Lumajang (beritajatim.com) – Sedikitnya 25 hektare lahan pertanian di Kampung Umbulan, Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, hancur diterjang erupsi Semeru.
Sejumlah lahan pertanian mulai cabe, kubis, tebu hingga tanaman padi, tak satupun bisa di panen. Ironisnya, sudah sejak tahun 2020 lalu warga di tempat itu gagal panen akibat diterjang erupsi Semeru. Sejak tahun lalu hingga kini, warga pun tidak pernah memperoleh bantuan ganti rugi atas lahan pertanian yang siap panen tersebut.
Ketua RW setempat, Khusaini (49) menjelaskan, hampir 25 hektare lahan pertanian warganya yang gagal panen akibat abu vulkanik.
“Kira-kira 25 hektare ada cabai, gubis, padi dan tebu siap panen rusak semua,” ungkapnya, Selasa (7/12/2021).
Yang paling membuat terpukul ialah tanaman cabe. Mayoritas ladang pertanian di dusun tersebut ialah ditanami cabe.
“Dan itu mau panen. Kalau luasnya berapa saya tidak tahu. Tapi sebagian besar itu cabe semua, bulan Desember tahun ini seharusnya sudah siap panen,” terang Khusaini.
Satu hektar tanaman cabe yang rusak akibat erupsi, lanjut Khusaini, ditaksir hingga 10 ton. Harga yang bisa di peroleh jika berhasil dipanen akhir tahun ini bisa mencapai Rp 30 ribu per kilogramnya.
“Dan ini harusnya mahal, tapi semua sudah hangus, semua ditanami di sekitar sungai curah kobokan dan hangus semua akibat lahar dingin itu,” ujarnya.
Khusaini menambahkan, pihaknya pada tahun 2020 lalu, sudah mengajukan data untuk ganti rugi ke pemerintah daerah.
“Datanya banyak mas, sudah saya serahkan tapi tidak ada sama sekali yang beri bantuan. Lah ini lagi kejadian yang lebih besar, kami hanya pasrah. Entek-entekan ini mas gak omah gak ternak semua hancur,” Khusaini mengakhiri. [yog/but]








