Malang(beritajatim.com) – Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) melakukan rebranding pada destinasi wisata Kampung Kayutangan Heritage, Kota Malang. Branding ini merupakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dilakukan 12 mahasiswa Ilmu Komunikasi dan bekerjasama dengan Nava+ serta Indopol.
Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Reza Safitri mengatakan rebranding dilakukan agar geliat wisata di Kampung Kayutangan Heritage semakin kuat. Para pelaku wisata di Kampung Kayutangan Heritage diberi kiat-kiat agar mengerti cara mempromosikan dan mengerti pasar wisatawannya.
“Kami lakukan survei bekerjasama dengan Indopol untuk mengetahui perilaku pariwisata di Jatim seperti apa dan konsultan marketing Nava+ untuk memperkuat branding. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan manfaat pengembangan ilmu dan teknologi agar selaras dengan pemenuhan dan kebutuhan pada dunia usaha. Maka dari itu kami menjalin komunikasi dengan pihak terkait untuk mampu mengembangkan wisata di Kampung Kayutangan Heritage ini,” kata Reza, Selasa, (15/3/2022).
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UB Ignasius Seno mengatakan ide branding Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan muncul setelah melakukan riset tentang lokasi wisata di Malang Raya. Hasilnya dari 176 responden yang mereka jaring, hanya 18,4 persen yang tahu tentang Kampoeng Heritage Kajoetangan. Sementara mayoritas sekitar 56,8 persen lebih tahu Kampung Warga Warni Jodipan.
“Dari 18,4 persen yang tahu tadi berpendapat bahwa Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah tempat yang menyajikan suasana vintage, memuat karakter jadoel (jaman dulu), tradisional serta cocok jadi lokasi selfie. Berangkat dari hasil riset ini lah, Ilmu Komunikasi UB dan Nava+ mencanangkan branding baru bernama Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan. Ada unsur Retropolitan didalamnya karena kami ingin memberikan semangat vintage culture yang menghasilkan kolaborasi kreatif yang transformasi dan inovasi budaya,” ujar Ignasius Seno.
[berita-terkait number=”4″ tag=”universitas-brawijaya”]
Selain itu, pihaknya juga ingin melestarikan tradisi gotong royong yang memiliki nilai tambah dalam industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Untuk mendukung branding ini, para pelaksana kegiatan telah membuat beberapa hasil yang lain seperti website tentang Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan, lomba video kreatif yang diikuti ratusan peserta, serta memproduksi brand book tentang Kampoeng Heritage Retropolitan Kajoetangan.
“Kita juga menggelorakan gerakan romantisme tempo doeloe dengan mengeksplor berbagai ekspresi sejarah, estetika, multietnis dan budaya lintas masa yang bertransformasi ke masa modern,” imbuh Ignasius Seno.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampoeng Heritage Kajoetangan, Mila mengapresiasi sumbangsih yang telah dilakukan salah satunya memunculkan branding retropolitan di kampung kayutangan.
“Semoga ini membawa keberkahan dan secara bertahap hal hal yang sudah dicanangkan di destination branding ini berjalan dengan baik,” tandasnya. (luc/ted)






