Surabaya (beritajatim.com) – Selama pelaksanaan angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026) hingga 25 Desember 2025 pukul 04.30 WIB, sejumlah gangguan operasional kereta api tercatat terjadi di wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya. Meski demikian, seluruh gangguan tersebut dapat ditangani secara cepat dan terkoordinasi sehingga tidak berdampak signifikan terhadap kelancaran perjalanan kereta api.
Berdasarkan data Posko Pengawasan Penyelenggaraan Angkutan Nataru dengan cut off 25 Desember 2025 pukul 04.30 WIB, tercatat total delapan kejadian gangguan operasional. Gangguan didominasi oleh faktor eksternal dan kondisi alam, sementara gangguan terkait aspek keamanan, pelayanan, maupun kecelakaan nihil tercatat.
Gangguan eksternal antara lain berupa kejadian tertemper orang tidak dikenal (OTK) di beberapa lintas. Salah satunya terjadi pada 18 Desember 2025 di petak jalan Gedangan–Sidoarjo yang menyebabkan keterlambatan kumulatif sejumlah perjalanan kereta api. Penanganan dilakukan cepat melalui koordinasi petugas stasiun, awak kereta, dan unsur pengamanan hingga jalur kembali dinyatakan aman untuk dilalui.
Kejadian serupa kembali terjadi pada 22 Desember 2025 di lintas Tarik–Mojokerto yang melibatkan kereta api komuter. Petugas segera melakukan pengamanan jalur, evakuasi korban, serta pengaturan perjalanan kereta api di sekitar lokasi. Dampak keterlambatan bersifat lokal dan tidak memengaruhi perjalanan kereta api lainnya secara luas.
Selain faktor eksternal, gangguan operasional juga dipicu kondisi alam berupa pohon tumbang yang menghalangi jalur kereta api. Peristiwa ini tercatat di lintas Wonokerto–Sukorejo serta Wonokromo–Waru, seiring cuaca hujan di sejumlah wilayah. Petugas prasarana bersama unsur pengamanan segera melakukan evakuasi pohon tumbang, memastikan jalur steril, dan mengembalikan perjalanan kereta api sesuai prosedur keselamatan. Keterlambatan yang terjadi bersifat sementara dan dapat segera dinormalkan.
Gangguan lain berupa rel putus terjadi di emplasemen Stasiun Sumberpucung pada 23 Desember 2025. Untuk menjaga keselamatan perjalanan, dilakukan pengaturan pola operasi dengan pengalihan jalur sementara disertai percepatan pekerjaan perbaikan rel oleh petugas teknis. Dalam waktu singkat, jalur kembali dapat dilalui dengan kecepatan terbatas sesuai ketentuan.
Pada 24 Desember 2025, gangguan persinyalan juga tercatat terjadi di Stasiun Tanggul akibat komponen mekanik sinyal yang tidak kembali ke posisi normal. Petugas persinyalan segera menerapkan prosedur operasional manual sementara hingga sistem dinyatakan normal kembali. Selama proses tersebut, perjalanan kereta api tetap berjalan aman meski terjadi keterlambatan terbatas.
Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, menegaskan seluruh gangguan operasional selama periode Nataru berskala kecil dan terkendali serta tidak mengganggu stabilitas layanan secara keseluruhan. “Setiap kejadian langsung ditangani sesuai standar operasional, sehingga perjalanan kereta api tetap aman dan pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.
Denny juga menyampaikan bahwa seluruh jajaran terus melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan penumpang, kesiapan sarana dan prasarana, serta potensi gangguan operasional selama masa libur panjang Nataru.
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan total 18 kereta api tambahan dan fakultatif selama masa Nataru 2025/2026. Rinciannya terdiri atas 10 KA tambahan dan 8 KA fakultatif, di antaranya Gajayana Tambahan, Brantas Tambahan, Sembrani Tambahan, Kertajaya Tambahan, serta KA fakultatif seperti Argo Anjasmoro, Mutim, Arjuno, dan Sancaka.
Selama periode Natal dan menjelang Tahun Baru, pergerakan penumpang kereta api antarkota maupun perkotaan terus dipantau secara berkala. Data Posko Terpadu menunjukkan tren peningkatan volume penumpang pada hari-hari tertentu, terutama menjelang puncak arus libur Natal.
Stasiun-stasiun besar di wilayah BTP Surabaya seperti Surabaya Gubeng, Surabaya Pasarturi, Malang, Madiun, Jember, dan Ketapang tercatat sebagai stasiun tersibuk dengan volume naik dan turun penumpang yang signifikan. Meski demikian, tidak terjadi penumpukan penumpang yang berpotensi mengganggu operasional.
Tingkat okupansi pada sejumlah lintas dan daerah operasi, yakni Daop 7 Madiun, Daop 8 Surabaya, dan Daop 9 Jember, menunjukkan angka tinggi, bahkan pada beberapa layanan mencapai lebih dari 150 persen. Kondisi tersebut tetap dapat dikelola melalui pengaturan pola operasi, optimalisasi KA tambahan, serta kesiapan petugas di lapangan.
Kinerja ketepatan waktu atau On Time Performance (OTP) selama periode Nataru juga menunjukkan hasil positif. OTP kereta api jarak jauh tercatat sebesar 94,91 persen, sementara OTP kereta api perkotaan mencapai 100 persen. Pada layanan antarkota, Daop 8 Surabaya mencatat OTP 100 persen, disusul Daop 7 Madiun dan Daop 9 Jember dengan capaian di atas 90 persen.
BTP Kelas I Surabaya memastikan pengawasan operasional akan terus dilakukan secara intensif hingga berakhirnya masa angkutan Nataru 2025/2026. Seluruh potensi kerawanan, baik dari aspek cuaca, prasarana, maupun operasional, menjadi perhatian utama untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan perjalanan kereta api. [fiq/beq]






