta spekulasi-spekulasi lain yang lebih melebar.
Setelah peristiwa tersebut berlalu sekitar 1 tahun lamanya, publik masih belum mendapat jawaban pasti. Apakah peristiwa tersebut sebatas drama, manuver, ataukah memang terjadi dinamika, bahkan gesekan.
Apapun jawabnya, Ganjar adalah sosok paling diuntungkan oleh peristiwa tersebut. Pertama, peristiwa itu membuat sosok Ganjar kian diperhitungkan. Ganjar jadi sentral, jadi pusat perhatian. Kedua, Ganjar mulai dilirik oleh partai-partai lain. Dengan elektabilitasnya yang tinggi dan kemungkinan tidak diusung oleh PDI Perjuangan maka membuka peluang bagi partai lain untuk menyerobot. Sebab memang tidak semua partai memiliki tokoh yang layak untuk diusung sebagai calon presiden.
Ketiga, Ganjar setidaknya terbebas dari sasaran tembak. Selama ini, kader PDI Perjuangan yang berpotensi menjadi calon presiden menjadi sasaran tembak (bully juga) oleh barisan oposisi atau barisan yang berada di luar pendukung pemerintahan. Hal sama seperti yang terjadi pada Jokowi menjelang Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, bahkan hingga sekarang, selalu menjadi sasaran tembak publik politik yang berposisi di barisan oposisi.
Dengan peristiwa 22 Mei 2021, sasaran tembak publik politik terbagi antara Ganjar dan Puan. Justru Puan yang paling sering dibully oleh netizen. Sebab Puan keturunan langsung dari Megawati dan Puan dinilai paling berambisi menjadi calon presiden.
Bila dibaca secara terbalik, peristiwa 22 Mei 2021 merupakan upaya PDI Perjuangan melindungi kader yang berpotensi menjadi calon presiden. Upaya PDI Perjuangan melindungi Ganjar.
Kini jawabnya telah gamblang. PDI Perjuangan bakal mengusung Ganjar Pranowo untuk maju dalam Pilpres 2024. Lalu bagaimana dengan nasib Puan Maharani?
Tampaknya Puan Maharani berpeluang menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan. Menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan bukanlah posisi yang remeh dalam peta politik Indonesia. Lihatlah peran Megawati Soekarno Putri selama ini.
Di internal PDI Perjuangan, Megawati adalah penentu nama-nama yang bakal menjadi calon kepala daerah dan calon anggota legislatif se Indonesia. Megawati juga penentu nama orang yang bakal diusung menjadi calon presiden. Megawati juga berhak mengatur dan mengendalikan kader PDI Perjuangan yang menduduki jabatan, baik jabatan di legislatif maupun di eksekutif.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ribut-wijoto”]
Megawati adalah Ketua Umum PDI Perjuangan dan selebihnya adalah petugas partai. Bahkan termasuk Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi). Jokowi di mata Megawati adalah petugas partai.
Jika prediksi ini menjadi kenyataan, pada saatnya nanti, Puan – Ganjar bakal meneruskan posisi Mega – Jokowi. Puan Maharani menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan dan Ganjar Pranowo menjadi Presiden Indonesia.
Duet Mega – Jokowi sangat berhasil dari sisi politik. PDI Perjuangan berhasil memenangi Pemilu 2014, Pemilu 2019, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019.
Apakah duet Puan – Ganjar bakal mengulang sehingga berhasil memenangi Pemilu 2024 dan Pilpres 2024? Bukan mereka sendiri yang menentukan. Indonesia sebagai negara dengan sistem demokrasi, rakyatlah yang menjadi penentu. [but]






