Surabaya (beritajatim.com) – Urbanisasi pasca Lebaran kembali menjadi perhatian di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur mengingatkan para pendatang agar tidak datang ke kota besar tanpa bekal keterampilan yang memadai.
Anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim, Fuad Benardi, menegaskan bahwa fenomena urbanisasi usai Idul Fitri merupakan siklus tahunan yang terus terjadi. Banyak masyarakat datang ke kota dengan harapan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik.
“Urbanisasi pasca Lebaran itu pasti terjadi. Banyak masyarakat ingin mencari peluang kerja di kota untuk pendapatan yang lebih baik,” ujar Fuad, Senin (30/3/2026).
Namun, ia menilai tidak semua pendatang mampu bersaing di tengah ketatnya pasar kerja perkotaan. Tanpa keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, peluang mendapatkan pekerjaan akan semakin kecil.
“Harapan kami, yang datang ke kota tidak sekadar coba-coba atau ikut-ikutan. Mereka harus punya skill dan kemampuan yang memang dibutuhkan oleh dunia usaha atau perusahaan,” tegasnya.
Fuad juga mengingatkan bahwa urbanisasi yang tidak terkendali berpotensi memicu persoalan sosial baru di kota besar. Pendatang tanpa keterampilan berisiko menjadi pengangguran dan menambah beban sosial di perkotaan.
“Jangan sampai niat mencari kerja malah berujung menganggur karena kalah bersaing. Ini yang bisa memicu permasalahan sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketimpangan pembangunan antar daerah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong masyarakat melakukan urbanisasi. Oleh karena itu, pemerataan ekonomi di seluruh wilayah Jawa Timur dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap kota besar.
“Harapannya, pemerataan ekonomi bisa terwujud di seluruh daerah di Jawa Timur. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh ke kota untuk mencari penghidupan,” jelasnya.
Menurutnya, jika pembangunan ekonomi daerah berjalan merata, peluang kerja dapat tercipta di wilayah asal masyarakat sehingga laju urbanisasi dapat ditekan.
“Kalau ekonomi di daerah sudah merata dan berkembang, maka urbanisasi bisa ditekan. Masyarakat bisa tetap tinggal dan bekerja di daerah asalnya,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Surabaya saat ini dihuni sekitar 2,9 hingga 3,1 juta jiwa dengan kepadatan mencapai 8.000 hingga 9.000 jiwa per kilometer persegi. Kota ini juga menjadi pusat kawasan metropolitan Gerbangkertosusila dengan total populasi mencapai 9 hingga 10 juta jiwa.
“Kondisi ini menunjukkan tekanan kependudukan yang tinggi, terutama karena arus urbanisasi yang meningkat setiap tahun,” tandasnya. [asg/beq]






