Surabaya (beritajatim.com) – Di Indonesia problematika terbesar yang sampai saat ini belum terselesaikam adalah kematian Ibu yang cukup tinggi.
Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Prof.Dr. Budi Santoso, dr. SpOG(K), penyebab kematian ibu terbanyak di Indonesia terjadi akibat hipertensi atau pre eklamsi dan klamsia, perdarahan, dan infeksi. Hipertensi dalam kehamilan menempati urutan pertama penyebab kematian di Indonesia.
“Angka kematian ibu penyumbang yang terbesar adalah hipertensi dalam kehamilan dengan eklamsia, bereklamsia berat,” ujarnya disela acara workshop peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal pada 6 kabupaten/kota di Jawa Timur dan Kalimantan Timur, Rabu (1/3/2023).
Pre-eklamsia merupakan komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya yang ditandai dengan tekanan darah tinggi. Kondisi ini biasanya terjadi ketika usia kehamilan mencapai 20 minggu. Oleh karena itu, ibu hamil harus waspada dan tetap menjaga kesehatan tubuh agar tidak terjadi komplikasi.
Baca Juga: Turunkan Angka Stunting Banyuwangi, Mahasiswa KKN Unair Gelar Penyuluhan
Adapun cara untuk menekan angka ini diperlukannya deteksi dini yang dapat dilakukan di fasilitas layanan kesehatan.
M Ardian CL, dr., SpOG. Subsp. Obginsos., M.Kes, Manajer Pelayanan Medis Rumah Sakit Universitas Airlangga menegaskan jika setiap kehamilan beresiko.
“Yang bisa dilakukan adalah deteksi dini. Dari nakes akan memberikan tata laksana selanjutnya,” ujarnya.
Ardian mengungkapkan untuk menekan angka kematian ibu hamil saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan lagi deteksi resiko pada kehamilan.
“Ini bisa dilihat pada lembaran di buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ada pencatat skor terkait kondisi pre eklampsia pada ibu hamil. Sehingga pasien tidak jatuh pada kondisi yang berat,” tutupnya. [way/beq]






