Bagaimana menyelamatkan Persebaya dari krisis musim ini? Ini pertanyaan penting yang harus segera dijawab, mengingat rentetan hasil selama sepuluh pertandingan kompetisi sepak bola Liga 1 musim 2022-23 sudah mencemaskan.
Persebaya berada di peringkat 14 dari 18 tim, dengan nilai 10. Persebaya hanya mengemas 3 kemenangan, 1 hasil seri, dan 6 kekalahan dengan agregat gol 8 – 12. Kekalahan terakhir diderita dari Rans Cilegon United 1-2 di Gelora Delta Sidoarjo, Kamis (15/9/2022) sore. Bonek mengamuk, masuk ke dalam lapangan setelah pertandingan usai.
Mereka juga berunjuk rasa di depan kantor manajemen Persebaya, Jalan Hayam Wuruk, Surabaya. Ratusan orang Bonek membawa cat semprot dan banner dengan tulisan #Ajiout dan #Yahyaout. Mess pemain di Jalam Doho juga nenjadi sasaran. Polisi terpaksa membubarkan massa dengan tembakan gas air mata.
Kemarahan Bonek menandai resminya Persebaya masuk dalam lubang hitam kekalahan. Kompetisi memang baru masuk 10 pertandingan. Namun sebagaimana teori lubang hitam, susah bagi sebuah benda untuk lolos karena besarnya daya tarik gravitasi yang menyeret hingga dasar. Satu hasil buruk biasanya akan diikuti hasil buruk lainnya.
Rangkaian hasil musim ini mirip dengan hasil 10 pertandingan awal pada musim 2002, saat Persebaya terdegradasi. Kala itu Persebaya normalnya memetik 11 angka dari 3 kemenangan, 2 hasil seri, dan 5 kekalahan dengan agregat 13-15. Hanya karena sanksi PSSI akibat mogok saat pertandingan melawan Pupuk Kaltim, nilai Persebaya dikurangi tiga menjadi delapan.
Lantas bagaimana agar Persebaya bisa lolos dari krisis ini?
1. Benahi psikologi pemain
Persebaya musim ini adalah tim termuda di Liga 1 dan tim termuda sepanjang sejarah klub ini selama mengikuti kompetisi Liga Indonesia sejak 1994. Para pemain muda memiliki stamina lebih baik dan semangat berlipat untuk membuktikan diri. Semangat adalah modal dasar filosofi taktik Aji Santoso yang menekankan intensitas serangan sepanjang pertandingan.
Namun memainkan pemain muda dalam sebuah kompetisi level yang panjang bukannya tanpa risiko. Mereka bukan produk yang sudah jadi dan masih perlu terus diasah, dipertajam. Pengalaman membentuk mentalitas, dan tanpa pengalaman yang memadai, mental pemain muda akan mudah patah dalam situasi tertekan. Tekanan makin besar, karena mereka bermain di sebuah klub yang memiliki nama besar dengan suporter yang fanatik.
Di sinilah dibutuhkan peran psikolog untuk mereparasi mental para pemain muda ini. Dalam buku ‘Believe Us’ karya Melissa Reddy, Klopp mengatakan, saat pertama kali datang, keadaan psikologis pemain bahkan lebih buruk dari yang dia takutkan. “Para pemain itu jelas mendengarkan semua suara yang mengatakan bahwa mereka tidak cukup baik untuk klub atau saya tidak sabar untuk menyingkirkan mereka,” katanya.
Hal pertama yang dilakukan Jurgen Klopp saat mengembalikan reputasi Liverpool adalah membenahi psikologi klub. Bukan hanya pemain, tapi juga semua orang yang terlibat sehari-hari di Liverpool. Ia mengubah suasana hati lingkungan klub lebih cerita dan optimistis. Tak ada lagi kemurungan. Hal serupa harus dilakukan untuk Persebaya. Semangat para pemain dan ofisial harus dibangkitkan segera.
Carlo Ancelotti dalam buku Quiet Leadership menegaskan bahwa aspek psikologi krusial dalam sebuah tim. “Pola pikir rekan setim dan tim Anda akan mendorong kesuksesan. Beri orang kepercayaan diri untuk menjadi diri,” katanya. Hal yang terpenting adalah pemain harus memahami bahwa psikolog profesional dalam sebuah tim bertujuan untuk membantu dan bukan mengkritisi.
2. Revisi target
Apapun target melangit Persebaya musim ini, lupakan. Target harus diturunkan menjadi tidak terdegradasi dari Liga 1. Dengan demikian pemain tak terbebani untuk berprestasi tinggi. Semain terbebani mental untuk berprestasi, semakin susah untuk keluar dari lubang hitam kekalahan.
Para pemain dan seluruh jajaran tim harus memandang semua pertandingan adalah final. Misi baru tim ini adalah bagaimana mencapai poin minimal 40 agar bisa selamat dari zona degradasi. Dengan sepuluh poin dari 10 pertandingan awal, dibutuhkan 10 kemenangan lagi untuk mencapai poin minimal tersebut.
3. Pertahankan Aji Santoso Sampai Akhir Musim
Saya salah satu yang mendukung pergantian Alfredo Vera saat Persebaya mendapatkan rangkaian hasil buruk pada musim 2018. Namun saat ini, saya pergantian pelatih bukan solusi tepat. Kondisi tim Persebaya era Vera berbeda dengan saat ini. Persebaya musim 2018 diisi oleh sejumlah pemain yang berkualitas. Hasil buruk saat itu lebih dikarenakan kegagalan menemukan komposisi pemain yang tepat. Kita masih ingat saat itu, Vera mudah mengubah komposisi winning team yang membuat permainan Persebaya tidak stabil. Jadi problem ada pada sosok pelatih.
Namun tidak kali ini. Kualitas tim Persebaya musim ini jauh lebih rendah daripada musim 2018. Mengganti Aji dengan pelatih baru, siapapun itu, tidak akan mengubah banyak hal, selama tidak ada perombakan total pemain — sesuatu yang tidak mungkin dilakukan pada tengah musim kompetisi. Selain itu, tidak tersedia stok pelatih berkualitas di Indonesia. Aji adalah salah satu pelatih yang memiliki ide jelas tentang bagaimana seharusnya sebuah tim bermain. Mungkin yang perlu dilakukannya adalah menurunkan standar tinggi filosofinya dan bersikap lebih pragmatis: bagaimana caranya bisa menang. Sekalipun dengan permainan yang buruk dan tidak enak ditonton.
Lupakan sanjungan untuk Persebaya musim lalu yang disebut sebagai tim dengan permainan menghibur dan juara tanpa mahkota. Pragmatisme dalam sepak bola bukan barang haram. Penyelamatan Persebaya dari degradasi adalah yang terpenting.
4. Datangkan pemain baru, buang pemain yang tak berkontribusi signifikan
Jendela transfer putaran kedua menjadi momen krusial bagi Persebaya untuk mencari pemain yang bisa membantu permainan dan menciptakan kedalaman skuat. Yang dibutuhkan adalah pemain senior berpengalaman yang bisa membimbing pemain muda. Kehadiran Zlatan Ibrahimovic di AC Milan bisa menjadi contoh. Salah satu alasan Alex Ferguson mempertahankan Eric Cantona adalah untuk menjadi pemimpin bagi pemain-pemain muda. Begitu pula alasan Klopp mempertahankan James Milner.
Kedatangan pemain baru harus diikuti dengan pemangkasan pemain yang tidak berkontribusi signifikan. Dalam hal ini termasuk pemain ‘kaki kaca’ yang mudah cedera dan lebih sering masuk kamar perawatan. Para pemain asing Persebaya harus dievaluasi. Mereka hadir untuk mendongkrak kualitas permainan tim dan bukan hanya untuk membebani biaya operasioonal tim dengan gaji tinggi.
5. Ajak bicara Bonek dan bangun kepercayaan
Rinus Michels, pelatih pencetus Total Football, dalam buku Teambuilding menekankan perlunya pemahaman tentang budaya klub. Setiap klub memiliki kultur dan akar yang harus dihargai agar tetap berjalan. Modernisasi klub tidak boleh meninggalkan akar. Salah satu kultur Persebaya adalah kedekatan klub dengan Bonek. Bonek selalu hadir pada masa-masa kritis, saat klub membutuhkan. Itu sudah dibuktikan pada saat Persebaya ‘mati suri’, dan kembali dibuktikan musim ini dengan kemampuan Bonek menekan penyelenggara Liga 1 untuk mengubah jadwal main Bajul Ijo.
Salah satu kritik terhadap Persebaya saat ini adalah minimnya komunikasi dengan Bonek. Keterputusan hubungan Bonek dengan Persebaya sebagai sebuah bagian dari entitas kota sebenarnya sudah terjadi saat Wisma Karanggayam tak lagi digunakan, dan tim tak berlatih di Lapangan Persebaya. Pengelolaan Persebaya mungkin lebih profesional. Kita tidak pernah lagi mendengar pemain terlambat menerima gaji. Namun hubungan pemain dan Bonek tak lagi sedekat dulu. Ada spirit tim yang hilang. Suporter dan pemain seperti terpisah.
Manajemen Persebaya saatnya bertemu dengan komunitas-komunitas Bonek untuk menyerap keinginan mereka dan sekaligus menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di internal klub. Loyalitas Bonek tak perlu diragukan. Selama ini dengan harga tiket yang naik dan permainan Persebaya yang buruk, mereka tetap hadir di stadion. Namun suara mereka perlu didengar. Aksi protes keras yang terjadi pada Kamis malam menjadi alarm bahwa Persebaya harus mulai membangun komunikasi.
6. Berdoa dan aktivitas sosial
Salah satu kultur Persebaya adalah membangun kedekatan dengan publik melalui kegiatan sosial, seperti mengunjungi panti asuhan dan menyantuni fakir miskin setiap kali jelang pertandingan. Ini yang saya sebut sebagai aktivitas berdoa, karena sesungguhnya kegiatan tersebut sama halnya dengan membangun kekuatan spiritual. Membangun energi positif dengan semesta.
Jangan keliru. Klub-klub luar negeri rutin melakukannya. Liverpool dan Everton sering mengirimkan pemain-pemain dan staf pelatih ke rumah sakit Alderhey untuk mengunjungi anak-anak yang dirawat di sana. Bahkan mereka juga mendukung kampanye food banks untuk warga miskin. Persebaya harus lebih sering melakukannya dengan mengajak Bonek. [wir/kun]






