Probolinggo (beritajatim.com) – Polemik tarif lapak dalam Festival Ramadan dan War Takjil di GOR A. Yani, Jalan dr Soetomo, Kelurahan Tisnonegaran, Kota Probolinggo, terus bergulir.
Setelah dikeluhkan sejumlah pedagang lantaran harga sewa yang terlalu mahal, pihak event organizer (EO) akhirnya buka suara.
Elok Hanifah selaku penyelenggara acara dengan tegas membantah adanya penarikan iuran maupun unsur paksaan kepada PKL dan UMKM. Saat dikonfirmasi, Rabu (25/2/2026) pagi, ia menekankan bahwa seluruh mekanisme bersifat pilihan.
“Tidak ada penarikan, tidak ada iuran, tidak ada paksaan. Yang merasa berat ya jangan sewa yang harga Rp1 juta. Yang Rp350 ribu juga ada,” tegasnya.
Elok menjelaskan, tarif Rp1 juta diperuntukkan bagi penyewa tenda ukuran 3×3 meter lengkap dengan instalasi listrik selama tiga minggu pelaksanaan acara. Sementara pedagang yang memilih berjualan tanpa tenda di area PKL dikenakan biaya Rp350 ribu.
“Yang Rp1 juta itu tenda 3×3 dengan instalasi listrik selama tiga minggu. Kalau mau dekat area panggung Rp350 ribu tapi tanpa tenda,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa festival tersebut digelar selama tiga minggu dengan pembiayaan penuh dari pihaknya, tanpa dukungan anggaran pemerintah.
“Ini nol anggaran. Tidak ada APBD maupun non-APBD. Murni kami selenggarakan sendiri. Panggung selama tiga minggu, sound system, listrik, crew, operasional, makan tim, semua ada biayanya,” katanya.
Meski demikian, data di lapangan menunjukkan tidak semua tenda berbayar terisi. Elok mengungkapkan, dari total yang disiapkan, tenda 3×3 meter yang terjual baru sekitar 25 unit dan sebagian besar diisi pelaku UMKM dari luar kota.
“Tenda 3×3 itu sekarang bisa dihitung, hanya sekitar 25-an yang laku. Kebanyakan justru dari luar kota,” jelasnya.
Sementara untuk pelaku usaha lokal, Elok mengklaim tetap memberikan ruang gratis melalui pemanfaatan lapak aset CSR dari perusahaan Alamo, selama masih berada dalam tanggung jawabnya hingga 14 Maret mendatang.
“Untuk lokal prioritas bisa pakai lapak aset Alamo gratis. Masih ada beberapa yang kosong, monggo kalau mau menempati. Tapi itu hanya sampai tanggal 14,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan, Festival Ramadan dan War Takjil tersebut sepenuhnya merupakan kegiatan swasta. “Jadi memang event ini murni non-APBD,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, PKL di Kota Probolinggo ini mengeluhkan perihal mahalnya harga sewa lapak di festival ramadan & war takjil, yang digelar di Gor A. Yani, Jalan dr. Soetomo, Kelurahan Tisnonegaran, Kota Probolinggo.(rap/ted)






