Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menyambut gembira diterbitkannya Permenkes tentang Rumah Sakit Kapal. Artinya, keberadaan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) telah diakui pemerintah.
Dekan FK Unair Prof Budi Santoso mengungkapkan dengan adanya payung hukum bagi RSTKA saat ini, pelayanan kesehatan yang diberikan bagi masyarakat di kepulauan dapat semakin prima.
“RSTKA ini kan rumah sakit kapal juga yang tentu memberikan suatu makna penting dengan adanya Permenkes ini,” ujar Prof Budi di sela acara Dies Natalis FK Unair, Selasa (12/9/2023).
Selain diakui secara resmi oleh pemerintah, Prof Budi juga menyebut jika dalam pelayanannya, RSTKA kini memungkinkan untuk mengklaim biaya pelayanan kesehatan kepada BPJS Kesehatan.
“Tentunya dengan kehadiran pemerintah, dalam hal ini akan lebih nyata dengan adanya Permenkes sehingga masyarakat yang berada di tempat terpencil mendapatkan sentuhan pelayanan kesehatan,” ungkapnya.
BACA JUGA:
RS Apung Unair Diakui Pemerintah, 6 Tahun Arungi Kepulauan
Ke depan, pihaknya berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat yang berada di kepulauan. “Kita gembira, bersyukur rumah sakit kapal ini sudah ada payung hukumnya, sehingga kita bisa mengembangkan ini lebih baik,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, RSTKA akhirnya mendapatkan pengakuan payung hukum lewat Permenkes setelah menanti selama 6 tahun lamanya. Pada 9 September 2023 lalu, Permenkes Nomor 33 Tahun 2023 tentang Rumah Sakit Kapal itu diluncurkan Menkes Budi Gunadi di atas kapal RSTKA saat berlabuh di Labuan Bajo, NTT.
Agus Harianto, Direktur RSTKA mengatakan bahwa Permenkes ini adalah bentuk pengakuan negara terhadap operasional RS Terapung di Indonesia. Bahkan, RS Terapung juga memungkinkan untuk mengklaim biaya pelayanan kesehatan kepada BPJS Kesehatan.
BACA JUGA:
Guru Besar Unair Kembangkan AI di Bidang Radiologi Kedokteran Gigi
Dilaporkan oleh rstka.id, tahun 2023 ini RSTKA telah mengunjungi 12 titik di NTT, mulai dari Nagekeo, Ende, Flores Timur, Lembata, Malaka, Kefamenanu, Soe, Kupang, Rote, Sabu, Pulau Papagarang dan Pulau Rinca.
Di situ, tim RSTKA juga telah melayani sebanyak 378 pasien skrining jantung, skrining 1237 anak, skrining 344 pasien mata, dan skrining 998 ibu hamil.
Di tahun ini, RSTKA akan terus berlayar di wilayah NTB dan NTT dengan 3 misi utama Skrining kasus Penyakit Jantung Bawaan, melakukan upaya penurunan angka kematian ibu di kepulauan, dan melakukan pencegahan dan eliminasi stunting di kepulauan. [ipl/beq]






