Muktamar Nahdlatul Ulama tidak pernah hanya dimulai ketika palu sidang diketuk. Jauh sebelum para muktamirin memasuki arena persidangan, pertarungan telah berlangsung melalui konsolidasi, silaturahmi, pembentukan poros, pemaketan calon, pemetaan suara hingga pergerakan berbagai mesin yang berdiri di belakang masing-masing kandidat.
Muktamar ke-35 NU di Jombang memperlihatkan dinamika itu dengan sangat terbuka. Setidaknya terdapat empat kekuatan yang sejak awal mewarnai konstelasi menuju kursi kepemimpinan PBNU: Gus Kikin, Gus Salam, Gus Yahya dan Gus Yusuf.
Keempatnya datang dengan modal yang berbeda, ada kandidat yang ditopang jaringan elite dan struktur yang kuat. Ada incumbent yang bergerak melalui jaringan PBNU. Ada kandidat dengan dukungan mesin politik dan tokoh-tokoh partai. Dan ada pula kandidat yang memilih jalan lebih sederhana: mengetuk pintu pesantren, bersilaturahmi kepada para kiai dan menawarkan gagasan perubahan terhadap jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Empat Mesin Mulai Bergerak
Poros pertama adalah Gus Kikin. Sejak fase konsolidasi, Gus Kikin tidak bergerak sendirian. Ia berada dalam sebuah paket besar bersama sejumlah figur yang mempunyai jaringan dan pengaruh kuat, antara lain Gus Zulfa, Gus Ipul, Nusron Wahid dan Gus Rozin. Konfigurasi tersebut membuat Gus Kikin mempunyai salah satu mesin paling komplet dalam kontestasi.
Di belakang poros ini terdapat jaringan yang mempunyai akses luas terhadap struktur PBNU, kepanitiaan Muktamar, serta komunikasi dengan berbagai simpul kekuatan. Kedekatan sejumlah figur di dalam poros tersebut dengan pemerintahan juga membuat paket Gus Kikin dipersepsikan mempunyai akses politik yang lebih luas dibandingkan kandidat lainnya.
Dengan modal paket yang begitu kompleks dan komplit, poros ini memiliki agenda besar dalam rangka suksesi memenangkan perhelatan Muktamar ke-35 NU tahun ini. Yaitu dengan mengusung paket AHWA dan Tanfidziah yang dilanjutkan dengan skema pemilihan ketua PBNU melalui musyawarah atau penunjukan AHWA.
Poros kedua adalah Gus Yahya. Sebagai incumbent, Gus Yahya mempunyai keuntungan yang tidak dimiliki kandidat lain. Selama memimpin PBNU, jaringan struktural telah terbentuk dari pusat hingga berbagai tingkatan organisasi. Mesin Gus Yahya dengan demikian adalah struktur. Relasi dengan pengurus wilayah dan cabang, komunikasi organisasi yang telah berlangsung selama masa kepemimpinannya, serta jaringan PBNU menjadi modal utama untuk mempertahankan dukungan.
Poros ketiga adalah Gus Yusuf. Berbeda dengan Gus Kikin dan Gus Yahya, kekuatan Gus Yusuf banyak dibaca melalui jaringan politik, khususnya mesin PKB dan tokoh-tokoh PKB yang mempunyai hubungan dengannya.
Mesin tersebut telah bergerak dan ikut membentuk konstelasi menjelang Muktamar. Namun perjalanan Gus Yusuf akhirnya terhenti setelah muncul aturan masa jeda satu tahun bagi calon yang berstatus atau mempunyai posisi dalam politik praktis. Aturan tersebut membuat Gus Yusuf tersingkir dari pertarungan sebelum kontestasi mencapai tahap akhir.
Kemudian terdapat poros keempat, Gus Salam. Jika tiga kandidat lainnya dapat dengan relatif mudah dipetakan mesin politiknya, kekuatan Gus Salam justru tidak terlihat sebesar mereka. Ia tidak datang sebagai incumbent, ia tidak mempunyai mesin partai, ia juga tidak berada di tengah konfigurasi elite sebesar paket yang menopang Gus Kikin.
Secara struktural, latar belakang Gus Salam bahkan terbilang sederhana. Salah satu akar pengabdiannya berada sebagai Mustasyar Ranting NU Denanyar. Tetapi justru dari kesederhanaan itulah Gus Salam membangun kekuatannya. Mesinnya adalah kiai-kiai khos, pesantren dan silaturahmi.
Pertarungan Sesungguhnya Dimulai dari AHWA
Untuk memahami bagaimana empat kekuatan tersebut bertarung, Muktamar ke-35 NU tidak dapat dibaca seperti pemilihan langsung biasa. Sebab Ketua PBNU tidak semata-mata ditentukan berdasarkan siapa yang memperoleh angka dukungan paling tinggi.
Mekanisme yang berlaku menempatkan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam posisi sangat menentukan. AHWA memilih Rais Aam, sementara dalam proses penentuan Ketua PBNU, Rais Aam mempunyai posisi yang sangat kuat, termasuk hak veto. Karena itulah, sejak awal pertarungan tidak hanya berlangsung pada perebutan dukungan terhadap kandidat Ketua PBNU. Ada medan yang bahkan lebih menentukan : AHWA.
Siapa yang masuk dalam AHWA, bagaimana konfigurasi sembilan kiai di dalamnya, dan siapa yang kemudian dipilih menjadi Rais Aam mempunyai konsekuensi besar terhadap arah penentuan Ketua PBNU. Inilah yang membuat proses menuju AHWA menjadi salah satu fase paling krusial dalam keseluruhan Muktamar.
Paket yang Telah Dibaca Sejak Awal
Bahkan sebelum Muktamar memasuki tahapan penentuan Rais Aam, telah beredar informasi di kalangan internal mengenai sebuah paket kepemimpinan. Informasi itu menyebut bahwa poros Gus Kikin membawa KH. Miftakhul Ahyar sebagai figur Rais Aam, sedangkan Gus Kikin diproyeksikan menjadi Ketua PBNU.
Dengan konstruksi tersebut, posisi AHWA menjadi sangat penting. Sebab apabila konfigurasi AHWA menghasilkan KH. Miftakhul Ahyar sebagai Rais Aam, maka jalan menuju terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua PBNU dinilai akan terbuka sangat lebar.
Bahkan dalam kalkulasi yang berkembang ketika itu, terpilihnya KH. Miftakhul Ahyar sebagai Rais Aam dianggap membuat kemungkinan Gus Kikin menjadi Ketua PBNU mencapai sekitar 90 persen. Tentu angka 90 persen tersebut bukan perhitungan matematis hasil pemungutan suara. Ia merupakan gambaran politik mengenai betapa kuatnya posisi Rais Aam dalam proses penentuan Ketua PBNU.
Pada fase inilah muncul tudingan bahwa konfigurasi AHWA telah dikondisikan untuk menguntungkan paket tertentu, dengan Gus Ipul dan Nusron Wahid disebut mempunyai peran penting di dalam proses tersebut.
Tudingan mengenai adanya “setting” AHWA tersebut merupakan klaim serius yang harus dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi. Namun keberadaan tudingan itu sendiri menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana kerasnya perebutan pengaruh terhadap AHWA selama Muktamar.
Sebab secara politik, logikanya sederhana. Jika Rais Aam menjadi salah satu kunci penentuan Ketua PBNU, maka memenangkan pertarungan menuju Rais Aam berarti telah memenangkan bagian terbesar dari pertarungan menuju Ketua PBNU.
KH. Miftakhul Ahyar Terpilih, Arah Mulai Terbaca
Momentum penting itu akhirnya datang, AHWA memilih KH. Miftakhul Ahyar sebagai Rais Aam. Bagi mereka yang sejak awal mengikuti informasi mengenai paket KH. Miftakhul Ahyar-Gus Kikin, keputusan tersebut langsung mempunyai arti politik yang besar. Satu bagian penting dari konfigurasi yang telah diperbincangkan sejak sebelum Muktamar kini benar-benar terjadi, yaitu KH. Miftakhul Ahyar berada di posisi Rais Aam.
Pada titik tersebut, pertanyaan mengenai siapa yang kemudian akan menjadi Ketua PBNU menjadi semakin mudah diprediksi. Dan pada akhirnya Gus Kikin memang terpilih memimpin Tanfidziyah PBNU.
Namun jika cerita Muktamar berhenti hanya pada siapa yang akhirnya terpilih, terdapat satu bagian penting yang justru akan terlewatkan. Yaitu peta kekuatan kandidat yang muncul selama proses Muktamar.
472, 261 dan 258
Dalam pemetaan dukungan kandidat, muncul tiga angka yang menarik, Gus Kikin: 472, Gus Salam: 261, Gus Yahya: 258. Angka tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai hasil pemilihan langsung Ketua PBNU. Keputusan akhir mengenai Ketua PBNU berada dalam mekanisme AHWA dan sangat dipengaruhi posisi Rais Aam. Namun angka tersebut tetap mempunyai arti penting, ia memperlihatkan seberapa besar kekuatan dan penerimaan yang berhasil dibangun masing-masing kandidat di tengah Muktamar.
Gus Kikin berada di posisi pertama dengan 472, dengan konfigurasi besar yang menopangnya sejak awal, angka tersebut memperlihatkan kemampuan mesin Gus Kikin mengonsolidasikan dukungan. Tapi yang justru menarik terdapat pada posisi berikutnya.
Gus Salam memperoleh 261, sementara Gus Yahya sebagai incumbent berada di angka 258. Hanya tiga angka yang memisahkan keduanya, tetapi tiga angka itu menghasilkan sebuah cerita politik yang menarik. Yakni, Gus Salam yang mampu berada di atas incumbent.
Fenomena Gus Salam
Jika Muktamar hanya dibaca berdasarkan siapa yang akhirnya menduduki kursi Ketua PBNU, nama Gus Salam mungkin hanya ditempatkan sebagai kandidat yang tidak terpilih. Tetapi jika Muktamar dibaca melalui kekuatan mesin yang bertarung, ceritanya menjadi sangat berbeda.
Sebab dari empat poros yang bergerak, Gus Salam dapat dikatakan mempunyai mesin formal yang paling sederhana. Bandingkan satu per satu, Gus Kikin datang bersama sebuah paket besar dan jaringan figur berpengaruh, Gus Yahya mempunyai struktur PBNU sebagai incumbent, Gus Yusuf mempunyai jaringan politik dan tokoh-tokoh PKB sebelum akhirnya tersingkir akibat aturan masa jeda.
Sementara Gus Salam? Ia datang melalui pesantren, ia mendatangi para kiai, ia membangun silaturahmi, dan ia membawa gagasan mengenai perubahan serta rekonstruksi jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Tidak ada mesin struktur pusat yang dapat diandalkan, tidak ada jaringan partai yang menjadi tulang punggung, tidak ada konfigurasi elite sebesar yang dimiliki poros lain. Namun mesin sederhana tersebut menghasilkan 261 dukungan.
Kekuatan yang Tidak Terlihat
Jawabannya barangkali berada pada sesuatu yang sering luput ketika NU dibaca hanya melalui perspektif politik organisasi, Nahdlatul Ulama bukan sekadar struktur. Ada PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting. Tetapi jauh sebelum struktur organisasi itu tumbuh sebesar sekarang, NU telah hidup melalui pesantren, kiai, santri dan hubungan guru-murid.
Ketika Silaturahmi Menjadi Mesin
Dalam politik modern, sebuah mesin pemenangan biasanya identik dengan struktur, tim sukses, logistik, jaringan komunikasi dan organisasi yang rapi. Dalam kultur pesantren, mesin dapat bekerja dengan cara berbeda. Satu kunjungan kepada seorang kiai terkadang mempunyai arti lebih besar daripada sebuah deklarasi politik.
Satu percakapan di ndalem pesantren dapat membuka pintu komunikasi dengan jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah. Dan sebuah kepercayaan yang lahir dari hubungan personal tidak selalu dapat dipindahkan hanya melalui instruksi struktural.
Rekonsiliasi Total, satu wacana sekaligus gagasan yang selalu dibawa oleh Gus Salam pada setiap forum-forum silaturahmi yang ia lakoni. Wacana sederhana namun begitu kuat dan menyentuh persoalan mendasar yang sedang terjadi di tubuh Nahlatul Ulama saat ini.
Oleh karena hal itu, dalam perjalanan perjuangannya Gus Salam selalu tidak pernah berhenti untuk menyampaikan pesan sederhana tersebut. Ia mengajak para kiyai dan pesantren untuk kembali mengkonsolidasikan NU, mengajak dan merangkul akar rumput untuk membawa visi kemajuan bagi Nahdlatul Ulama.
Wacana yang sarat dengan visi kemajuan NU itu semakin kuat saat disandingkan dengan figurnya yang begitu sederhana sebagai pengasuh Ponpes Mamba’ul Ma’arif sekaligus seorang keturunan muassis Nahdlatul Ulama, KH. Bisri Syansuri.
Kemudian fakta bahwa Gus Salam pernah dipecat dari posisinya sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur karena sebab politik yang sarat kepentingan juga tidak membuatnya berhenti untuk mengabdi pada NU dan jamaah. Ia tetap melaksanakan dakwah-dakwah keislaman bahkan merelakan nama besarnya untuk duduk sebagai Mustayar Ranting NU Denanyar.
Pengabdiannya di Nahdlatul Ulama dan Pesantren itulah yang menjadi kekuatan konsolidasi Jamiyyah Nahdlatul Ulama untuk kembali kepada akar rumput, gerakkan tradisional Jamiyyah NU, sebagaimana yang telah dilakukan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang notabene adalah kakak sepupu dari Gus Salam
Empat Mesin, Empat Cara Membaca NU
Pada akhirnya, Muktamar ke-35 NU mempertemukan empat cara membangun kekuatan. Gus Kikin memperlihatkan kekuatan sebuah paket besar, jaringan elite dan konsolidasi yang terstruktur. Gus Yahya memperlihatkan kekuatan jaringan struktural seorang incumbent. Gus Yusuf memperlihatkan kekuatan jaringan politik dan tokoh-tokoh partai, meskipun langkahnya kemudian terhenti oleh aturan masa jeda. Sedangkan Gus Salam memperlihatkan kekuatan kultural pesantren.
Keempatnya bergerak, keempatnya melakukan konsolidasi, tetapi mereka menggunakan kendaraan yang berbeda. Dan ketika seluruh proses itu bertemu di arena Muktamar, terlihat bahwa struktur, politik dan jaringan elite memang mempunyai kekuatan besar. Namun semuanya bukan satu-satunya kekuatan yang hidup di tubuh Nahdlatul Ulama.
Muktamar dan Pesan dari 261 Dukungan
Gus Kikin akhirnya terpilih menjadi Ketua PBNU setelah sebelumnya AHWA memilih KH. Miftakhul Ahyar sebagai Rais Aam. Dari perspektif hasil akhir, cerita Muktamar dapat berhenti sampai di sana. Tetapi dari perspektif dinamika politik NU, ada cerita lain yang tidak kalah penting.
Cerita tentang 261 dukungan Gus Salam, seorang kandidat dengan latar struktural sederhana, tanpa mesin partai dan tanpa konfigurasi elite sebesar pesaingnya, mampu menempati ranking kedua dalam peta kekuatan. Ia bahkan mampu berada sedikit di atas incumbent, pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa di tengah semakin kompleksnya politik organisasi NU, pesantren belum kehilangan suaranya.
Para kiai masih mempunyai pengaruh, silaturahmi masih mempunyai daya konsolidasi dan gagasan mengenai perubahan jam’iyyah masih menemukan pendengarnya. Karena itu, barangkali salah satu pelajaran paling penting dari Muktamar ke-35 NU bukan hanya mengenai siapa yang akhirnya menang. Tetapi mengenai bagaimana kemenangan dibangun dan bagaimana sebuah kekuatan dapat lahir tanpa mesin yang terlihat besar.
AHWA memperlihatkan betapa pentingnya konfigurasi elite dalam menentukan arah kepemimpinan, struktur memperlihatkan kekuatannya, jaringan politik menunjukkan pengaruhnya, tetapi Gus Salam memperlihatkan sisi lain Nahdlatul Ulama.
Bahwa ada kekuatan yang tidak selalu berada di kantor PBNU, tidak selalu berada di lingkaran kekuasaan, tidak selalu datang dari struktur politik. Kekuatan itu hidup di pesantren-pesantren, di ndalem para kiai, dalam jaringan santri dan alumni, serta dalam tradisi silaturahmi yang telah menjadi napas Nahdlatul Ulama selama puluhan tahun.
Gus Salam memang tidak berakhir sebagai Ketua PBNU, tetapi Muktamar ke-35 NU menunjukkan bahwa dengan kiai, pesantren, silaturahmi dan gagasan perubahan sebagai mesin utamanya, ia mampu berdiri sebagai kekuatan kedua di tengah pertarungan mesin-mesin besar.
M. Romdoni,
Ketua Gerakan Pemuda Anshor Kota Blitar






